Buka konten ini

DEWAN Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Khusus Batam menilai tren penjualan rumah dalam tiga bulan terakhir masih cenderung stabil. Meski belum menunjukkan penurunan signifikan, pelaku usaha mulai mewaspadai potensi perlambatan akibat tekanan ekonomi global.
Ketua DPD REI Khusus Batam, Robinson Tan, mengatakan hingga saat ini belum terlihat fluktuasi berarti dalam penjualan properti.
“Dalam tiga bulan terakhir ini masih stabil. Kita belum melihat tanda-tanda penurunan, tapi juga belum ada peningkatan. Masih di posisi yang sama,” ujarnya, Senin (13/4).
Menurutnya, dampak gejolak global seperti kenaikan harga minyak dan konflik internasional belum sepenuhnya terasa pada sektor properti di Batam. Hal ini karena efeknya terhadap industri yang menjadi penopang utama ekonomi Batam belum terlihat signifikan.
“Belum nampak, jika ada pengurangan tenaga kerja atau peningkatan pengangguran. Jadi pengaruh ke pasar properti itu nanti,” jelasnya.
Namun demikian, REI mulai mencermati adanya kenaikan harga material bangunan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dinilai akan berdampak langsung pada biaya pembangunan dan berpotensi mendorong kenaikan harga jual rumah.
“Sekarang sudah mulai ada kenaikan material. Ini pasti berpengaruh ke biaya pembangunan dan akhirnya ke harga jual,” katanya.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, Robinson menyebut tidak ada perubahan signifikan dalam penjualan. Meski begitu, ia mengakui mulai muncul kecenderungan pasar bergerak melambat.
“Masih kurang lebih sama dengan tahun lalu. Tapi memang sudah ada kecenderungan akan ada reaksi negatif, kemungkinan ke arah melambat,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, peran perbankan dinilai masih sangat mendukung. Bahkan, saat ini semakin banyak bank yang agresif menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Perbankan sekarang sangat agresif. Hampir semua bank, baik BUMN, swasta, bahkan BPR sudah ikut bermain di segmen KPR,” katanya.
Terkait perilaku konsumen, REI melihat belum ada perubahan signifikan dalam tiga bulan terakhir. Permintaan rumah, terutama di segmen menengah ke bawah, masih stabil karena didominasi kebutuhan end user.
“Kalau segmen menengah ke bawah itu kebutuhan, jadi tidak bisa ditunda. Selama penghasilan masih stabil, mereka tetap beli,” jelasnya.
Namun, ia menilai segmen menengah ke atas berpotensi lebih terdampak karena cenderung bersifat investasi. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, kelompok ini biasanya akan lebih berhati-hati.
“Kalau menengah ke atas kemungkinan akan berpikir ulang untuk investasi,” tambahnya.
Ke depan, REI memprediksi dampak ekonomi global akan sangat bergantung pada durasi konflik dan stabilitas harga energi. Jika harga minyak terus meningkat, maka akan berdampak luas pada kenaikan harga material dan biaya produksi.
“Kalau perang berkepanjangan dan harga minyak naik tinggi, pasti semua material ikut naik. Ini akan mempengaruhi biaya pembangunan dan harga jual rumah,” katanya.
Di sisi lain, pengembang juga menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau mempertahankan margin.
“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, pembeli bisa berkurang. Tapi kalau tidak dinaikkan, margin pengembang yang tergerus,” ujarnya.
REI pun memilih bersikap hati-hati dengan memantau perkembangan pasar dalam waktu dekat.“Kita lihat dulu dalam satu bulan ke depan bagaimana respons pasar,” katanya.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang dinilai telah memperbaiki sistem perizinan. Namun, REI berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas investasi dan membantu mengendalikan kenaikan harga material.
“Kalau kondisi tetap kondusif dan kenaikan material bisa dikontrol, itu akan memperkuat daya tahan sektor properti,” tutupnya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI