Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Setelah sempat sulit ditemukan di sejumlah ritel, ribuan dus minyak goreng merek Minyakita akhirnya mulai kembali masuk ke wilayah Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan secara bertahap. Total sebanyak 8.800 dus produk tersebut telah tiba untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
Asosiasi Distributor Bahan Pokok (Adibapok) Tanjungpinang-Bintan menyebut, kelangkaan Minyakita sebelumnya terjadi akibat pemotongan alokasi dari pabrik hingga 50 persen. Kondisi itu dipicu kendala teknis berupa gangguan listrik di Medan yang berdampak pada produksi.
Selain itu, keterlambatan distribusi juga dipengaruhi lamanya proses muat kapal yang mencapai dua hingga tiga minggu, sehingga memperlambat arus pasokan ke daerah.
“Kita langsung koordinasi dengan Pemprov Kepri untuk dispensasi penambahan kuota angkut,” kata Ketua Adibapok Tanjungpinang-Bintan, M. Sadmi Al Qayum, Selasa (23/6).
Setelah dilakukan koordinasi, pihaknya mendapatkan penambahan kuota angkut, sehingga distribusi kembali berjalan dan pasokan mulai normal.
Ia menjelaskan, sebanyak 8.800 dus Minyakita telah tiba di Pelabuhan Kijang, Bintan. Sebagian stok tersebut langsung didistribusikan ke ritel di Tanjungpinang, Bintan, hingga Karimun dan Lingga.
“Barang sudah masuk gudang. Sebenarnya sudah tiba sejak Sabtu, tetapi sempat terkendala hujan saat proses bongkar muat,” ujarnya.
Saat ini, pihak distributor menegaskan fokus utama adalah menjaga stabilitas harga di pasaran agar tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kalau ada harga di atas HET, masyarakat diimbau untuk melapor,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Tanjungpinang, Riany, mengatakan kelangkaan Minyakita tidak hanya terjadi di daerah tersebut, tetapi juga di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi beberapa faktor, termasuk kenaikan harga bahan baku kemasan plastik serta adanya sejumlah produsen Minyakita yang kontrak produksinya tidak diperpanjang oleh pemerintah pusat.
“Keterbatasan ini bukan hanya di Tanjungpinang, tetapi se-Indonesia,” pungkasnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY