Buka konten ini

BINTAN (BP) – Usia Kim Leng nyaris seabad. Namun, hari-harinya justru dihabiskan dalam kesunyian sendirian di rumah reyot yang setiap saat terancam ambruk di Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong.
Rumah yang ditempatinya jauh dari kata layak. Sejumlah tiang kayu dipasang seadanya untuk menopang plafon yang sudah rusak. Di beberapa bagian, atap rumah berlubang, membuat air hujan mudah masuk. Bahkan, bagian dapur sudah tak lagi memiliki atap.
Saat ditemui belum lama ini, Kim Leng terlihat terbaring di kasur tipis. Ia kemudian terbangun perlahan, mencoba menyambut tamu dengan kondisi fisik yang mulai renta.
Dengan suara lirih dan pendengaran yang mulai menurun, Kim Leng menceritakan dirinya telah tinggal di kawasan tersebut selama sekitar 30 tahun. Sebelumnya, ia bersama sang istri menetap di kawasan Lagoi sebelum akhirnya mendapatkan ganti rugi pada 1990-an.
“Setelah diganti rugi, kami dapat lahan di sini,” ujarnya pelan. Kini, ia harus menjalani hari tua seorang diri setelah istrinya meninggal dunia. Sesekali, anak perempuannya yang tinggal di Lome, Kecamatan Toapaya, datang mengantarkan makanan.
“Saya mau ke sana, tapi tidak punya uang,” katanya.
Di sisa usianya, Kim Leng hanya berharap bisa tinggal di rumah yang lebih layak dan aman. Kondisi ini mengundang keprihatinan warga sekitar. Susanto, salah seorang warga, mengatakan Kim Leng sudah lama tinggal di lokasi tersebut, meski lahan yang ditempati sebenarnya telah dijual kepada pihak lain.
“Pemilik lahan masih berbaik hati membolehkan Kim Leng tinggal di sana,” ujarnya.
Menurut Susanto, upaya membantu perbaikan rumah terkendala status lahan. Bantuan bedah rumah hanya bisa dilakukan jika mendapat izin dari pemilik.
“Mudah-mudahan bisa dibantu,” harapnya.
Sekretaris Desa Sebong Lagoi, Ariadi, mengakui pihak desa sangat peduli dengan kondisi Kim Leng. Namun, status lahan dan rumah yang bukan milik Kim Leng menjadi kendala utama. “Jadi, beliau di sana hanya menumpang,” jelas Ariadi, Senin (27/4).
Ia mengatakan, pihak desa telah berkoordinasi dengan warga dan keluarga Kim Leng. Bahkan, sejumlah pihak sudah bersedia menyumbangkan material bangunan.
“Kemarin sempat akan dikerjakan. Ada yang mau menyumbang asbes, dari desa juga siap membantu kayu. Pak RT juga sudah berkoordinasi dengan pemilik lahan. Hanya saja, pemilik berencana menjual kembali lahan dan rumah itu,” terangnya. Koordinasi dengan BPBD Bintan juga pernah dilakukan. Namun, bantuan sulit direalisasikan karena status kepemilikan rumah. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY