Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Keberadaan gajah Sumatera saat ini dalam kondisi kritis dan terancam punah. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.100 ekor yang hidup bebas di alam liar. Pemerintah terus berupaya menjaga kelestarian satwa ini, yang merupakan salah satu ikon keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satu langkah pelestarian dilakukan melalui pembangunan koridor atau jalur khusus perjalanan gajah di Provinsi Aceh.
Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) kini masuk dalam kategori Critically Endangered atau kritis. Status ini menandakan bahwa keberadaannya berada di ambang kepunahan.
Sebelumnya, spesies ini dikategorikan sebagai genting. Namun, karena populasi di alam liar terus menurun, statusnya naik menjadi kritis. Salah satu penyebab utama penurunan ini adalah berkurangnya populasi hingga 62 persen hanya dalam satu generasi atau sekitar 25 tahun terakhir.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa pemerintah serius menjaga keberadaan gajah Sumatera agar tetap lestari dan, jika memungkinkan, populasinya dapat bertambah. Ia menekankan pentingnya pelestarian gajah sebagai bagian dari warisan untuk generasi mendatang.
Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah pembangunan koridor gajah, yaitu jalur khusus agar gajah dapat bergerak dengan aman di antara habitat yang terfragmentasi. Saat ini tercatat terdapat 22 koridor gajah, meskipun beberapa di antaranya telah berubah fungsi menjadi lahan perkebunan milik warga.
“Di antara koridor-koridor itu, memang ada yang sudah menjadi lahan perkebunan masyarakat,” ujar Raja usai memimpin rapat evaluasi Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di kantornya, Rabu (7/8).
PECI merupakan program koridor gajah Sumatera yang berlokasi di Provinsi Aceh. Inisiatif ini bertujuan memperbaiki habitat gajah agar mereka dapat hidup lebih baik dan mengurangi potensi konflik antara manusia dan gajah. Dalam pelaksanaannya, masyarakat sekitar juga dilibatkan, misalnya dengan menjual hasil kebun seperti pisang dan rumput sebagai pakan alami bagi gajah liar.
Menurut Raja, saat ini terdapat dua koridor dalam program PECI. Koridor pertama diperkirakan dihuni sekitar 50 ekor gajah, sementara di koridor kedua terdapat sekitar 27 ekor.
Ia menjelaskan bahwa tantangan utama dalam pelestarian gajah Sumatera adalah penyediaan pakan. “Kalau manusia makan untuk hidup, gajah itu hidup untuk makan,” kata Raja. Karena itulah kebutuhan pakan sangat besar dan harus dikelola secara cermat. Jika tidak, makanan yang disiapkan untuk gajah justru bisa habis dimakan oleh satwa liar lain seperti babi hutan.
Melalui program PECI, pendataan populasi gajah juga dilakukan secara lebih akurat. Selain itu, penyediaan asupan mineral dan akses air untuk mendinginkan tubuh gajah menjadi perhatian penting.
“Akan dibuat kubangan-kubangan untuk mendukung kebutuhan air mereka,” jelasnya.
Raja berharap, program PECI yang didukung oleh World Wildlife Fund (WWF) Indonesia ini dapat memberi dampak positif bagi kelestarian gajah Sumatera. Ia menambahkan bahwa program ini juga merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai informasi, pembangunan koridor gajah di Aceh memanfaatkan lahan hibah dari Presiden Prabowo seluas 90 ribu hektare. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO