Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Kepri dalam beberapa pekan terakhir membuat nelayan jarang melaut. Dampaknya, stok ikan di pasar menipis dan harga pun merangkak naik, baik di Pasar Bintan Centerk Tanjungpinang maupun Pasar Tarempa, Anambas.
Pantauan Batam Pos di Pasar Bincen Tanjungpinang, lapak-lapak pedagang ikan tampak banyak yang kosong. Hanya beberapa jenis ikan saja yang dijual di pasar tersebut.
Seperti ikan tongkol, yang biasanya dijual dengan harga Rp35 ribu, kini menjadi Rp45 ribu per kilogram (kg). Ikan selar yang biasanya Rp40-an ribu, kini menjadi Rp55 hingga Rp60 ribu per kilogram.
”Seminggu yang lalu sudah mulai naik, memang karena kondisi cuaca. Stok ikan yang lain juga kosong, seperti ikan tamban dan benggol,” kata Ajiz, pedagang di Pasar Bincen, Senin (8/9).
Ia menjelaskan pasokan ikan tersebut diambil dari gudang di Kijang Bintan dan kemudian dijual di Tanjungpinang. Menurutnya, harga ikan akan terus tinggi, selama cuaca ekstrem terus melanda Kepri.
Pembeli ikan, Neneng mengaku saat ini sejumlah jenis ikan di Pasar Bincen sulit untuk dicari. Sehingga, ia terpaksa membeli ikan yang ada, seperti jenis tongkol. ”Tadi juga ada yang bilang lagi ada musim terang bulan, mungkin karena itu. Saya biasanya bisa beli ikan dua kilo jadinya satu kilo,” pungkasnya.
Sementara itu, pasokan ikan di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai menipis dalam tiga hari terakhir.
Kondisi ini dipicu oleh masuknya musim penghujan yang membuat nelayan setempat tidak bisa melaut terlalu lama.
Pantauan di Pasar Ikan Tarempa Barat pada Senin (8/9), sejumlah lapak pedagang terlihat kosong. Hanya beberapa pedagang yang masih berjualan, itu pun dengan harga yang relatif lebih tinggi dari biasanya.
Untuk ikan tongkol, harga kini berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per ekor dengan berat lebih dari satu kilogram. Ikan manyuk atau ikan putih sagai masih dijual Rp50 ribu untuk empat ekor, harga yang dinilai masih normal. Namun, harga ikan selar ikut terdongkrak. Jika biasanya dijual Rp25 ribu per lima ekor, kini harganya naik menjadi Rp35 ribu.
“Ikan susah sekarang, cuaca hujan jadi nelayan ke laut cuma sebentar saja. Jadi produksi ikan tak maksimal,” kata Yanto, seorang pedagang ikan di Tarempa.
Menurut Yanto, selain faktor cuaca, menipisnya pasokan juga karena sebagian besar hasil tangkapan nelayan langsung dikirim ke penampung.
Dari penampung, ikan-ikan tersebut biasanya dibawa ke Kijang untuk dipasarkan ke Bintan dan Tanjungpinang.
“Ikan yang di penampung pun sudah diantar ke Kijang. Jadi stok kita di sini menipis,” tuturnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tarempa melaporkan bahwa cuaca hujan di wilayah Anambas masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Kepala BMKG Tarempa, Samuel, mengatakan intensitas hujan bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat, dan berpotensi disertai petir.
Ia menjelaskan, pola angin di wilayah Anambas saat ini masih cukup kuat dengan kecepatan 20 hingga 30 knot. Kondisi tersebut berdampak langsung pada ketinggian gelombang laut. (*)
“Untuk perairan Anambas, tinggi gelombang diperkirakan berada di kisaran 2 hingga 3,5 meter. Kondisi ini masuk kategori berbahaya, terutama bagi kapal nelayan tradisional dan kapal berukuran kecil,” ujar Samuel.
Menurutnya, kondisi cuaca seperti ini wajar terjadi pada periode peralihan musim, terutama ketika angin timur masih dominan.
Meski demikian, Samuel mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Hujan deras dan gelombang tinggi berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir pesisir maupun abrasi.
BMKG juga mengimbau nelayan agar tidak memaksakan diri melaut jika kondisi cuaca memburuk. Jika pun tetap melaut, nelayan diminta untuk tidak pergi sendirian demi keselamatan. (*)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL – Ihsan Imaduddin
Editor : Andriani Susilawati