Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Dunia kedokteran mencatat tonggak baru. Untuk pertama kalinya, dua robot humanoid yang dikendalikan dokter dari jarak jauh berhasil menyelesaikan prosedur bedah langsung dalam uji praklinis. Keberhasilan tersebut membuka peluang pemanfaatan robot humanoid untuk membantu layanan pembedahan, terutama di wilayah yang kekurangan tenaga medis.
Selama ini, robot humanoid lebih banyak digunakan di sektor industri, logistik, hingga militer. Namun, perkembangan teknologi mendorong pemanfaatannya ke bidang kesehatan karena bentuk tubuhnya memungkinkan bekerja di lingkungan yang dirancang bagi manusia tanpa memerlukan perubahan infrastruktur.
Laporan Morgan Stanley yang dirilis pada akhir Juni memperkirakan Tiongkok akan memimpin produksi robot humanoid dengan kapasitas sekitar 446 ribu unit per tahun pada 2030. Pangsa robot humanoid berukuran penuh juga diproyeksikan meningkat dari 30 persen pada 2026 menjadi 70 persen pada 2028.
Dikutip dari New Atlas, Senin (13/7), tim peneliti University of California San Diego (UC San Diego) mengembangkan sistem robot humanoid untuk membantu prosedur pembedahan.
Pada tahap awal, satu robot humanoid bekerja bersama seorang dokter bedah yang bertindak sebagai asisten dalam prosedur kolesistektomi atau operasi pengangkatan kantong empedu. Pada tahap berikutnya, dua robot humanoid mampu menyelesaikan prosedur bedah tanpa bantuan manusia di sisi meja operasi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tersebut dilakukan pada mamalia besar nonprimata. Meski belum diuji pada manusia, pencapaian itu dinilai sebagai langkah penting karena menunjukkan robot humanoid telah berkembang dari sekadar konsep menjadi teknologi yang mampu menjalankan prosedur bedah dalam kondisi nyata.
Para peneliti menegaskan tujuan utama pengembangan teknologi ini bukan untuk menggantikan dokter, melainkan membantu mengatasi kekurangan tenaga ahli dan memperluas akses layanan operasi, terutama di daerah terpencil.
Berbeda dengan robot bedah konvensional yang berbobot sekitar 800 kilogram dan membutuhkan ruang operasi khusus, robot humanoid Surgie yang dikembangkan dari platform Unitree G1 memiliki tinggi sekitar 1,5 meter dengan bobot hanya 27 kilogram. Ukurannya yang lebih ringkas memungkinkan digunakan di klinik kecil, rumah sakit lapangan, hingga lokasi penanganan darurat.
Asisten Profesor Bedah UC San Diego School of Medicine, Dr. Shanglei Liu, mengatakan sistem tersebut menawarkan keunggulan dari sisi biaya dan fleksibilitas.
”Biayanya hanya sebagian kecil dibandingkan sistem bedah konvensional dan membutuhkan ruang operasi yang jauh lebih sedikit.
Karena itu, sistem ini mudah diterapkan, mulai dari daerah pedesaan, medan perang, hingga misi luar angkasa,” ujarnya.
Dalam praktiknya, dokter mengendalikan robot melalui konsol kendali jarak jauh menggunakan instrumen bedah standar yang dipasangi adaptor agar dapat digenggam tangan robot.
Meski hasil awal dinilai menjanjikan, para peneliti mengakui sistem tersebut masih memerlukan penyempurnaan. Beberapa kendala yang ditemukan antara lain proses kalibrasi ulang saat operasi berlangsung, durasi tindakan yang masih lebih lama dibandingkan operasi konvensional, serta adanya jeda respons antara gerakan dokter dan robot. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY
