Buka konten ini

Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 harus dimulai dengan mempersiapkan anak yang sehat sejak dalam kandungan. Pertumbuhan, perkembangan, nutrisi, hingga pola pengasuhan menjadi faktor penting dalam mencetak generasi yang berkualitas.
PENTINGNYA mempersiapkan anak sejak dini tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peringatan Hari Anak Nasional yang digelar Rumah Sakit Awal Bros Batam melalui siaran langsung di Instagram.
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Indra Yanti, Sp.A., MARS, dalam siaran langsung Instagram @halloawalbros memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7).
Menurut dr. Indra, Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa anak merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan pembangunan bangsa.
”Anak itu nantinya akan menjadi penerus generasi yang sekarang. Oleh karena itu, pada peringatan Hari Anak Nasional ini kita lebih fokus mempersiapkan anak supaya ketika besar nanti bisa menjadi generasi penerus yang berkualitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, anak merupakan individu sejak masa konsepsi hingga berusia 18 tahun.
”Definisi anak itu semenjak konsepsi, sejak pertemuan sel telur dan sperma, sampai usia 18 tahun. Jadi dalam bidang kesehatan, usia di bawah 18 tahun masih ditangani oleh dokter anak,” katanya.
Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa
Menurut dr. Indra, masih banyak masyarakat yang menganggap anak sama seperti orang dewasa dalam ukuran kecil. Padahal, kondisi tubuh anak memiliki karakteristik yang berbeda.
”Anak bukan miniatur orang dewasa. Anak memiliki kekhususan karena mempunyai dua ciri khas, yaitu tumbuh dan berkembang,” jelasnya.
Ia menerangkan, pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya berat badan, tinggi badan, ukuran kepala, dan perkembangan organ tubuh. Sedangkan perkembangan berkaitan dengan kemampuan anak, seperti tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, berbicara, hingga kemampuan bersosialisasi.
Karena itu, kebutuhan gizi anak harus dipenuhi dengan komposisi yang tepat, bukan sekadar banyak.
”Yang dibutuhkan bukan hanya jumlah makanan, tetapi komposisi gizinya juga harus sesuai agar pertumbuhan anak optimal,” katanya.
Selain nutrisi, lingkungan juga memegang peranan penting. ”Lingkungan yang sehat bukan hanya bersih dari sampah, tetapi juga bebas polusi dan memberikan suasana yang nyaman. Orang-orang yang berkata baik dan tidak sering bertengkar juga memengaruhi perkembangan anak,” ujarnya.
Stimulasi Penting untuk Perkembangan Otak
dr. Indra menjelaskan bahwa kualitas otak anak sangat dipengaruhi stimulasi sejak dini.
”Saat lahir jumlah sel otak sudah sangat banyak. Yang menentukan kualitasnya adalah bagaimana hubungan antarsel otak itu terbentuk. Semakin banyak hubungan antarsel, semakin baik kualitas anak. Caranya dengan stimulasi yang aktif dan positif,” katanya.
Ia mengingatkan agar orang tua menjaga kesehatan otak anak karena sel otak yang rusak tidak dapat kembali seperti semula.
”Sel otak itu sekali rusak, misalnya karena infeksi otak, tidak bisa kembali seperti semula. Karena itu harus dijaga betul,” ujarnya.

Dokter Spesialis Anak, Rumah Sakit Awal Bros Batam.
Foto: Ig halloawalbros
Pantau Empat Aspek Perkembangan
Menurut dr. Indra, ada empat aspek perkembangan yang harus terus dipantau orang tua, yaitu motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan sosial.
Motorik kasar meliputi kemampuan berjalan, berlari, dan melompat. Motorik halus berkaitan dengan aktivitas tangan dan jari, seperti menulis atau memasukkan benang ke jarum. Perkembangan bahasa dilihat dari kemampuan berbicara, sedangkan perkembangan sosial mencakup kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungan.
”Empat fungsi inilah yang menentukan kualitas anak. Jadi bukan sekadar pintar, tetapi juga bagaimana kemampuan motorik, bahasa, dan sosialnya berkembang,” katanya.
Seribu Hari Pertama Kehidupan Sangat Menentukan
dr. Indra menekankan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
”Seribu hari pertama kehidupan merupakan masa emas yang tidak boleh diabaikan. Semua kebutuhan anak harus dipenuhi sejak dalam kandungan,” ujarnya.
Menurutnya, kesehatan ibu selama kehamilan sangat memengaruhi kondisi janin. Karena itu, ibu hamil harus memperoleh nutrisi yang cukup, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta rutin memeriksakan kehamilan.
Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menjadi nutrisi terbaik.
”ASI sudah diciptakan dengan nutrisi yang lengkap dan sesuai kebutuhan bayi. Untuk bayi yang sehat dan ibu yang sehat, enam bulan pertama cukup ASI saja,” katanya.
Setelah usia enam bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan gizi seimbang sesuai usia.
”Menu anak harus disesuaikan dengan usianya. Kebutuhan bayi tujuh bulan tentu berbeda dengan anak usia satu tahun,” ujarnya.
dr. Indra berharap orang tua semakin memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi, stimulasi, lingkungan yang sehat, dan pengasuhan yang baik agar anak tumbuh optimal dan siap menjadi Generasi Emas Indonesia 2045.
”Kalau semua kebutuhan anak dipenuhi sejak dini, maka kita sedang mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas untuk masa depan Indonesia,” tutupnya.
Orang Tua Diminta Waspadai Keterlambatan Tumbuh Kembang Anak
Selain membahas pentingnya nutrisi, dr. Indra juga mengingatkan orang tua untuk memperhatikan setiap tahapan perkembangan anak atau milestone. Menurutnya, setiap usia memiliki kemampuan yang seharusnya sudah dicapai.
Menanggapi pertanyaan salah seorang peserta siaran langsung mengenai anak berusia 18 bulan yang belum dapat berbicara setelah pernah mengalami kejang, dr. Indra meminta orang tua tidak langsung panik.
”Jangan panik dulu, karena milestone bisa berbicara itu sekitar usia dua tahun. Tetapi bukan berarti kita diam saja. Kalau pada usia 18 bulan belum ada kosa kata sama sekali, sebaiknya mulai dilakukan intervensi dan konsultasi,” ujarnya.
Ia menyarankan orang tua meningkatkan stimulasi di rumah dengan lebih sering mengajak anak berbicara dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
”Saat memandikan anak misalnya, ajak terus berbicara. Ceritakan apa yang sedang dilakukan. Anak perlu mendengar bahasa setiap hari sebagai bentuk stimulasi,” katanya.
Jika setelah dilakukan stimulasi selama beberapa waktu belum menunjukkan perkembangan, orang tua disarankan membawa anak ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Menurutnya, keterlambatan bicara tidak selalu disebabkan gangguan pada otak. Dokter perlu memastikan terlebih dahulu apakah terdapat gangguan pendengaran, riwayat penyakit tertentu, atau kurangnya stimulasi dari lingkungan.
”Berdasarkan penelitian, anak yang benar-benar tidak bisa berbicara karena penyakit jumlahnya hanya sebagian kecil. Kebanyakan karena kurang stimulasi,” ujarnya.
Jangan Mengandalkan Mitos
dr. Indra juga mengingatkan masyarakat agar tidak lagi berpegang pada anggapan bahwa setiap anak berkembang dengan sendirinya.
”Masih banyak yang bilang, ’Dulu bapaknya juga baru bicara umur lima tahun, nanti juga bisa sendiri.’ Cara berpikir seperti itu tidak boleh lagi. Kita ingin menciptakan generasi emas, jadi tumbuh kembang anak harus dioptimalkan,” katanya.
Ia mengajak para orang tua terus belajar mengenai tumbuh kembang anak dari sumber yang dapat dipercaya.
Quality Time Tetap Penting
Menjawab pertanyaan mengenai orang tua yang harus bekerja, dr. Indra menilai pengasuhan tetap menjadi tanggung jawab utama ayah dan ibu.
Jika kedua orang tua bekerja, mereka dapat memanfaatkan bantuan keluarga, pengasuh, maupun daycare yang memiliki kredibilitas baik. Namun, kedekatan emosional dengan anak tetap tidak boleh hilang.
”Sebagus apa pun pengasuhnya, anak tetap membutuhkan orang tuanya. Luangkan waktu untuk berinteraksi, bermain, berolahraga, atau sekadar sarapan bersama. Quality time itu harus tetap ada,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam masa emas perkembangan anak.
”Anak yang kurang mendapatkan peran ayah pada dua sampai tiga tahun pertama kehidupannya ternyata perkembangan tertentu bisa kurang optimal. Karena itu ayah juga harus terlibat dalam pengasuhan,” katanya.
Imunisasi dan Penggunaan Gadget
Menurut dr. Indra, imunisasi tetap menjadi salah satu kebutuhan dasar anak karena berfungsi mencegah berbagai penyakit berbahaya.
”Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit. Itu merupakan hak anak dan menjadi kewajiban orang tua untuk memenuhinya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan penggunaan gawai harus disesuaikan dengan usia anak.
”Untuk anak usia di bawah dua tahun, kalau bisa jangan diberikan gadget sama sekali,” katanya.
Menurutnya, penggunaan gadget berlebihan dapat memengaruhi perkembangan bahasa, interaksi sosial, hingga kesehatan mata anak.
Cegah Bullying Sejak Dini
dr. Indra mengatakan perundungan atau bullying dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak.
Bentuknya tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa ejekan, mengambil barang milik teman, hingga mengucilkan anak lain.
”Bullying tidak hanya terjadi di sekolah. Orang tua juga harus mengawasi lingkungan bermain anak dan membangun komunikasi yang baik agar anak merasa aman bercerita,” ujarnya.
Ia menambahkan, orang tua perlu memilih lingkungan pendidikan yang aman serta tetap menjalin komunikasi dengan anak, termasuk apabila bersekolah di asrama atau pesantren.
Anak Perlu Dipersiapkan Sejak Dini
Dalam sesi tanya jawab, dr. Indra juga menyinggung tentang anak yang bersekolah di asrama atau pesantren. Menurutnya, keputusan harus dipersiapkan sejak dini agar anak memahami tujuan orang tua, bukan menganggapnya sebagai bentuk hukuman.
”Orang tua harus jujur kepada anak. Dari awal sudah diberikan gambaran bahwa nanti mereka akan sekolah seperti itu dan apa tujuannya. Jadi mereka tahu, mereka dikirim ke sana bukan karena dibuang, tetapi karena orang tua ingin mereka menjadi lebih baik dan sukses,” ujarnya.
Ia menilai banyak pesantren dan sekolah berasrama yang mampu melahirkan lulusan berkualitas. Namun, orang tua tetap harus memastikan lingkungan pendidikan yang dipilih memiliki sistem pengawasan yang baik.
”Yang bagus itu banyak. Banyak tokoh masyarakat, ustaz, maupun profesional yang lahir dari pesantren. Yang penting anak sudah dipersiapkan sejak awal .
Di akhir acara, dr. Indra mengingatkan bahwa menciptakan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak bisa dilakukan secara instan. Persiapan harus dimulai bahkan sebelum anak dilahirkan.
”Untuk mendapatkan anak yang berkualitas, sebetulnya dimulai sejak mempersiapkan seorang calon ibu. Ibu yang sehat akan melahirkan anak yang jiwa dan raganya sehat,” ujarnya.
Menurutnya, sejak dalam kandungan anak telah membutuhkan perhatian, mulai dari nutrisi, stimulasi, hingga kasih sayang yang sesuai dengan tahapan usianya.
”Anak sejak lahir mempunyai kebutuhan yang spesifik, baik dari nutrisinya, stimulasinya, maupun kasih sayangnya. Semua itu harus dimulai sejak dalam kandungan dan disesuaikan dengan usianya,” katanya.
Ia kembali mengingatkan bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa sehingga memiliki kebutuhan yang berbeda pada setiap fase pertumbuhan. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG
