Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Nilai tukar rupiah terus melemah dengan bergerak 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp 17.630 per dolar AS pada Senin (18/5) pagi dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS. Kurs Rupiah bahkan semakin anjlok pada Senin siang hingga di level Rp 17.671 per dolar AS.
Hal ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat karena dampaknya yang begitu banyak. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menjelaskan pelemahan rupiah ini akan terus berlangsung akibat dari ketidakpercayaan pada kebijakan dalam negeri, terutama kebijakan fiskal dan anggaran. Masyarakat sendiri akan terdampak, seperti krisis pada biaya hidup.
”Karena semua barang yang kita pakai ini juga terpengaruh dari pelemahan nilai tukar. Mulai dari kosmetik, kendaraan bermotor, elektronik, sampai bahan pangan. Itu semua akan terpengaruh oleh rentetan pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Bhima saat dihubungi JawaPos.com, Senin (18/5).
Terlebih, menurutnya, pelemahan rupiah sangat fluktuatif. Hari ini sendiri telah berada di level Rp17.630 per dolar AS, pada Senin pagi, yang menandakan sudah 7 persen lebih melemahnya dalam kurun waktu 1 tahun terakhir.
Bhima juga menyoroti pelemahan rupiah ini akan membuat efek domino yakni PHK pada berbagai sektor. Pasalnya, biaya impor bahan baku dan logistik akan meningkat.
”Maka industri akan mengurangi kapasitas produksinya dan menyebabkan mereka untuk melakukan PHK. Itu yang dikhawatirkan,” jelasnya.
Dia pun berpesan kepada masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi skenario terburuk. Yang pertama dengan mempersiapkan dana darurat 30-40 persen dari total penghasilan.
”Ini misalkan penghasilannya Rp5 juta, berarti Rp2,5 juta itu harus ada di rekening yang terpisah. Sehingga begitu kehilangan pekerjaan, begitu gajinya kemudian tidak dibayarkan karena ada masalah perusahaan, mereka masih bisa bertahan hidup. Jadi dimohon untuk mempersiapkan dana darurat,” ungkap dia.
Yang kedua, masyarakat dimintanya untuk tak tergoda melakukan pembelian barang-kebutuhan tersier, melainkan hanya untuk gaya hidup.
”Sekarang ini muncul fenomena lipstick effect, karena tekanan ekonomi, akhirnya belanja konser, belanja lipstick, skincare, dan belanja barang-barang untuk hiburan itu naik. Tapi ini kan sebenarnya pengeluaran yang harusnya bisa ditunda dulu. Apalagi kalau membayar pengeluaran-pengeluaran tadi, belanja pengeluaran tersier tadi dengan utang, dengan pinjol. Ini jangan ya,” tegas Bhima.
Yang ketiga yakni masyarakat diminta untuk memperkuat solidaritas, harus saling membantu kebutuhan dan harus mengecek siapa diantara saudara-saudara ataupun tetangga yang memerlukan bantuan dengan segera.
Sebab, Bhima berpendapat untuk menghadapi situasi seperti sekarang ini, banyak yang akan kehilangan pekerjaan atau pendapatannya turun tajam. ”Nah yang keempat, saya sarankan buat masyarakat ini untuk memegang cash. Jadi, cash is the king. Karena kebutuhan yang mendadak, ketika ada sudden shock atau tekanan yang hebat, dia masih punya cash. Jadi, jangan berinvestasi ke instrumen-instrumen yang tidak likuid untuk saat ini,” tukas dia. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI