Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menyentuh level Rp17.000 per USD di non-deliverable forward (NDF). Dilansir dari Refinitiv, Minggu (6/4) pukul 08:10 WIB, nilai tukar mata uang Garuda telah mencapai Rp17.059 per USD atau merupakan posisi terendah sepanjang sejarah. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) menyiapkan langkah startegis guna mencegah kemerosotan rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menuturkan bahwa bank sentral terus memonitor perkembangan pasar keuangan global dan domestik pascapengumuman kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Termasuk, pengumuman retaliasi tarif oleh Tiongkok sebagai balasan.
“Pasar bergerak dinamis dimana pasar saham global mengalami pelemahan dan yield US Treasury mengalami penurunan hingga jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024,” tuturnya.
BI tetap berkomitmen untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Terutama melalui optimalisasi intervensi di tiga instrumen. Yakni, intervensi di pasar valas pada transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
“Sehingga memastikan kecukupan likuiditas valuta asing (valas) untuk kebutuhan perbankan, dunia usaha, serta menjaga keyakinan pelaku pasar,” ucap Denny.
Upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi dampak volatilitas pasar yang bisa memengaruhi perekonomian domestik. Khusus dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, BI terus berupaya untuk memitigasi risiko yang ditimbulkan oleh ketegangan perdagangan global, serta memastikan likuiditas pasar tetap terjaga dalam kondisi yang penuh tantangan saat ini. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG