Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Timnas Inggris menutup kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan senyum lebar. Dalam laga penuh drama di Stadion Miami, Florida, Minggu (19/7) WIB, The Three Lions menundukkan Prancis 6-4 untuk merebut peringkat ketiga sekaligus memutus kutukan yang telah mengÂhantui mereka selama puluhan tahun.
Pertandingan berlangsung liar sejak menit awal. Inggris tampil begitu efektif dan mengejutkan Prancis dengan keunggulan telak 4-0 pada babak pertama melalui gol Declan Rice, Ezri Konsa, serta dua gol Bukayo Saka.
Namun, Les Bleus menunjukkan mental juara. Dipimpin Kylian Mbappe, Prancis bangkit pada babak kedua. Brace Mbappe dan satu gol Bradley Barcola membuat kedudukan berubah menjadi 4-3 dan sempat menghidupkan harapan comeback.
Momentum itu kembali dipatahkan Inggris. Bukayo Saka mencetak gol ketiganya lewat titik penalti untuk mengukir hattrick sekaligus membawa Inggris menjauh menjadi 5-3. Ousmane Dembele sempat memangkas skor menjadi 5-4 pada masa injury time, tetapi Jude Bellingham memastikan kemenangan Inggris lewat gol penutup yang mengakhiri laga dengan skor 6-4.
Putus Kutukan 60 Tahun
Kemenangan tersebut memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar perebutan posisi ketiga. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Inggris berhasil memenangkan pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia.
Sebelumnya, Inggris selalu gagal setiap kali memainkan laga tersebut. Pada Piala Dunia 1990 mereka kalah 1-2 dari Italia, sedangkan pada edisi 2018 takluk 0-2 dari Belgia.
Di bawah arahan Thomas Tuchel, kutukan itu akhirnya berhasil dipatahkan. Meski gagal mencapai final, hasil ini tetap menjadi penutup yang positif bagi proyek baru Inggris di bawah pelatih asal Jerman tersebut.
Posisi ketiga juga menjadi pencapaian terbaik kedua Inggris sepanjang sejarah Piala Dunia. Satu-satunya prestasi yang lebih tinggi tentu saja gelar juara dunia tahun 1966 ketika mereka mengalahkan Jerman Barat 4-2 di Wembley.
Setelah itu, Inggris berkali-kali gagal kembali menembus final. Mereka hanya mampu mencapai semifinal pada 1990, 2018, dan 2026, dengan edisi kali ini menjadi yang paling berkesan karena berhasil membawa pulang medali perunggu.
Keberhasilan ini sekaligus memberi optimisme baru bahwa generasi yang diperkuat Jude Bellingham, Bukayo Saka, Cole Palmer, hingga Declan Rice masih memiliki peluang besar menjadi penantang utama pada Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.
Era Baru Les Bleus Dimulai Setelah Deschamps
Di sisi lain, kekalahan dari Inggris menjadi penutup perjalanan panjang Didier Deschamps bersama Timnas Prancis.
Media dan pakar transfer Fabrizio Romano melaporkan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) telah mencapai kesepakatan dengan legenda Prancis, Zinedine Zidane, untuk mengambil alih kursi pelatih setelah Piala Dunia 2026 berakhir.
Zidane disebut akan langsung mempersiapkan Les Bleus menghadapi Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.
Penunjukan itu sebenarnya tidak mengejutkan. Nama Zidane sudah lama menjadi kandidat utama penerus Deschamps. Bahkan sejak meninggalkan Real Madrid, ia beberapa kali menolak tawaran klub-klub elite Eropa karena hanya ingin menangani Timnas Prancis.
Romano menyebut seluruh staf kepelatihan Zidane telah disiapkan dan proses administrasi tinggal menunggu penyelesaian kontrak resmi setelah Deschamps mengakhiri masa tugasnya.
Tugas pertama Zidane adalah membangun kembali Les Bleus dengan tetap menjadikan Kylian Mbappe sebagai poros utama tim.
Meski gagal membawa Prancis finis di tiga besar, Mbappe tetap tampil impresif sepanjang Piala Dunia 2026 dan bahkan memimpin daftar pencetak gol turnamen.
Dengan pengalaman meraih tiga gelar Liga Champions bersama Real Madrid, Zidane diyakini memiliki kapasitas mengelola ruang ganti yang dihuni para pemain bintang.
Federasi Sepak Bola Prancis berharap pergantian pelatih ini menjadi awal siklus baru untuk mengembalikan Les Bleus ke puncak sepak bola Eropa pada Euro 2028, sekaligus kembali memburu gelar juara dunia pada Piala Dunia 2030. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK
