Buka konten ini

KUALA LUMPUR (BP) – Senja yang panas dan lembap menyelimuti kawasan Pasar Seni atau Central Market Kuala Lumpur pada sebuah Minggu baru-baru ini. Ratusan orang tumpah ruah di lorong-lorong pasar yang dipenuhi kios penjual pakaian, suvenir, makanan, hingga kerajinan khas Malaysia.
Bus wisata datang silih berganti. Para turis berburu cendera mata, sementara suara tawar-menawar antara pembeli dan pedagang menggema di bangunan bersejarah yang berdiri di jantung ibu kota Malaysia itu.
Namun hanya beberapa meter dari hiruk pikuk tersebut, pemandangan yang kontras terlihat di lorong-lorong gelap di sekitar pasar. Beberapa tunawisma tampak tidur di atas kardus. Sebagian lainnya duduk diam di bangku, memandangi lalu lalang orang yang sibuk berbelanja.
Di tengah kontras itu, sekelompok relawan datang membawa kepedulian. Mereka membagikan makanan hangat, air minum, buah-buahan, hingga sabun kepada para tunawisma.
Salah satunya adalah Criseldo Animo, pekerja rumah tangga asal Mindanao, Filipina. Perempuan berusia 60-an itu sudah 12 tahun bekerja di Malaysia.
“Saya merasa bahagia dan bersyukur bisa membantu, meski hanya sedikit,” ujarnya seperti dikutip dari CNA.
Hari itu, Animo berjalan beberapa kilometer di tengah terik untuk ikut membagikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan di pusat kota Kuala Lumpur. Ia bergabung dengan FARA Philippines, kelompok relawan yang beranggotakan warga Filipina dan pekerja migran di Kuala Lumpur.
Organisasi tersebut berdiri untuk membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, terutama sesama pekerja migran. Di Malaysia, kelompok ini memiliki sekitar 100 anggota aktif, mayoritas bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
Selain memberi makan tunawisma, mereka juga rutin mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, bahkan memberikan pelatihan perawatan lansia bagi para pengasuh.
Berbagi di Hari Libur
Bagi banyak pekerja rumah tangga di Malaysia, Minggu adalah satu-satunya hari libur. Namun bagi Jacquelou Cabello, relawan FARA lainnya, hari libur justru menjadi waktu untuk berbagi.
Perempuan 39 tahun asal Batangas itu datang ke Malaysia pada 2015 demi menghidupi tiga anaknya.
“Saya merasa diberkati karena tidak berada di posisi mereka. Itu yang membuat saya ingin membantu,” katanya.
Kelompok tersebut biasanya mengadakan kegiatan bantuan sosial setiap beberapa bulan, tergantung dana yang tersedia. Sebagian besar dana berasal dari iuran anggota sendiri.
Komunitas Migran yang Saling Menguatkan
Di Malaysia, jumlah pekerja migran memang besar. Data Departemen Statistik Malaysia mencatat sekitar 2,2 juta pekerja migran resmi bekerja di negara tersebut pada 2022. Jumlah itu setara dengan sekitar 15 persen dari total tenaga kerja.
Mayoritas berasal dari Bangladesh, Indonesia, dan Nepal. Mereka banyak bekerja di sektor yang dikenal sebagai pekerjaan “3D”: dirty, dangerous, dan demeaning—pekerjaan kotor, berbahaya, dan kurang diminati warga lokal.
Tak sedikit pekerja migran yang membentuk komunitas untuk saling membantu. Salah satunya jaringan migran Indonesia bernama Serantau.
Kelompok ini fokus memberikan informasi serta advokasi mengenai hak-hak pekerja migran. Mereka juga mengadakan pelatihan rutin agar para pekerja memahami hak mereka, termasuk soal upah dan kondisi kerja.
“Masih ada banyak kasus pelanggaran hak pekerja. Kami berusaha mencegahnya dengan meningkatkan kesadaran,” kata Suherman, salah satu pendiri Serantau.
Menghadapi Stigma
Meski berkontribusi besar bagi ekonomi, pekerja migran di Malaysia masih menghadapi stigma sosial. Sebagian masyarakat memandang mereka sebagai ancaman terhadap lapangan kerja atau sumber masalah sosial. Akibatnya, banyak pekerja migran memilih beraktivitas di dalam komunitas mereka sendiri.
Namun di tengah tantangan tersebut, berbagai inisiatif sosial terus bermunculan. Mulai dari kegiatan amal, pelatihan keterampilan, hingga advokasi hak pekerja.
Aktivis dari organisasi North South Initiative, Adrian Pereira, menilai kontribusi pekerja migran sangat penting bagi Malaysia.
“Bayangkan jika tidak ada pekerja migran di sektor pertanian atau konstruksi. Biaya pembangunan akan melonjak,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong adanya program integrasi yang lebih intens antara warga lokal dan pekerja migran.
“Interaksi dan saling memahami harus lebih sering dilakukan agar kedua pihak bisa saling menghargai,” katanya.
Bagi para pekerja migran sendiri, kontribusi mereka sering kali lahir dari pengalaman pribadi yang penuh perjuangan. Mereka tahu rasanya hidup jauh dari rumah.
Karena itu, di sela kerja keras mereka di negeri orang, masih ada ruang untuk berbagi—meski dengan cara yang sederhana. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO