Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan terbaru Amerika Serikat mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3,5 persen pada pembukaan perdagangan Asia, sementara kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi internasional kembali meningkat.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang sebelum konflik dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
Pada perdagangan Senin, kontrak berjangka minyak langsung menguat. Minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), kembali diperdagangkan di atas 74 dolar AS per barel.
Otoritas Iran menyatakan seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz untuk sementara dihentikan menyusul memburuknya situasi keamanan akibat meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan.
Menurut otoritas tersebut, izin pelayaran baru akan diterbitkan kembali setelah kondisi keamanan dinilai stabil.
Sebelumnya, Iran juga telah memperingatkan kapal-kapal asing agar tidak melintasi Selat Hormuz tanpa memperoleh otorisasi dari pemerintah.
Teheran bahkan disebut tengah mengkaji penerapan sistem pemungutan biaya bagi kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
Di sisi lain, mengutip The Guardian, Amerika Serikat menegaskan tetap berkomitmen menjaga kebebasan navigasi internasional meski situasi keamanan di kawasan terus memburuk.
Washington menyatakan pengerahan pasukan dilakukan sebagai respons terhadap tindakan yang disebut sebagai ancaman dan intimidasi Iran terhadap jalur pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK