Buka konten ini
Pembukaan pameran seni rupa Khat Melayu di Bandar Seni Raja Ali Haji, Arena Purna MTQ, menjadi spesial bagi Galeri Hang Nadim. Tidak hanya menandai lima tahun eksistensi galeri itu, tapi juga karena karya-karya yang dipamerkan.
KORAN ini menjadi yang pertama memasuki ruang pameran yang berada di lantai atas Anjungan Kampar, Sabtu (15/2) lalu sekitar pukul 21.10 WIB malam. Ruangan itu begitu cerah dengan pencahayaan.
Namun yang menarik perhatian tentu seni kaligrafi, yang disebut Kurator Muhammad Rafles malam itu, sebagai tulisan indah dengan aksara Arab. Hanya saja, ini adalah pameran Khat Melayu. Huruf Arab dengan Bahasa Melayu.
Setiap karya seni rupa menampilkan keunikan kendati punya kesamaan, yaitu menuliskan pesan penting dari Gurindam 12 karya Raja Ali Haji. Berbagai bentuk, rupa dan gaya kaligrafi yang digunakan.
Ada yang menggunakan digital printing, huruf timbul atau ukiran kanvas berbahan kayu. Yang cukup menarik perhatian adalah karya budayawan sekaligus kaligrafer senior asal Kampar, Abdul Latif Hasyim.
Peserta pameran undangan khusus ini secara kasat mata, karyanya menggambar sebuah kapal berkepala naga yang sedang berlayar dengan latar daratan dengan pemukiman berumah adat lontik dan limas. Kaligrafi karya ini tidak menggunakan elemen warga maupun cat seperti karya-karya lainnya.
“Ini terbuat dari kopi dicampur dengan lem. Jadi sambil-sambil ngopi, ampasnya untuk membuat karya ini,” kata Latif.
Latif butuh waktu tiga hari menyelesaikan karya ini. Tepatnya tiga hari sebelum pameran ia memulainya. Dengan kreativitas tinggi, seperti biasa, Latif selalu mengawinkan seni rupa dengan budaya yang sudah pasti ada Kamparnya.
Ada cerita membuat Latif masih merasa hal itu lucu bahkan pada malam pembukaan itu. Yaitu insiden saat proses pembuatannya. Karena sambil ngopi, Latif salah mengecap ngopi.
“Saya salah minum, yang saya minum kopinya hambar, ini kopi untuk buat kaligrafi yang bercampur lem. Kalau kopi asli pasti manis,” ujar sampai tersenyum lebar yang ikut membuat putri-putri yang turut hadir malam itu juga ikut tersenyum.
Karya lainnya yang sangat unik adalah karya Parlindungan Ravelino. Sama halnya dengan Abdul Latif Hasyim yang hampir tak pernah absen pada pameran Galeri Hang Nadim beberapa tahun terakhir, Parlindungan selalu membuat hal yang aneh.
Kali ini arsitek sekaligus dosen teknik di Unilak ini secara kasat mata tidak memamerkan kaligrafi. Tapi sebuah karya yang sekilas merupakan tulisan Arab. Ternyata, ukiran patah-patah disertai titik-titik di kanvas itu merupakan kode QRIS yang dibuat menyerupai kaligrafi.
Karya Ravelino tidak bisa dinikmati langsung. Pengunjung harus mundur beberapa langkah ke belakang dan menembakkan scan QRIS ke kanvas tersebut. Bila lancar layar ponsel langsung membawa pengunjung ke akun Instagram @gurindam12__.
Itu bukan satu-satunya kejutan. Ketika dibaca isi postingannya, ternyata bukan sekedar seluruh dari butiran Gurindam 12 ditambah profil pengarangnya saja, yaitu Raja Ali Haji yang disebut-sebut sebagai Bapak Bahasa Indonesia Modern itu. Tapi juga bahasa yang digunakan jauh berbeda.
Revalino membuat hal berani dengan menggubah gaya bahasa Gurindam 12, yang merupakan bahasa Melayu Klasik, dengan gaya bahasa atau penuturan kaum milenial. Makna dan pesannya sama namun dengan bahasa yang kekinian.
“Saya mengubahnya dengan ChatGPT agar Gurindam 12-nya menggunakan bahasa kaum milineal zaman ini. Saya ini kan dosen, bagaimana anak-anak milenial, mahasiswa saya, tertarik mempelajari dan memahami pesan-pesan dalam Gurindam 12,” kata Ravelino. Dua karya itu, bersama karya dari 24 kaligrafer lainnya akan dipamerkan sekitar dua pekan hingga 28 Februari 2025.
Selain Abdul Latif Hasyim dan Parlindungan Revalino, mereka yang karyanya dipamerkan termasuk Mukhtamar, Alza Adrizon, Adie Nata, Herman Pelani, Dewi Hariyanti, Ulul Azmi, Firza Jurdila, Opi Prastanti, Nesa Aqila, Raditya Mohamad, Puji Lestari, Fitri Sun, dan M Fathsul Akbar. Kemudian Tengku Eko, Wirdatul Barokah, Dicky Reza Aryadinata, Firda Zulhanita, Hasanah, Dewi Purwanti, Nuria Hafazhah, M Kudri, Jupriyanto, Wahyudi HB dan Joni.
Semua karya ini dikuratori oleh Muhammad Rafles yang secara profesional juga berkecimpung bidang kaligrafi pada LPTQ Riau. Dibuka Ketua Harian LPTQ Riau Zulhendri Rais, pembukaan pameran juga dihadiri Pengurus LAM Riau Griven H Putra hingga perwakilan Dinas Kebudayaan Riau dan juga Dinas Pariwisata Pekanbaru.
Ketua Galeri Hang Nadim Furqon LW pada sambutan pembukaan menyampaikan dua hal yang membuatnya dan pengusur galeri lainnya begitu bahagia pada malam pembukaan pameran. Pertama, pameran tersebut menandai 5 tahun eksistensi Galeri Hang Nadim sejak diresmikan budayawan Al Azhar (alm) 17 Januari 2020 silam.
Selama itu pula ada 17 kali pameran termasuk pameran Khat Melayu yang menjadi pameran perdana pada tahun ini. Furqon mengaku bahagia karena sambutan masyarakat terhadap pameran seni di Riau masih tinggi.
“Selama 16 pameran sebelum ini kami telah mencatat lebih dari 10 ribu pengunjung. Itu tidak gratis, berbayar. Ternyata kepedulian dan antusiasme masyarakat terhadap seni masih tinggi. Apalagi rata-rata pengunjung juga adalah kaum milenial,” kata Furqon.
Kebahagiaan kedua, sambung Furqon, adalah karena pada malam itu Galeri Hang Nadim mulai menapak langkah perdananya menganjung misi yang sudah termaktub dalam visi galeri tersebut. Yaitu Khat Melayu.
Secara sederhana Khat Melayu bermakna menulis indah, kaligrafi, menggunakan huruf-huruf Arab Melayu yang merupakan ekpresi kaligrafer atau senimannya yang sumber inspirasinya dari khasanah Melayu dulu maupun kekinian.
“Khat Melayu diharapkan keluar dari kaidah formal kaligrafi Arab yang muktabarah sehingga memunculkan kaidah baru ciri khas individual yang tak terduga, semisal; tarikan garis atau bentuk-bentuk yang dibuat spontan. Karena keleluasaan eksplorasinya ini, kami berharap kelak Khat Melayu ini menjadi keunikan atau kekhasan seni rupa Riau,” ucapnya. (***)
Reporter : HENDRAWAN KARIMAN
Editor: RYAN AGUNG