Buka konten ini

JAKARTA (BP) — Militer Amerika Serikat menyiapkan sejumlah opsi serangan baru terhadap Iran jika upaya gencatan senjata tidak berujung pada kesepakatan. Salah satu fokus utama berada di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Dilansir dari Antara, Jumat (24/4), sejumlah sumber menyebut opsi militer itu mencakup serangan terhadap kapal serang cepat, kapal penebar ranjau, hingga aset perang asimetris milik Iran yang dinilai berpotensi mengganggu jalur pelayaran.
Tak hanya itu, Amerika Serikat juga mempertimbangkan penargetan fasilitas dwiguna, seperti pembangkit listrik dan jembatan, yang dinilai memiliki nilai strategis dalam konflik. Bahkan, opsi lain yang dikaji mencakup penargetan tokoh militer dan elite kepemimpinan Iran.
Ketegangan ini merupakan lanjutan dari konflik sebelumnya. Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan sejak 7 April, namun perundingan lanjutan berakhir tanpa kesepakatan.
Meski belum ada pengumuman resmi terkait dimulainya kembali konflik terbuka, Amerika Serikat telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Presiden AS, Donald Trump menyatakan gencatan senjata diperpanjang sembari membuka peluang negosiasi lanjutan dalam waktu dekat. Di tengah situasi tersebut, Trump juga mengeluarkan perintah tegas kepada Angkatan Laut AS untuk menindak aktivitas pemasangan ranjau di Selat Hormuz.
“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal apa pun yang memasang ranjau di perairan itu,” ujarnya melalui platform Truth Social.
Pentagon memperkirakan proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz bisa memakan waktu hingga enam bulan. Iran disebut berpotensi menempatkan puluhan ranjau di jalur tersebut, sebagian menggunakan teknologi GPS yang menyulitkan deteksi.
Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda. Meski demikian, ketegangan tetap tinggi di kawasan, terutama karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis di dunia.
Amerika Serikat bahkan mengklaim telah meminta puluhan kapal untuk berbalik arah sebagai bagian dari blokade yang diberlakukan.
Situasi ini menandakan eskalasi konflik masih terbuka, dengan risiko gangguan besar terhadap distribusi energi global jika ketegangan terus meningkat. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK