Buka konten ini
BENGKULU (BP) – Di tengah polemik rencana Presiden Prabowo Subianto menampung sementara warga Jalur Gaza, Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menyatakan siap mendukung. Provinsi yang dia pimpin bersedia menyediakan tempat untuk 1.000 warga dari kawasan konflik di Timur Tengah itu.
“Bumi Merah Putih, Provinsi Bengkulu, siap menjadi lokasi penampungan bagi 1.000 warga Gaza pertama. Kami mendukung penuh ide dan gagasan Bapak Presiden Prabowo,” kata Helmi, seperti dikutip dari Rakyat Bengkulu (grup Batam Pos), Sabtu (12/4). Helmi menyebut, dukungan itu sepenuhnya demi sisi kemanusiaan. “Warga Gaza terus menjadi korban kebrutalan Israel,” katanya.
Dalam pernyataan terakhirnya Jumat (11/4) lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut belum ada putusan apapun terkait rencana tersebut. Baik soal jadi tidaknya rencana itu diwujudkan atau di mana kelak para warga Gaza ditempatkan di jadi terlaksana. Presiden disebutnya masih akan berkonsultasi dengan pemimpin lima negara yang dia kunjungi sejak pekan lalu.
Sementara itu, di Gaza, militer Israel terus mendesak warga setempat. Pada Sabtu (12/4), Israel bahkan mengatakan akan memperluas serangan mereka di kawasan konflik tersebut.
Dilansir dari AFP kemarin (13/4), puluhan ribu penduduk Khan Yunis dan sisi selatan Gaza diminta mengungsi. ”Operasi IDF (Pasukan Pertahanan Israel) akan meningkat dan meluas ke sebagian besar wilayah Gaza dan Anda perlu mengevakuasi diri dari zona pertempuran,” kata Menteri Pertahanan Israel Katz yang ditujukan kepada warga Gaza.
Katz menyebut militer Isra-el juga telah mengambil alih beberapa wilayah di Gaza utara. Mereka menyebut misi itu sebagai memperluas zona keamanan.
Mereka menuntut pembebasan semua sandera di tangan Hamas. Mereka menyebut masih ada 58 sandera lagi. “Ini satu-satunya cara untuk mengakhiri perang,” ucapnya.
Di hari yang sama, Hamas merilis sebuah video yang memperlihatkan sandera Israel-Amerika Edan Alexander. Dalam video itu, Alexander mengkritik pemerintah Israel karena gagal menjamin pembebasannya. Tentara tersebut diculik saat Hamas melakukan serangan darat ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023.
Sementara itu, sehari sebelumnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan perluasan perintah evakuasi dari Israel mengakibatkan adanya relokasi warga secara paksa. Masyarakat Gaza bakal berada di wilayah yang makin sempit. Juga, dapat memperburuk kelangsungan hidup mereka.
Pada Sabtu (12/4) malam, di Mesir sedang dilakukan pertemuan antara negosiator Hamas dan mediator Mesir serta Qatar. Pertemuan itu diharapkan menghasilkan keputusan untuk meredakan perang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG