Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Pemerintah Iran mengumumkan pembukaan penuh jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata berlangsung. Kebijakan ini langsung mendapat respons dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut kembali dibuka untuk aktivitas komersial.
“Seiring gencatan senjata di Lebanon, lalu lintas bagi semua kapal komersial di Selat Hormuz dibuka sepenuhnya selama sisa masa gencatan senjata,” ujar Araghchi melalui akun media sosial X, Jumat (17/4).
Ia menegaskan, pembukaan jalur pelayaran itu dilakukan berdasarkan koordinasi dengan otoritas pelabuhan dan kemaritiman Iran.
Menanggapi hal tersebut, Presiden AS Donald Trump menyampaikan apresiasi. Ia bahkan menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Iran” dalam unggahannya di platform Truth Social.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa selat itu terbuka sepenuhnya dan siap untuk lalu lintas penuh. Terima kasih!” tulis Trump.
Namun, tidak lama berselang, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade laut terhadap Iran hingga proses negosiasi selesai sepenuhnya.
“Blokade laut akan tetap diberlakukan secara penuh terhadap Iran sampai seluruh transaksi dengan Iran benar-benar tuntas,” tegasnya.
Meski demikian, Trump optimistis proses negosiasi tidak akan berlangsung lama. Ia menyebut sebagian besar poin perundingan telah dibahas.
Di sisi lain, hubungan AS dan Iran masih diwarnai tarik ulur negosiasi. Kedua negara sempat menggelar perundingan putaran pertama pada Sabtu (11/4) di Islamabad, Pakistan, setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, sehari kemudian, Wakil Presiden AS J.D. Vance yang memimpin delegasi menyatakan perundingan belum menghasilkan kesepakatan.
Menyusul kegagalan tersebut, AS mengerahkan angkatan laut untuk melakukan blokade di kawasan Selat Hormuz.
Sementara itu, laporan media menyebutkan putaran kedua negosiasi antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Minggu (19/4).
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan Israel dan Lebanon sepakat memulai gencatan senjata selama 10 hari, menyusul perundingan yang dimediasi Amerika Serikat di Washington DC.
Trump Akui Kesepakatan dengan Iran Masih Jauh
Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung di tengah situasi geopolitik yang belum stabil. Meski komunikasi tetap terjalin, peluang tercapainya kesepakatan final di antara kedua negara masih belum pasti.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui bahwa hingga saat ini belum ada titik temu yang benar-benar disepakati dalam perundingan dengan Iran.
“Kami belum mencapai kesepakatan. Mungkin saja tidak akan tercapai,” ujar Trump saat berbicara di hadapan para pendukungnya di Las Vegas, Jumat (17/4).
Meski demikian, Trump tetap menunjukkan optimisme bahwa perkembangan dalam waktu dekat dapat membawa hasil positif. Ia bahkan menyebut kemungkinan munculnya “kejutan menyenangkan”, termasuk potensi penurunan harga minyak dan bensin.
Trump juga menegaskan konflik dengan Iran akan segera diselesaikan, meski belum memberikan kerangka waktu yang jelas. Ia menyebut pertemuan lanjutan antara Washington dan Teheran berpotensi digelar dalam waktu dekat, memanfaatkan momentum gencatan senjata yang masih berlangsung.
Sebelumnya, kedua negara telah menggelar pembicaraan di Islamabad, Pakistan pada 11 April, menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Di tengah proses diplomasi yang berjalan alot, situasi di kawasan tetap memanas. Amerika Serikat bahkan mulai memberlakukan blokade terhadap lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan energi global.
Kebijakan tersebut semakin memperumit situasi, mengingat Iran belum mengumumkan sikap resmi terkait rencana pungutan terhadap kapal yang melintas. Ketegangan di jalur strategis ini berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas energi dunia.
IMF: Konflik Picu Ancaman Resesi di Eropa
Dampak konflik Iran dengan AS dan Israel juga mulai dirasakan secara global. International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa kawasan Uni Eropa (UE) berpotensi mendekati resesi akibat tekanan inflasi dan lonjakan harga energi.
“Kami melihat dalam skenario yang lebih parah, guncangan pasokan yang berkelanjutan bisa mendorong UE mendekati resesi,” ujar Kepala Departemen Eropa IMF, Alfred Kammer.
Menurut IMF, konflik telah memicu kenaikan harga energi yang signifikan, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan periode sebelum 2022. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan Eropa terhadap impor energi.
WNI Dievakuasi, Situasi Masih Rentan
Sementara itu, pemerintah Indonesia terus melakukan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Iran sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi konflik. Kementerian Luar Negeri mencatat evakuasi telah dilakukan dalam tiga tahap.
Sebanyak 45 WNI berhasil dipulangkan melalui jalur Tehran menuju Baku sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta.
Meski demikian, masih terdapat ratusan WNI yang berada di Iran, mayoritas berstatus pelajar. Pemerintah memastikan terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan rencana evakuasi lanjutan jika kondisi memburuk.
Di tengah tarik-menarik antara jalur diplomasi dan tekanan militer, masa depan hubungan AS-Iran masih penuh ketidakpastian. Setiap perkembangan di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, akan menjadi penentu arah stabilitas global ke depan. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK