Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan komersial di Tangerang, khususnya Paramount Gading Serpong, berkembang semakin pesat. Aktivitas bisnis tidak lagi sekadar mengikuti pertumbuhan kawasan, tetapi mulai membentuk karakter kota modern yang hidup dan dinamis.
Di sejumlah koridor utama yang terhubung dengan kawasan hunian, berbagai usaha seperti kafe, restoran, hingga layanan kebutuhan harian tumbuh berdampingan. Kondisi ini menciptakan aktivitas ekonomi yang berlangsung hampir sepanjang hari.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya populasi dan mobilitas masyarakat. Kawasan yang memiliki akses mudah dan dikelilingi hunian aktif kini menjadi incaran pelaku usaha.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan sektor ritel masih berkembang positif, terutama pada bisnis food and beverage (F&B) serta lifestyle di kawasan dengan lalu lintas pengunjung yang tinggi.
“Tenant F&B dan lifestyle masih menjadi penggerak utama, khususnya di lokasi yang sudah memiliki basis pengunjung yang kuat,” ujarnya dilansir propertynbank.
Hal serupa disampaikan Martin Samuel Hutapea dari LEADS Property. Menurut dia, pertumbuhan kawasan hunian ikut mendorong kebutuhan ruang usaha yang dekat dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Kedekatan dengan konsumen menjadi kunci utama. Berbagai usaha seperti kuliner, laundry, hingga ritel harian tumbuh karena berada di jalur aktivitas warga,” katanya.
Data pasar menunjukkan tingkat penyerapan ruang usaha di Tangerang mencapai sekitar 93 persen dalam setahun terakhir. Sementara segmen harga Rp2 miliar hingga Rp5 miliar menjadi yang paling diminati pasar.
Fenomena tersebut terlihat jelas di Paramount Gading Serpong. Kawasan komersial di wilayah ini berkembang menjadi pusat aktivitas baru yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Willy, pelaku usaha kuliner di kawasan Maggiore, menilai Paramount Gading Serpong memiliki pasar yang luas dan terus berkembang.
“Kawasan ini sudah hidup. Konsumen datang tidak hanya dari Gading Serpong, tetapi juga dari BSD, Alam Sutera, bahkan luar Jabodetabek,” ujarnya.
Direktur Paramount Land, Chrissandy Dave, menjelaskan perkembangan kawasan tersebut merupakan hasil proses panjang sejak mulai dikembangkan pada 2006.
“Setiap tahap pembangunan dilakukan dengan memperhatikan perencanaan, administrasi, serta pengelolaan kawasan agar dapat berkembang secara berkelanjutan,” katanya.
Menurut dia, pengembangan kawasan dilakukan secara bertahap, mulai dari legalitas lahan, penataan kawasan, hingga penyediaan fasilitas pendukung dan ruang terbuka.
Pendekatan tersebut membuat kawasan tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga tetap terarah dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
Saat ini, Gading Serpong telah bertransformasi menjadi kota mandiri dengan ekosistem yang semakin lengkap. Lebih dari 120.000 penduduk non-komuter kini tinggal di dalam kawasan, tersebar di puluhan klaster hunian yang terus berkembang.
Fasilitas kota pun tumbuh mengikuti kebutuhan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pusat komersial dan lifestyle. Pola ini menciptakan integrasi aktivitas, di mana warga dapat tinggal, bekerja, dan beraktivitas dalam satu kawasan.
Kondisi tersebut turut mendorong pertumbuhan kawasan komersial, khususnya di sisi selatan Gading Serpong. Area seperti Pisa Grande–Sorrento, Maggiore, Aniva, hingga Manhattan District berkembang menjadi pusat bisnis baru yang aktif.
Menjawab kebutuhan tersebut, Paramount Land menghadirkan Pasadena Central District, kawasan terpadu seluas sekitar 40 hektare yang mengintegrasikan hunian dan komersial. Di dalamnya terdapat pengembangan seperti Grand Pasadena Village dan Altadena Residences yang telah terserap pasar, serta area komersial Pasadena Square sebagai bagian dari ekspansi bisnis.
“Terbaru, pengembangan berlanjut dengan hadirnya Pasadena Square South yang mengusung konsep 10-minute city living, di mana berbagai kebutuhan dapat dijangkau dalam waktu singkat. Area ini dirancang untuk memperluas pilihan usaha dan mendukung pertumbuhan bisnis, dengan keunggulan lokasi yang dikelilingi captive market besar dan aktif,” ujar Chrissandy.
Lokasinya yang berada di koridor strategis dengan lalu lintas tinggi memberikan eksposur optimal bagi pelaku usaha. Kombinasi antara hunian aktif, aksesibilitas, dan traffic yang kuat menjadi faktor utama yang mendorong daya tarik kawasan ini.
“Pada akhirnya, perkembangan Paramount Gading Serpong menunjukkan satu hal: kawasan komersial yang sukses bukan hanya soal bangunan, tetapi tentang ekosistem. Ketika hunian, bisnis, dan aktivitas masyarakat tumbuh bersama, kawasan tidak hanya berkembang, tetapi hidup,” pungkas Chrissandy. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI