Buka konten ini

BATAM (BP) – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memastikan pasokan gas bumi dari Natuna ke Batam sebesar 111 BBTUD untuk periode 2027–2037 aman dan tidak akan terdampak kontrak ekspor ke Singapura. Kepastian tersebut ditegaskan Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia, Rakhmad Dewanto, usai penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan West Natuna Exploration Limited (WNEL) pada 11 Juli 2025.
Menurut Rakhmad, volume 111 BBTUD tersebut dialokasikan 100 persen untuk kebutuhan domestik, terutama untuk menopang kelistrikan industri di Batam dan wilayah Kepulauan Riau. Kontrak tersebut terpisah dari skema ekspor gas ke Jurong, Singapura.
“Kontrak itu khusus untuk domestik. Tidak terkait dengan kontrak ekspor ke Jurong. Jadi volumenya tidak akan berubah,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila kebutuhan energi Batam meningkat seiring pertumbuhan industri dan investasi, peluang penambahan pasokan tetap terbuka.
Komitmen tersebut diperkuat dengan dimulainya pembangunan Pipa Gas Bumi ruas West Natuna Transportation System (WNTS)–Pulau Pemping melalui seremoni peletakan batu pertama pada Selasa (10/2). Proyek senilai sekitar Rp1 triliun tersebut digarap PT PLN Energi Primer Indonesia dengan dukungan pemerintah guna memperkuat pasokan gas untuk pembangkit listrik di Batam dan sekitarnya.
Infrastruktur yang dibangun meliputi pipa lepas pantai (offshore) sepanjang 3,2 kilometer dan pipa darat (onshore) sepanjang 1,3 kilometer, serta fasilitas penerima dan pengukuran gas (Onshore Receiving Facility/ORF) di Pulau Pemping. Pada fase awal, pipa ditargetkan mampu menyalurkan sekitar 33 juta standar kaki kubik per hari sebelum ditingkatkan hingga mencapai 111 BBTUD sesuai kontrak jangka panjang.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyambut positif proyek tersebut. Ia menyebut kebutuhan listrik Batam tumbuh sekitar 15 persen per tahun, sejalan dengan realisasi investasi 2025 yang mencapai Rp69,3 triliun atau naik 11,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kebutuhan listrik Batam tumbuh sekitar 15 persen per tahun. Karena itu, keandalan pasokan energi menjadi kunci. Proyek ini merupakan terobosan strategis bagi masa depan Batam,” ujarnya.
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menilai gas merupakan pilihan energi paling realistis bagi Batam. Secara geografis, Batam tidak memiliki sungai besar untuk pembangkit listrik tenaga air skala besar, sementara potensi energi gelombang laut juga terbatas. Energi surya dapat dikembangkan di wilayah pesisir, namun gas tetap menjadi tulang punggung pasokan listrik.
Sementara itu, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan pembangunan pipa tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan tie-in antara PLN EPI dan operator West Natuna Group. Ia menyebut proyek ini akan mengubah pola pemanfaatan gas Natuna yang sebelumnya lebih banyak berorientasi pada ekspor.
“Sekitar 111 BBTUD gas Natuna akan disalurkan ke PLN selama 11 tahun. Targetnya mulai on stream pada 2027–2028 sehingga ketahanan energi Batam semakin kuat,” ujarnya.
Rakhmad menambahkan, proyek ini merupakan penugasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kepada PLN EPI sejak 31 Januari 2026 untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Proyek ini juga terintegrasi dengan pengembangan Wilayah Kerja Duyung.
Saat ini, PLN EPI menuntaskan berbagai tahapan awal, termasuk pengadaan long lead items, penunjukan kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC), serta penyelesaian dokumen perizinan lingkungan. Proyek yang sempat tertunda hampir satu dekade akibat persoalan pendanaan dan kepastian harga gas tersebut kini kembali berjalan, dengan progres yang dilaporkan telah mencapai sekitar 72 persen.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, menambahkan bahwa proyek WNTS–Pemping diproyeksikan meningkatkan efisiensi biaya energi primer dibandingkan penggunaan BBM maupun LNG, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan efek berganda bagi perekonomian Batam dan Kepri.
PLN EPI menargetkan Commercial Operation Date (COD) pada Juli 2026. Dengan kepastian kontrak 111 BBTUD dan pembangunan pipa tersebut, gas Natuna diharapkan menjadi fondasi utama kelistrikan Batam, menjaga laju industri stabil, serta memperkuat kedaulatan energi nasional. (*)
LAPORAN : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK