Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di tengah meningkatnya tren penggunaan tote bag sebagai bagian dari gaya hidup praktis dan ramah lingkungan, para pengrajin UMKM di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur yang tergabung dalam Koperasi Intako (Industri Tas dan Koper) menghadirkan tas kanvas bergaya kasual yang dirancang untuk mendukung aktivitas harian sekaligus mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai.
Dengan desain elegan dan modern, totebag ini menyasar konsumen muda, termasuk generasi Gen Z, yang kini semakin terbiasa menggunakan totebag dalam aktivitas sehari-hari.
”Tote bag ini bisa multi fungsi, selain dapat digunakan sebagai kantong belanja sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi juga sangat mungkin untuk digunakan aktivitas sehari-hari karena desainnya stylish sehingga sangat cocok digunakan untuk keperluan tas kuliah, kerja atau digunakan untuk fashion santai, ” kata Corporate Communication Manager Lawson Indonesia, Firly Firlandi, Rabu (20/5). Pihaknya juga menggandeng mereka untuk gerakan kegiatan ramah lingkungan dan pemberdayaan UMKM.
Melalui kolaborasi ini, pihaknya juga ingin mengedukasi masyarakat bahwa menggunakan Totebag Lawson, berarti turut membantu pertumbuhan ekonomi UMKM lokal.
“Ketika membeli dan menggunakan tas ini, masyarakat bukan hanya ikut menjaga lingkungan, tetapi juga ikut membantu perekonomian teman-teman UMKM di Tanggulangin,” jelas Firly.
Sementara itu Ketua Koperasi Intako, Zaenul Arifin mengatakan, proses produksi Tote bag dilakukan melalui tahapan yang ketat dan detail. Dimulai dari pembuatan pola desain yang terlebih dahulu melalui proses pemeriksaan dan approval. Setelah disetujui, pola dipotong oleh tenaga ahli spesialis pemotongan pola. Beberapa bagian kemudian melewati proses pembordiran menggunakan teknik khusus, terutama karena material kanvas membutuhkan keterampilan tersendiri dalam proses bordir.
Membuat tas bukan hanya soal produksi, tetapi juga bentuk karya seni yang membutuhkan keterampilan dan sentuhan keahlian khusus. “Bikin tas itu kayak bikin karya seni. Membuat tas membutuhkan skill dan sentuhan seni dalam setiap prosesnya,” ujar Zaenul Arifin.
Selanjutnya, potongan pola diberikan kepada pengrajin yang khusus menangani proses penjahitan. Setelah tas selesai dijahit, produk kembali menjalani pemeriksaan kualitas secara menyeluruh untuk memastikan hasil jahitan rapi dan memenuhi standar mutu sebelum akhirnya dikemas. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI