Buka konten ini
CAPAIAN Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang menempati posisi ketiga nasional dalam nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang sekolah dasar mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Namun, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pendidikan yang merata di seluruh wilayah Kepri.
Pengamat pendidikan Kota Batam, Fendi Hidayat, mengatakan hasil tersebut merupakan kabar baik bagi dunia pendidikan di Kepri. Ia menilai, sebagai pusat pendidikan dan ekonomi, Kota Batam memberikan kontribusi besar terhadap capaian tersebut.
“Capaian Kepulauan Riau yang berada di posisi ketiga nasional dalam nilai TKA SD tentu menjadi kabar baik, dan Batam sebagai pusat pendidikan serta ekonomi di Kepri memiliki kontribusi besar terhadap capaian tersebut,” ujarnya, Jumat (29/5).
Meski demikian, Fendi menegaskan hasil TKA tidak dapat langsung dijadikan indikator bahwa kualitas pendidikan di Kepri telah merata. Menurutnya, TKA hanya mengukur sebagian aspek kemampuan akademik siswa.
“Hasil ini belum bisa langsung disimpulkan sebagai gambaran bahwa kualitas pendidikan sudah merata. TKA hanya mengukur sebagian kemampuan akademik siswa, sementara kualitas pendidikan juga ditentukan oleh pemerataan mutu sekolah, kualitas guru, kemampuan berpikir kritis, karakter, dan akses pendidikan yang setara,” katanya.
Fendi yang juga Ketua Dewan Pendidikan Batam menyoroti masih rendahnya capaian nilai Matematika dibanding Bahasa Indonesia sebagai indikator bahwa penguatan pembelajaran numerasi di tingkat sekolah dasar masih perlu ditingkatkan.
Ia menjelaskan, selama ini pembelajaran matematika di banyak sekolah masih cenderung berorientasi pada hafalan rumus dan penyelesaian soal rutin.
Kondisi tersebut membuat siswa kurang terlatih dalam membangun logika, analisis, dan kemampuan pemecahan masalah.
“Akibatnya, banyak siswa mampu menjawab soal rutin tetapi belum kuat dalam pemahaman konsep numerasi,” ujarnya.
Fendi menilai tantangan pendidikan di Batam dan Kepri cukup kompleks, terutama karena pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan pemerataan kualitas sekolah dan tenaga pendidik.
Ia mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Batam, dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pembangunan sarana, digitalisasi pembelajaran, hingga peningkatan kualitas sekolah.
“Kami mengapresiasi berbagai langkah dan program Pemerintah Kota Batam dalam mendorong pemerataan kualitas pendidikan. Upaya tersebut menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas pendidikan di tengah pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat,” katanya.
Namun demikian, ia menilai Batam masih menghadapi kekurangan tenaga pendidik, terutama guru dengan kompetensi kuat di bidang numerasi, sains, dan pembelajaran berbasis teknologi.
Karena itu, ia mendorong adanya penambahan guru yang kompeten serta peningkatan kapasitas guru yang sudah ada agar kualitas pendidikan dapat tumbuh lebih merata di seluruh wilayah.
Selain itu, Fendi juga mengingatkan adanya potensi ketimpangan kualitas pendidikan antara sekolah unggulan di pusat kota dengan sekolah di wilayah penyangga dan hinterland atau pulau-pulau sekitar.
“Pekerjaan rumah terbesar pendidikan Batam setelah capaian ini adalah memastikan pemerataan kualitas pembelajaran, khususnya dalam penguatan numerasi dan kualitas guru,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil TKA sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai capaian angka, tetapi sebagai alat evaluasi dan pemetaan kebijakan pendidikan.
“Ke depan, hasil TKA sebaiknya dijadikan alat evaluasi dan pemetaan kebijakan pendidikan, bukan sekadar target angka, agar pendidikan di Batam benar-benar mampu menghasilkan generasi yang kritis, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tutupnya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GUSTIA BENNY