Buka konten ini

BATAM (BP) – Universitas Batam (UNIBA) mulai mengarahkan penguatan riset tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menembus jejaring dan pendanaan penelitian internasional. Upaya itu diwujudkan melalui International Public Lecture bertajuk Empowering Researchers Through Global Collaboration, Innovation, and Research Grants yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIBA di Auditorium LPPM, Senin (6/7).
Kuliah umum tersebut menghadirkan dua akademisi yang memiliki pengalaman memperoleh hibah penelitian dari berbagai lembaga internasional, yakni Rumana Yasmin Ferdausi dan Prof. Rina S. Shahrullah. Kegiatan dipandu Ir. Herlina Suciati dan dibuka oleh Dr. Bdn. Arum Dwi Anjani.
Dalam pemaparannya, Rumana Yasmin menepis anggapan bahwa peluang memperoleh hibah riset internasional hanya dimiliki perguruan tinggi besar.
Menurut dia, lembaga pendanaan lebih melihat kualitas gagasan penelitian, relevansi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, serta kemampuan peneliti menyusun proposal yang terukur.
“Kesempatan itu terbuka bagi siapa pun. Yang dinilai bukan nama kampusnya, tetapi kualitas ide, rekam jejak penelitian, dan solusi yang ditawarkan,” katanya.
Ia menjelaskan, membangun kolaborasi internasional tidak selalu harus dimulai dari proyek penelitian berskala besar. Langkah awal dapat dilakukan melalui konferensi ilmiah, publikasi bersama, maupun forum akademik internasional yang mempertemukan peneliti dari berbagai negara.
Selain memperkenalkan berbagai peluang hibah penelitian dan beasiswa, Rumana juga membagikan strategi menyusun proposal yang kompetitif agar mampu bersaing memperoleh pendanaan dari lembaga internasional.
Sementara itu, Prof. Rina S. Shahrullah membagikan pengalaman memperoleh pendanaan penelitian dari sejumlah lembaga, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya berasal dari BRIN, The Asia Foundation, ASEAN Secretariat, E-READI, hingga The Nippon Foundation.
Menurut Rina, memperoleh hibah penelitian bukan proses yang instan. Dibutuhkan konsistensi membangun rekam jejak akademik, kemampuan berbahasa asing, komunikasi yang baik, serta jejaring internasional yang terus dipelihara.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami fokus dan prioritas lembaga pemberi hibah sebelum mengajukan proposal. Penelitian, kata dia, perlu diselaraskan dengan isu-isu global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) dan Environmental, Social, and Governance (ESG) agar memiliki peluang lebih besar untuk didanai.
“Penelitian yang baik bukan hanya menghasilkan publikasi, tetapi mampu menawarkan solusi terhadap persoalan masyarakat dan menjadi dasar penyusunan kebijakan,” ujarnya.
Kuliah umum berlangsung interaktif. Dosen dan mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk berkonsultasi mengenai teknik menyusun proposal hibah, membangun kolaborasi dengan peneliti luar negeri, hingga langkah awal mengikuti skema pendanaan penelitian internasional.
Melalui kegiatan tersebut, LPPM UNIBA berharap budaya riset di lingkungan kampus semakin berkembang. Tidak hanya meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga memperluas kolaborasi global dan memperbesar peluang dosen serta mahasiswa memperoleh hibah penelitian dari berbagai lembaga nasional maupun internasional sebagai bagian dari penguatan daya saing perguruan tinggi. (***)
Laporan : M. SYA’BAN
Editor : GUSTIA BENNY
