Buka konten ini

BATAM (BP) – Lonjakan arus migrasi ke Batam kian terasa. Dalam kurun sekitar empat bulan, jumlah pendatang tercatat menembus 17 ribu jiwa. Angka ini menempatkan Batam sebagai salah satu daerah dengan arus perpindahan penduduk tertinggi di Indonesia.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan tanpa pengendalian yang terukur. Pemerintah, kata dia, kini menitikberatkan langkah pada penataan administrasi kependudukan sebagai fondasi kebijakan.
“Sehingga harus ada upaya pengendalian. Salah satunya melalui penertiban administrasi kependudukan,” ujarnya.
Menurut Amsakar, lonjakan penduduk tidak hanya berdampak pada kepadatan kota, tetapi juga berimbas pada berbagai persoalan lain—mulai dari meningkatnya volume sampah, potensi kenaikan angka kemiskinan, hingga tekanan pada lapangan kerja.
Di tengah derasnya urbanisasi, Pemko Batam kini mengubah pendekatan. Fokus tidak lagi sekadar mencatat jumlah pendatang, melainkan memastikan seluruh kebijakan berbasis data yang akurat.
“Volume kedatangan ini menunjukkan tekanan yang harus kita kelola dengan baik,” katanya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah kini menggunakan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai rujukan utama, menggantikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Sistem ini dinilai lebih detail dalam memetakan kondisi masyarakat.
Melalui DTSEN, warga dikelompokkan dalam beberapa desil. Kelompok prioritas penerima bantuan berada pada desil 1 hingga 5.
“DTSEN ini lebih detail, sehingga bantuan bisa lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Dampaknya mulai terlihat. Jumlah penerima bantuan mengalami penyesuaian, termasuk peningkatan jumlah lansia penerima bantuan yang kini mencapai sekitar 4.000 orang. Namun, ada pula warga yang sebelumnya menerima bantuan, kini tidak lagi masuk kategori prioritas.
Untuk memastikan ketepatan data, Disdukcapil Batam tengah melakukan pemutakhiran secara menyeluruh, mulai dari kelompok usia produktif hingga lansia.
“Sekarang sedang dilakukan pemilahan data agar kebijakan ke depan lebih tepat,” ujar Amsakar.
Ia menegaskan, tanpa data yang akurat, kebijakan berpotensi meleset dari sasaran.
Selain pembenahan data, Pemko juga menurunkan tim lintas sektor ke lapangan. Tim ini menangani berbagai aspek, mulai dari lingkungan, kesehatan, hingga penguatan administrasi kependudukan.
Di sisi lain, Amsakar mengingatkan para pendatang agar datang ke Batam dengan kesiapan, terutama dari sisi keterampilan kerja.
“Mikir-mikir juga mau ke Batam. Kalau mau datang, lengkapi diri dengan skill,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat menjaga suasana tetap kondusif di tengah dinamika urbanisasi yang terus meningkat.
“Ayo kita maknai Batam ini sebagai rumah kita bersama,” tutupnya. (*)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK