Buka konten ini

KARIMUN (BP) – Minyak goreng (migor) bersubsidi merek Minyakita kembali sulit ditemukan di Kabupaten Karimun. Produk yang memiliki harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter itu sudah tidak lagi terlihat dijual di sejumlah swalayan maupun warung di Tanjungbalai Karimun.
Sebaliknya, yang tersedia di pasaran hanya minyak goreng nonsubsidi dengan harga berkisar Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per liter.
Haris, pedagang di kawasan Kelurahan Tanjungbalai Kota, Kecamatan Karimun, mengaku sudah cukup lama tidak mendapatkan pasokan Minyakita.
”Saya sudah lama tidak jual Minyakita karena memang barangnya tidak ada. Sekarang yang tersedia hanya minyak goreng kemasan 800 mililiter seharga Rp19 ribu dan kemasan satu liter sekitar Rp22 ribu,” ujarnya kepada Batam Pos, Minggu (28/6).
Kelangkaan Minyakita membuat masyarakat kembali beralih ke minyak goreng nonsubsidi meski harus membayar dengan harga lebih tinggi.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Ashariyanti Pratimi, mengatakan pihaknya tengah mengupayakan tambahan pasokan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Karimun.
Ia menyebutkan, pada awal Juli 2026 Bulog akan menyalurkan sekitar 9.600 liter atau 9,6 ton Minyakita ke wilayah Kabupaten Karimun.
”Insyaallah awal Juli wilayah Kabupaten Karimun akan mendapatkan pasokan 9.600 liter Minyakita. Pendistribusian diprioritaskan untuk pedagang dan pengecer di pasar serta dipantau melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP),” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Karimun, Basori, mengatakan pola distribusi Minyakita kini akan langsung dilakukan Bulog kepada pengecer di pasar rakyat.
Langkah tersebut bertujuan memangkas rantai distribusi agar harga jual tetap sesuai HET dan mencegah praktik pengambilan keuntungan yang berlebihan.
”Hal ini bertujuan memutus mata rantai distribusi dari distributor ke pengecer sehingga tidak terjadi aksi ambil untung. Pengecer yang menjual Minyakita seharga Rp15.700 per liter tetap memperoleh keuntungan karena harga beli dari Bulog berada di bawah HET,” jelas Basori.
Menurutnya, kebutuhan minyak goreng di Kabupaten Karimun mencapai sekitar 240 ton setiap bulan atau rata-rata 60 ton per pekan. Sebagian besar permintaan berasal dari Pulau Karimun yang memiliki jumlah penduduk paling banyak.
Basori mengakui masyarakat cenderung memilih Minyakita karena harganya lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng nonsubsidi. Karena itu, pemerintah daerah berencana mengusulkan penambahan kuota pasokan kepada Bulog.
”Kami akan mengajukan tambahan pasokan untuk bulan depan. Harapannya jumlah yang dikirim bisa lebih dari 9,6 ton agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi,” pungkasnya. (***)
Reporter : Sandi Pramosinto
Editor : Putut Ariyo