Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Arah persaingan teknologi global kini bergeser menuju perangkat komputasi yang semakin personal dan terintegrasi. Huawei Technologies menangkap momentum tersebut dengan meluncurkan kacamata berbasis kecerdasan buatan (AI), sebagai langkah strategis untuk menantang dominasi Meta Platforms di pasar kacamata pintar global yang berkembang pesat.
Langkah ini menempatkan Huawei langsung dalam persaingan global yang semakin padat. Selain Meta yang dipimpin Mark Zuckerberg, tekanan juga datang dari pemain Tiongkok seperti Alibaba Group Holding dan Rokid, serta ekosistem inovasi global yang turut dipengaruhi tokoh seperti Elon Musk dan Jeff Bezos dalam pengembangan AI dan komputasi masa depan.
Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (21/4/2026), Huawei resmi memperkenalkan kacamata AI pertamanya. Peluncuran ini mencerminkan eskalasi kompetisi di sektor perangkat wearable berbasis AI, yang kini dipandang sebagai perpanjangan dari ekosistem digital pengguna.
Secara teknis, perangkat tersebut dibanderol mulai 2.499 yuan atau sekitar Rp 6,28 juta (dengan kurs Rp 2.513 per yuan), dengan bobot 35,5 gram. Huawei menyatakan kacamata ini mengusung berbagai fitur berbasis AI, termasuk interaksi suara, pembayaran digital, serta kemampuan perekaman visual dari sudut pandang pengguna secara langsung.
Selain itu, perangkat ini menggunakan cip buatan Huawei yang dirancang khusus untuk kacamata pintar, guna mengoptimalkan kinerja dan efisiensi perangkat. Namun, di balik peningkatan teknologi tersebut, Huawei juga menghadapi tekanan biaya produksi. CEO bisnis konsumen Huawei, He Gang, menegaskan kondisi tersebut dengan menyatakan, ”Kami berada di bawah tekanan besar untuk strategi harga ini.”
Dia juga menambahkan, ”Kami mungkin perlu menaikkan harga di masa depan jika tidak lagi dapat menahan kenaikan biaya,” mengindikasikan adanya tantangan struktural dalam rantai pasok dan komponen, khususnya memori, yang turut memengaruhi strategi harga.
Dari sisi fungsi, kacamata ini memungkinkan siaran langsung dan panggilan video dari perspektif orang pertama. Dengan dukungan AI multimodal, perangkat juga mampu memperkirakan asupan kalori makanan, melacak aktivitas pengguna, serta memfasilitasi pembayaran melalui pemindaian kode QR, menunjukkan integrasi yang semakin dalam antara perangkat dan gaya hidup digital.
Peluncuran ini sekaligus menandai peningkatan signifikan dibanding lini kacamata pintar Huawei sebelumnya yang hanya menawarkan fungsi dasar seperti penerjemahan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI