Buka konten ini

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga; Ketua Divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di LPEP FEB Universitas Airlangga
FENOMENA panic buying elpiji 3 kg di sejumlah wilayah Jawa Timur menunjukkan perilaku ekonomi masyarakat yang tidak selalu berjalan rasional. Dalam kondisi normal, konsumsi energi rumah tangga relatif stabil. Namun, ketika muncul isu kelangkaan, masyarakat cenderung membeli elpiji melebihi kebutuhan, bahkan untuk disimpan. Tindakan itu mempercepat habisnya stok di tingkat pengecer dan menimbulkan tekanan psikologis di tengah masyarakat.
Dalam perspektif ekonomi perilaku, panic buying merupakan respons atas ketidakpastian ketika masyarakat merasa akses terhadap kebutuhan pokok terancam.
Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena herd behavior, yaitu kecenderungan individu mengikuti tindakan orang lain tanpa pertimbangan mendalam. Ketika sebagian masyarakat mulai membeli dalam jumlah besar, kelompok lain ikut melakukan hal serupa karena takut tidak kebagian.
Dampak
Kelompok paling terdampak panic buying elpiji adalah masyarakat dengan keterbatasan akses dan daya beli. Ketika stok di tingkat pengecer menipis, mereka sulit memperoleh elpiji. Padahal, kebutuhan energi rumah tangga mereka bersifat rutin dan mendesak.
Panic buying juga memberikan tekanan pada pelaku usaha yang bergantung pada elpiji sebagai input produksi, terutama pelaku usaha kuliner. Ketika permintaan melonjak, pasokan di pasar terganggu. Akibatnya, produksi dapat terhambat dan biaya operasional berpotensi meningkat.
Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya literasi ekonomi dan kesadaran sosial dalam masyarakat. Jika masyarakat bertindak lebih rasional, kelangkaan dapat diminimalkan. Panic buying juga mencerminkan benturan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Dalam masyarakat dengan tingkat kepercayaan rendah, individu cenderung lebih mementingkan diri sendiri.
Substitusi
Di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap elpiji, Jawa Timur sebenarnya memiliki potensi energi alternatif yang besar. Salah satunya melalui pengolahan kotoran sapi (feses) menjadi biogas.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Jawa Timur merupakan wilayah dengan jumlah sapi terbesar, yaitu 297.927 ekor sapi potong dan 3.617.392 ekor sapi perah. Karena itu, ketersediaan feses sebagai bahan baku sangat melimpah.
Melalui proses fermentasi anaerob di dalam digester, feses dapat menghasilkan gas metana yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga. Energi tersebut dapat menjadi substitusi elpiji, terutama di kawasan yang terdapat koperasi peternakan sapi.
Berdasar hasil indepth interview dalam penelitian Purmiyati (2026), anggota koperasi peternakan di Malang Raya telah memanfaatkan feses sapi menjadi sumber energi alternatif. Apabila anggota koperasi membangun reaktor biogas berkapasitas 8 m3 dengan total investasi sekitar Rp 12.000.000, sebanyak 50 persen biaya pembangunan memperoleh subsidi dari mitra koperasi, sedangkan 50 persen sisanya dibiayai melalui skema kredit yang diberikan koperasi.
Melalui dukungan tersebut, anggota yang memiliki keterbatasan modal tetap bisa membangun instalasi biogas dan meningkatkan produktivitas usaha. Selain itu, koperasi berperan sebagai lembaga pendamping yang menghubungkan peternak dengan program subsidi, pelatihan teknis, serta pengawasan penggunaan dana.
Instalasi reaktor biogas memanfaatkan feses dari 2 ekor sapi besar dan 2 ekor sapi dara. Setiap hari, satu ekor sapi besar menghasilkan 30–35 kg feses, sedangkan satu ekor sapi dara menghasilkan sekitar 12 kg sehingga total feses mencapai 84 kg per hari.
Di dalam digester, bahan organik mengalami proses fermentasi anaerob oleh aktivitas bakteri tanpa oksigen sehingga menghasilkan gas metana yang bisa dipakai untuk bahan bakar. Gas yang terbentuk selanjutnya dialirkan melalui pipa penampungan sebagai bahan bakar memasak rumah tangga.
Dari sisi manfaat ekonomi, kapasitas produksi biogas tersebut mampu memenuhi kebutuhan memasak dua rumah tangga yang masing-masing beranggota 4–6 orang. Sebelum menggunakan biogas, setiap rumah tangga rata-rata menghabiskan 4 tabung elpiji 3 kg per bulan. Dengan harga Rp23.000 per tabung, total pengeluaran dua rumah tangga mencapai Rp 184.000 per bulan.
Setelah memanfaatkan biogas, kebutuhan elpiji turun menjadi 1 tabung per rumah tangga per bulan. Dengan demikian, total pengeluaran menjadi Rp46.000 per bulan untuk dua rumah tangga. Artinya, terdapat penghematan Rp138.000 per bulan untuk dua rumah tangga atau sekitar Rp69.000 per rumah tangga.
Model pembiayaan koperasi seperti itu menunjukkan bahwa koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi juga sebagai motor transformasi energi dan pemberdayaan ekonomi anggota.
Biogas memiliki banyak manfaat ekonomi maupun lingkungan bagi masyarakat. Pertama, biogas mengurangi ketergantungan rumah tangga terhadap elpiji. Kedua, pengolahan limbah ternak membantu mengatasi persoalan bau, pencemaran lingkungan, serta emisi gas rumah kaca.
Ketiga, sisa hasil fermentasi anaerob berupa slurry memiliki nilai ekonomi karena bisa dijual atau dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Kondisi itu menciptakan siklus ekonomi sirkular yang menghubungkan peternakan, energi, dan pertanian secara berkelanjutan. (*)