Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat ekspor produk sawit asal Indonesia beberapa waktu belakangan mengalami sejumlah tantangan.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menjelaskan, sejauh ini Industri sawit masih cukup kuat menghadapi dampak konflik tersebut. terbukti, ekspor ke negara-negara tujuan juga masih bisa dilakukan.
”Walaupun terjadi kenaikan luar biasa untuk biaya logistik. Freight and insurance (ongkos kirim dan asuransi) itu naik sampai 50% rata-rata,” terangnya di Jakarta Kamis (12/3) malam lalu.
Yang paling merasakan dampak kenaikan biaya logistik itu, lanjut Eddy, adalah para importir. Dari sisi produsen dan eksportir, pengiriman masih berjalan normal. Saat ini, yang banyak dilakukan adalah pengiriman yang sudah teken kontrak lebih dulu.
”kita lihat kira-kira satu bulan ke depan, ini kita melihat apakah nanti akan terdampak dengan kalau perang ini tidak selesai. Nah, ini akan menjadikan biaya yang tinggi. Bisa jadi tadi negara-negara importir itu mengurangi (pembelian),” tuturnya.
Sebagai gambaran, terangnya, total ekspor produk sawit pada 2025 lalu mencapai 32,3 juta ton dengan nilai USD 35,8 miliar atau sekitar 590,3 triliun.
Ekspor tersebut meningkat dari tahun 2024 yang mencapai 29,5 juta ton senilai USD 27,75 miliar atau Rp 439,5 triliun.
Kenaikan nilai ekspor yang signifikan itu tidak hanya karena volume pengiriman yang naik. Melainkan juga harga rata-rata cif Rotterdam yang pada 2025 mencapai USD 1.221 per ton. Lebih tinggi dari rata-rata 2024 yang senilai USD 1.084 per ton.
Gangguan yang terjadi di selat Hormuz, lanjut Eddy, membuat ekspor ke sejumlah negara terganggu. Terutama ekspor ke Timur Tengah. ”Ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton, ya. Ini yang sudah pasti terganggu,” lanjutnya.
Sementara, ekspor ke negara-negara lain masih bisa dilakukan, meski harus memutar melalui Cape Town di Afrika Selatan. Atau memaksakan lewat terusan Suez meski dengan risiko yang tinggi. Kedua jalur itu kini juga menelan biaya tiinggi efek konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, sepanjang tahun 2025 tidak hanya kinerja ekspor yang meningkat. Produksi dan konsumsi produk sawit juga ikut naik.
Sebagai gambaran, produksi CPO dan PKO pada tahun 2025 mencapai 56,5 juta ton, naik 7,18% dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 52,7 juta. Begitu pula konsumsi dalam negeri yang mencapai 24,7 juta ton. Naik dibandingkan konsumsi 2024 yang mencapai 23,8 juta ton. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI