Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Meski pasar dalam negeri sedang tertekan, pelaku industri otomotif tetap optimistis menatap pasar ekspor. Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kinerja pengiriman mobil secara utuh (completely built up/CBU) Indonesia ke luar negeri menunjukkan kenaikan.
Mengacu data Gaikindo pada Februari 2025, Indonesia mengekspor mobil ke berbagai negara sebanyak 36.789 unit. Angka itu naik 5,5 persen secara year on year (yoy) dibandingkan Februari 2024 sebesar 34.871 unit. Sementara, secara bulanan (month to month/MtM) naik 10,1 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebanyak 33.423 unit.
Ditinjau berdasarkan merek, produsen otomotif yang paling banyak mengekspor mobil pada bulan lalu adalah Toyota dengan catatan 11.827 unit.
Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menyampaikan, angka ekspor CBU merek Toyota terus bertumbuh, terlebih kini destinasi telah dilakukan ke hampir 100 negara tujuan.
Pada 2023, angka ekspor telah mencapai lebih dari 2,5 juta unit. Tahun berikutnya telah membukukan 2,8 juta unit yang artinya kurang 200 ribuan unit untuk sampai 3 juta unit.
Bob percaya perusahaan dapat merayakan ekspor perdana 3 juta unit pada akhir 2025. Sebelumnya, Toyota pernah melakukan seremoni untuk capaian ekspor 2 juta unit pada 2022, dan ekspor 1 juta unit pada 2018. “Januari-Februari (2025) ekspor 39 ribu unit. Insya Allah tahun ini kami akan mencapai 3 juta ekspor,” ujarnya di Jakarta, Kamis (21/3).
Sementara di pasar domestik, Gaikindo mencatat total penjualan domestik mobil secara wholesales pada Februari 2025 sebesar 72.295 unit atau naik 2,2 persen secara YoY dibandingkan tahun lalu 70.772 unit. Sedangkan, sales ritel turun tipis 0,8 persen YoY menjadi 69.872 unit pada Februari 2025, dibandingkan 70.420 unit pada periode yang sama 2024.
Bob menyoroti kondisi pasar otomotif domestik karena melemahnya daya beli masyarakat dan tekanan ekonomi. “Kami berharap tahun ini tidak lebih buruk dari tahun kemarin. Tapi, tantangannya besar, sebab kita dibayangi oleh tingginya rasio kredit macet (NPL). Ini harus diperbaiki dengan memperkuat struktur ekonomi, khususnya bagi kelas menengah,” bebernya.
Menurut dia, salah satu solusi mendorong penjualan adalah dengan memberikan relaksasi pajak, seperti yang pernah dilakukan pemerintah saat pandemi Covid-19. Bob menilai kebijakan tersebut terbukti efektif meningkatkan daya beli masyarakat, mendorong penjualan, dan pada akhirnya juga meningkatkan pendapatan negara. “Jadi yang perlu dicari adalah sektor mana yang jika diberikan insentif justru bisa mendongkrak penerimaan negara, bukan malah menguranginya,” urainya.
Bob juga menekankan bahwa kebijakan pajak seharusnya tidak hanya berorientasi jangka pendek, melainkan harus mempertimbangkan dampak jangka panjang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO