Buka konten ini

Ratusan triliun rupiah mulai berlabuh, raksasa teknologi dunia satu per satu datang menyapa. Di balik euforia investasi, Batam menghadapi ujian menjaga listrik, air, dan infrastruktur tetap menyala. Sebab membangun pusat data bukan sekadar menghadirkan gedung raksasa, melainkan menguji daya tahan sebuah kota.
TIDAK banyak kota di Indonesia yang sedang mengalami perubahan secepat Batam. Selama lebih dari empat dekade, kota ini tumbuh sebagai pusat industri manufaktur, galangan kapal, logistik, dan perdagangan internasional. Kini, sebuah babak baru mulai terbuka. Batam perlahan bergeser dari kota yang memproduksi barang menjadi kota yang mengelola data, menggerakkan komputasi, dan menyiapkan fondasi bagi ekonomi digital masa depan.
Perubahan itu bukan lagi sebatas wacana dalam dokumen perencanaan pemerintah. Ia mulai tampak di lapangan. Di kawasan-kawasan industri, berdiri bangunan-bangunan dengan sistem keamanan berlapis, jaringan kabel berkapasitas tinggi, serta infrastruktur komputasi yang kelak menjadi “otak” bagi layanan digital dunia. Dari sanalah jutaan transaksi keuangan diproses, miliaran data disimpan, hingga teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dilatih untuk melayani berbagai kebutuhan manusia.
Gelombang investasi itu datang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat sedikitnya 20 proyek data center telah berkembang dengan nilai investasi lebih dari Rp120 triliun. Nilai tersebut bahkan belum memasukkan sejumlah proyek yang masih berada pada tahap persiapan dan belum diumumkan kepada publik. Angka itu menjadi penanda bahwa Batam tidak lagi dipandang sebagai alternatif, melainkan mulai diperhitungkan sebagai salah satu simpul penting infrastruktur digital di Asia Tenggara.
Di balik besarnya angka investasi tersebut, tersimpan perubahan yang jauh lebih fundamental. Data center bukan sekadar gedung yang dipenuhi rak-rak server. Fasilitas ini merupakan fondasi utama ekonomi digital modern. Layanan cloud computing, kecerdasan buatan, transaksi perbankan digital, perdagangan elektronik, media sosial, hingga berbagai aplikasi yang digunakan masyarakat setiap hari bergantung pada pusat data yang mampu beroperasi tanpa henti.
Artinya, ketika perusahaan-perusahaan teknologi global mulai berlomba menanamkan modal di Batam, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kawasan industri baru. Yang sedang dibentuk adalah ekosistem ekonomi digital yang akan menentukan arah pertumbuhan kota ini dalam beberapa dekade mendatang.
Namun, setiap lompatan besar selalu menghadirkan pertanyaan yang sama besarnya. Apakah Batam benar-benar siap?
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Industri pusat data dikenal sebagai salah satu sektor dengan kebutuhan utilitas terbesar. Berbeda dengan industri manufaktur yang masih memiliki pola produksi tertentu, data center harus beroperasi selama 24 jam tanpa jeda. Pasokan listrik harus stabil setiap detik. Sistem pendingin harus terus bekerja menjaga suhu ribuan prosesor agar tetap ideal. Ketersediaan air pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari operasional pusat data modern.
Di sinilah tantangan baru mulai muncul. Semakin deras investasi mengalir, semakin besar pula tuntutan terhadap daya dukung kota. Listrik tidak lagi hanya harus mencukupi kebutuhan rumah tangga dan manufaktur. Air bersih tidak lagi hanya melayani pertumbuhan penduduk. Infrastruktur digital pun tidak cukup sekadar tersedia, tetapi harus memiliki keandalan kelas dunia.
Pemerintah meyakini tantangan tersebut telah diantisipasi melalui perencanaan yang matang. BP Batam memastikan setiap proyek data center wajib melalui kajian menyeluruh terhadap ketersediaan listrik, air baku, jaringan telekomunikasi, kesesuaian tata ruang, hingga kapasitas kawasan industri sebelum memperoleh persetujuan investasi. Di sisi lain, PT PLN Batam terus memperkuat sistem kelistrikan, sementara Badan Usaha SPAM BP Batam menyiapkan peningkatan kapasitas penyediaan air bersih agar pertumbuhan industri tidak mengorbankan pelayanan kepada masyarakat.
Meski demikian, besarnya kebutuhan utilitas yang menyertai investasi data center tetap menghadirkan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Keberhasilan Batam sebagai pusat ekonomi digital pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya investor yang datang, tetapi juga oleh kemampuan kota ini menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, keberlanjutan sumber daya air, serta kualitas hidup masyarakat.
Magnet Baru di Selat Singapura
Jika ditarik lebih jauh, transformasi Batam sesungguhnya tidak terjadi dalam semalam. Pergeseran peta industri digital global menjadi salah satu pemicunya. Selama bertahun-tahun, Singapura berkembang sebagai pusat data terbesar di Asia Tenggara. Namun, keterbatasan lahan, tingginya biaya operasional, serta kebutuhan energi yang terus meningkat membuat banyak perusahaan teknologi mulai mencari lokasi baru yang tetap dekat dengan pusat bisnis kawasan.
Batam berada pada posisi yang nyaris ideal. Hanya dipisahkan Selat Singapura, kota ini menawarkan kawasan perdagangan bebas, biaya investasi yang lebih kompetitif, jaringan kabel bawah laut internasional, serta kemudahan berusaha yang terus diperkuat pemerintah. Kombinasi tersebut menjadi daya tarik kuat bagi perusahaan-perusahaan teknologi global yang membutuhkan lokasi strategis untuk mengembangkan pusat data berskala besar.
Momentum itu kemudian dipertegas melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun. Dalam dokumen tersebut, Batam diposisikan sebagai kawasan industri berbasis teknologi tinggi yang akan menopang ekosistem data center, semikonduktor, kecerdasan buatan, cloud computing, hingga ekonomi digital nasional.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan hingga saat ini sedikitnya terdapat 20 proyek data center yang berkembang di Batam dengan nilai investasi lebih dari Rp120 triliun. Menurutnya, angka tersebut belum mencakup sejumlah proyek yang masih berada pada tahap persiapan dan belum dipublikasikan investor karena pertimbangan strategi bisnis.
Masuknya nama-nama besar seperti DayOne, Princeton Digital Group (PDG), EGSB/Range IDC, PT GDS IDC Services, NeutraDC Nxera Batam, BW Digital, hingga Data Center First menjadi sinyal bahwa Batam mulai dipandang sebagai salah satu tujuan utama investasi digital di kawasan. Namun, di balik optimisme itu, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Sebab, membangun kota digital tidak cukup hanya dengan menarik investasi. Kota ini juga harus memastikan fondasi yang menopangnya mampu tumbuh secepat investasi yang datang.

Rp120 Triliun yang Mengubah Wajah Batam
Transformasi Batam menuju pusat ekonomi digital sesungguhnya sudah melewati tahap wacana. Nilai investasi yang terus mengalir menunjukkan perubahan tersebut sedang berlangsung di depan mata. Dalam hitungan beberapa tahun, kawasan yang selama ini identik dengan industri manufaktur mulai dipenuhi proyek-proyek pusat data berkapasitas besar yang akan menopang berbagai layanan digital di tingkat nasional maupun regional.
BP Batam mencatat sedikitnya 20 proyek data center kini berkembang di berbagai kawasan industri dengan nilai investasi telah melampaui Rp120 triliun. Nilai tersebut belum termasuk sejumlah proyek yang hingga kini masih berada pada tahap persiapan dan belum diumumkan kepada publik karena pertimbangan strategi bisnis masing-masing investor.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa Batam tidak lagi diposisikan sebagai lokasi alternatif. Kota ini mulai menjadi salah satu simpul penting investasi digital di Asia Tenggara. Berbagai perusahaan teknologi global maupun nasional berlomba membangun fasilitas komputasi modern yang dirancang mampu melayani kebutuhan penyimpanan data, komputasi awan, hingga pengembangan kecerdasan buatan dalam skala besar.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan meningkatnya kepercayaan investor tidak terlepas dari berbagai keunggulan yang dimiliki Batam. Selain berada sangat dekat dengan Singapura sebagai pusat ekonomi regional, Batam juga memiliki kawasan industri yang siap dikembangkan, jaringan kabel komunikasi internasional, serta iklim investasi yang terus diperbaiki pemerintah.
“Hingga saat ini terdapat 20 proyek data center dengan nilai investasi lebih dari Rp120 triliun yang berkembang di Batam. Jumlah tersebut belum termasuk proyek-proyek yang masih berada pada tahap persiapan dan belum dipublikasikan investor karena alasan keamanan bisnis,” ujarnya kepada Batam Pos.
Masuknya perusahaan-perusahaan seperti DayOne, Princeton Digital Group (PDG), NeutraDC Nxera Batam, EGSB/Range IDC, PT GDS IDC Services, Data Center First, hingga BW Digital menjadi penanda bahwa peta investasi Batam mulai bergeser. Bila pada dekade sebelumnya investor didominasi industri elektronik dan manufaktur, kini perusahaan teknologi global mulai mengambil peran yang semakin besar.
Bagi pemerintah, keberadaan pusat data bukan hanya menghadirkan investasi baru, tetapi juga membuka peluang lahirnya rantai industri digital yang lebih luas. Infrastruktur komputasi tersebut menjadi fondasi bagi berkembangnya layanan cloud, aplikasi digital, pusat riset AI, keamanan siber, industri perangkat lunak, hingga berbagai sektor jasa berbasis teknologi yang selama ini banyak berkembang di negara-negara maju.
Karena itu, target investasi BP Batam pada 2026 tidak lagi sekadar mengejar angka. Setelah realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun, BP Batam kembali memasang target sedikitnya Rp70 triliun tahun ini. Proyek-proyek strategis seperti pengembangan DayOne Data Center, EGS AI Data Center, kawasan Tanjung Sauh, hingga pembangunan PLTS Terapung diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang akan memperkuat posisi Batam sebagai pusat industri digital Indonesia.
Menurut Fary, pengembangan tersebut juga diikuti upaya memperkuat infrastruktur dasar agar pertumbuhan investasi tidak tersendat. Pelabuhan, bandara, jaringan jalan, pasokan listrik, hingga penyediaan air bersih terus dipersiapkan mengikuti kebutuhan industri yang berkembang semakin cepat.
“Kami terus memperkuat infrastruktur dasar agar tidak menjadi hambatan bagi investor yang akan masuk maupun melakukan ekspansi usaha,” katanya.
Transformasi ini sekaligus menandai perubahan arah pembangunan Batam. Jika dahulu keberhasilan kawasan industri diukur dari jumlah pabrik yang berdiri, kini ukuran tersebut mulai bergeser. Pusat data modern tidak selalu menghadirkan ribuan pekerja seperti industri manufaktur, tetapi menghasilkan nilai investasi yang jauh lebih besar, teknologi yang lebih maju, serta mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi digital yang memiliki daya saing global.
Namun, perubahan tersebut membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Semakin besar kapasitas pusat data yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan energi untuk memastikan ribuan server tetap bekerja tanpa henti. Pada titik inilah tantangan berikutnya mulai muncul. Pertanyaan yang semula berkisar pada besarnya investasi kini bergeser pada satu isu yang jauh lebih mendasar: apakah sistem kelistrikan Batam mampu menopang ledakan kebutuhan energi dari industri digital yang terus berkembang?
Ketika Server Mulai Haus Energi
Di balik bangunan pusat data yang tampak sunyi, sesungguhnya berlangsung aktivitas yang tidak pernah berhenti. Ribuan bahkan puluhan ribu prosesor bekerja sepanjang waktu mengolah miliaran data, menjalankan layanan komputasi awan, memproses transaksi keuangan digital, hingga melatih model kecerdasan buatan. Semua itu hanya dapat berlangsung dengan satu syarat mutlak: pasokan listrik harus tersedia setiap detik, tanpa gangguan.
Berbeda dengan industri manufaktur yang masih mengenal jam produksi dan waktu henti mesin untuk pemeliharaan, pusat data beroperasi selama 24 jam dalam tujuh hari setiap pekan. Bahkan gangguan listrik selama beberapa detik saja dapat menyebabkan layanan digital terganggu, transaksi gagal diproses, hingga kerugian bernilai miliaran rupiah.
Karena itu, bagi industri data center, listrik bukan sekadar utilitas, melainkan fondasi utama keberlangsungan bisnis.
Inilah yang membuat pertumbuhan industri pusat data selalu berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan energi dalam skala sangat besar.
Berdasarkan proyek-proyek yang telah diumumkan kepada publik, total kapasitas pusat data yang berkembang di Batam kini telah melampaui 500 megawatt (MW). Angka tersebut akan terus bertambah seiring masuknya proyek-proyek baru yang masih berada pada tahap pengembangan.
Salah satu proyek terbesar datang dari DayOne di Kabil Tech Park. Perusahaan tersebut telah mengantongi Power Purchase Agreement (PPA) sebesar 450 MW dari PT PLN Batam. Nilai itu menjadi salah satu kontrak penyediaan listrik terbesar yang pernah diberikan untuk industri pusat data di Indonesia.
Belum berhenti di sana. Princeton Digital Group (PDG) mengembangkan fasilitas berkapasitas 96 MW. BW Digital merancang pusat data hingga 120 MW, NeutraDC Nxera Batam mencapai 51 MW, sementara Golden Digital Gateway terus berkembang menuju kapasitas 20 MW.
Akhir Mei lalu, melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PT PLN Batam dan PT Equator Gate System Batam (EGSB) di Kantor PLN Batam, juga menjadi tonggak strategis penguatan ekosistem digital Batam, sekaligus memperlihatkan kesiapan kawasan dalam mendukung investasi AI Data Centre berstandar global.
PT Equator Gate System Batam merupakan perusahaan pengembang AI Data Centre yang didukung oleh Range Intelligent Computing Technology Company Limited (Range IDC). Salah satu perusahaan data centre terbesar di Tiongkok yang tercatat di Bursa Efek Shenzhen.
Batam dipilih sebagai lokasi ekspansi internasional pertama perusahaan di luar Tiongkok, dengan fokus pengembangan High-Density AI Data Centre. Proyek strategis ini memiliki nilai investasi mencapai USD 5 miliar atau sekitar Rp88 triliun dengan luas pengembangan sekitar 30 hektare di kawasan Teluk Mata Ikan, Nongsa, Batam.
Di luar itu, masih terdapat sejumlah proyek lain yang belum mengungkapkan kebutuhan energinya kepada publik.
Jika seluruh proyek tersebut memasuki fase operasional secara bertahap, kebutuhan listrik Batam dipastikan akan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Kenaikan konsumsi listrik tidak lagi didorong semata oleh pertumbuhan rumah tangga atau industri manufaktur, tetapi juga oleh pusat-pusat komputasi berskala global yang beroperasi tanpa mengenal waktu.
Besarnya kebutuhan energi tersebut sering kali sulit dibayangkan masyarakat. Untuk memberikan gambaran, satu kampus data center berbasis kecerdasan buatan dapat membutuhkan daya puluhan hingga ratusan megawatt. Dalam praktiknya, kebutuhan tersebut setara dengan konsumsi listrik sebuah kawasan industri berukuran besar. Artinya, satu proyek saja mampu mengubah peta kebutuhan energi sebuah kota.
Di sinilah tantangan Batam mulai terlihat nyata. Data PT PLN Batam menunjukkan daya mampu sistem kelistrikan Batam-Bintan pada 2026 berada di kisaran 880,8 MW, dengan proyeksi beban puncak sekitar 761 MW. Selisih antara keduanya menyisakan cadangan daya sekitar 119,8 MW atau reserve margin sekitar 15,7 persen. Sebagai gambaran, pada akhir 2025 cadangan sistem masih berada di kisaran 71 MW sebelum berbagai peningkatan kapasitas pembangkit dilakukan.
Secara teknis, kondisi tersebut masih berada dalam batas aman operasional. Namun, pertumbuhan investasi pusat data membuat perhitungan kebutuhan energi menjadi jauh lebih dinamis. Satu proyek berskala hyperscale saja dapat membutuhkan daya yang mendekati, bahkan melampaui, total cadangan sistem yang tersedia saat ini.
Kondisi itulah yang membuat pengembangan pembangkit baru tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dipersiapkan jauh sebelum beban listrik benar-benar datang. Berbeda dengan jaringan distribusi yang dapat ditingkatkan dalam waktu relatif singkat, pembangunan pembangkit dan jaringan transmisi membutuhkan investasi besar serta waktu penyelesaian yang tidak sebentar.
Direktur Utama PT PLN Batam, Kwin Fo, mengatakan pihaknya memandang masuknya investasi pusat data sebagai peluang sekaligus tantangan baru bagi sistem kelistrikan Batam. Menurut dia, kebutuhan energi industri digital berbeda dengan pelanggan industri pada umumnya karena tidak hanya memerlukan daya besar, tetapi juga keandalan sistem yang sangat tinggi.
“Ketika investasi data center masuk ke Batam, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya gedung dan server. Yang sedang dibangun adalah ekosistem ekonomi digital baru. PLN Batam berkomitmen memastikan fondasi energi yang andal agar investasi tersebut dapat tumbuh, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian Batam,” ujarnya.
Komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui berbagai langkah penguatan sistem kelistrikan. Selain menambah kapasitas pembangkit, PLN Batam juga memperkuat jaringan transmisi agar mampu mengakomodasi lonjakan kebutuhan listrik dari kawasan industri digital yang terus berkembang.
Langkah antisipatif tersebut dinilai penting karena gelombang investasi belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Bahkan, proyek AI Factory yang dikembangkan Firmus Technologies bersama DayOne dengan dukungan NVIDIA diproyeksikan membutuhkan pasokan listrik hingga 360 MW pada tahap pengembangannya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan energi industri berbasis kecerdasan buatan jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional.
Siapkan Tambahan Listrik 2.070 MW
Menyikapi proyeksi lonjakan kebutuhan listrik, terutama dari industri pusat data (data center), PT PLN Batam telah menyiapkan rencana pengembangan sistem kelistrikan dalam jangka panjang.
Asisten Manager Komunikasi Korporat PLN Batam, Yoga Perdana, mengatakan penambahan kapasitas pembangkit akan dilakukan secara bertahap agar pertumbuhan investasi tetap diimbangi dengan ketersediaan energi yang memadai.
Hingga 2030, PLN Batam merencanakan penambahan kapasitas pembangkit sekitar 2.070 megawatt (MW) di luar pembangkit yang telah beroperasi saat ini. Penambahan tersebut disiapkan tidak hanya untuk mengakomodasi kebutuhan industri pusat data yang terus meningkat, tetapi juga menjaga kecukupan cadangan daya dan memperkuat keandalan sistem kelistrikan Batam-Bintan.
”Serta memastikan pasokan listrik bagi masyarakat dan sektor industri tetap aman di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Menurut Yoga, pengembangan pembangkit tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang PLN Batam dalam mendukung transformasi Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, jasa, sekaligus pusat pengembangan ekonomi digital nasional. Dengan perencanaan yang dilakukan sejak dini, PLN Batam menargetkan sistem kelistrikan mampu mengikuti laju investasi tanpa mengorbankan kualitas pelayanan kepada pelanggan eksisting.
Semakin banyak investasi digital masuk ke Batam, semakin besar pula tanggung jawab menjaga keandalan sistem kelistrikan. Sebab bagi industri pusat data, listrik bukan sekadar kebutuhan operasional. Ia adalah jantung yang menentukan apakah miliaran data dapat terus mengalir tanpa jeda.
Namun, energi bukan satu-satunya tantangan. Agar ribuan prosesor tetap bekerja pada suhu ideal, pusat data juga membutuhkan sistem pendingin yang andal. Di sinilah sumber daya lain mulai menjadi perhatian: air.
Air, Sumber Daya yang Tak Lagi Dianggap Biasa
Jika listrik merupakan jantung sebuah pusat data, maka air adalah sistem yang menjaga jantung itu tetap berdetak.
Di balik bangunan yang tampak sunyi, ribuan prosesor bekerja tanpa henti menghasilkan panas dalam jumlah besar. Tanpa sistem pendingin yang memadai, suhu perangkat dapat meningkat dalam hitungan menit dan berisiko menurunkan performa hingga mengganggu layanan digital yang melayani jutaan pengguna.
Karena itu, setiap pusat data selalu dirancang dengan sistem pendinginan berlapis. Persoalannya, teknologi pendingin yang digunakan sangat menentukan seberapa besar kebutuhan air selama fasilitas tersebut beroperasi.
Selama ini berkembang anggapan bahwa pusat data merupakan industri yang sangat boros air. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Pada pusat data generasi sebelumnya yang masih mengandalkan evaporative cooling, kebutuhan air memang dapat mencapai jutaan liter setiap hari, terutama pada fasilitas hyperscale yang berkapasitas sangat besar.
Sebagai gambaran, sejumlah pusat data di Amerika Serikat dengan kapasitas sekitar 100 MW dilaporkan menggunakan sekitar 2 juta liter air per hari. Pada kompleks data center berkapasitas 300 hingga 500 MW, kebutuhan air bahkan dapat meningkat menjadi 5 hingga 19 juta liter per hari, bergantung pada suhu lingkungan, tingkat kelembapan, dan desain sistem pendinginnya.
Apabila pendekatan tersebut diterapkan secara sederhana pada fasilitas berkapasitas sekitar 150 MW, kebutuhan air secara teoritis dapat mencapai kisaran 3 hingga 4 juta liter per hari, atau setara lebih dari 1.600 tandon air rumah tangga berkapasitas 2.500 liter, atau sekitar satu hingga dua kolam renang standar Olimpiade setiap hari.
Angka tersebut tentu terdengar sangat besar. Namun, perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah cara industri pusat data mengelola kebutuhan air.
Pusat data modern, terutama yang dirancang untuk mendukung komputasi berbasis artificial intelligence (AI), kini banyak beralih menggunakan closed-loop cooling system atau sistem pendinginan tertutup.
Berbeda dengan sistem evaporatif yang terus membutuhkan tambahan air, teknologi ini membuat air terus bersirkulasi di dalam jaringan pipa tertutup. Air berfungsi sebagai media penyerap panas dari prosesor, kemudian didinginkan kembali melalui heat exchanger atau cooling unit, sebelum dialirkan kembali ke sistem. Dengan mekanisme tersebut, air tidak dibuang setiap hari sebagaimana penggunaan domestik.
Country Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, Andrian Lesmono, mengatakan sistem pendinginan tertutup kini menjadi salah satu standar pada pusat data modern karena jauh lebih efisien dalam memanfaatkan sumber daya air.
“Data center modern menggunakan sistem sirkulasi tertutup sehingga penggunaan airnya sangat efisien. Air yang digunakan akan terus bersirkulasi dalam sistem dan tidak dibuang seperti penggunaan air rumah tangga pada umumnya,” ujarnya.
Menurut Andrian, air dalam sistem tersebut hanya memerlukan penambahan dalam jumlah relatif kecil untuk mengganti kehilangan akibat proses pemeliharaan, penguapan yang sangat terbatas, maupun kondisi operasional tertentu.
Berbagai kajian industri menunjukkan teknologi closed-loop cooling mampu mengurangi konsumsi air secara signifikan dibandingkan sistem pendinginan konvensional. Bahkan pada desain tertentu yang dipadukan dengan direct liquid cooling maupun dry cooler, kebutuhan air operasional dapat ditekan hingga mendekati nol karena hampir seluruh air terus digunakan kembali di dalam sistem.
Dengan kata lain, apabila pusat data konvensional berkapasitas sekitar 150 MW berpotensi memerlukan 3 hingga 4 juta liter air baru setiap hari, maka fasilitas dengan teknologi pendinginan tertutup hanya memerlukan tambahan air dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Air yang sama terus bersirkulasi sehingga konsumsi aktualnya tidak lagi sebanding dengan besarnya kapasitas listrik yang digunakan.
Penjelasan tersebut sejalan dengan berbagai kajian industri pusat data global. Dibandingkan sistem pendinginan evaporatif yang masih banyak digunakan pada pusat data generasi sebelumnya, teknologi closed-loop cooling mampu menekan kebutuhan air secara signifikan. Bergantung pada desain fasilitas, kondisi iklim, serta kombinasi teknologi pendingin yang digunakan, efisiensi penggunaan air dapat mencapai sekitar 80 hingga 95 persen karena sebagian besar air terus bersirkulasi di dalam sistem tertutup dan hanya memerlukan tambahan (make-up water) dalam jumlah terbatas untuk mengganti kehilangan akibat pemeliharaan maupun penguapan yang sangat kecil.
Dengan efisiensi tersebut, apabila sebuah pusat data konvensional berkapasitas sekitar 150 MW berpotensi membutuhkan sekitar 3 hingga 4 juta liter air baru per hari, maka fasilitas dengan closed-loop cooling diperkirakan hanya memerlukan tambahan air sekitar 150 ribu hingga 800 ribu liter per hari, sementara air utama tetap digunakan berulang melalui sistem sirkulasi tertutup. Besaran tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan tingkat efisiensi teknologi dan masih dapat berbeda pada setiap operator, bergantung pada rancangan pusat data yang dibangun.
Bagi Batam, perkembangan teknologi tersebut menjadi kabar baik. Sebab, sebagai kota kepulauan, Batam tidak memiliki sungai besar sebagai sumber air baku. Hampir seluruh kebutuhan air masyarakat maupun industri bergantung pada waduk-waduk yang menampung air hujan sebelum diolah menjadi air bersih.
Artinya, setiap tambahan investasi tetap harus dihitung berdasarkan daya dukung kawasan, tetapi teknologi pendinginan modern memberikan ruang yang lebih besar bagi efisiensi penggunaan air.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan seluruh kebutuhan utilitas, termasuk air bersih, telah dievaluasi sejak tahap awal perizinan.
“Kebutuhan air disesuaikan dengan desain masing-masing fasilitas. Seluruh kebutuhan utilitas dievaluasi sejak tahap perizinan,” katanya.
Kajian tersebut menjadi dasar BP Batam dalam menilai apakah suatu proyek dapat dikembangkan tanpa mengganggu pelayanan publik maupun keberlanjutan lingkungan.
Komitmen serupa juga disampaikan operator Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam. Corporate Communication PT Air Batam Hilir (ABHi) dan PT Air Batam Hulu (ABHu), Ginda Alamsyah, menegaskan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Saat ini kapasitas produksi air bersih Batam mencapai sekitar 4.463 liter per detik, dengan kapasitas desain instalasi pengolahan mencapai 4.710 liter per detik. Selisih kapasitas tersebut masih memberikan ruang pengembangan yang akan disesuaikan dengan kebijakan Badan Usaha SPAM BP Batam.
Selain mengoptimalkan produksi dan distribusi air, operator juga menjalankan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pengurangan kehilangan air (Non-Revenue Water/NRW), operasi modifikasi cuaca ketika debit waduk menurun, hingga optimalisasi efisiensi jaringan distribusi.
Dengan demikian, tantangan penyediaan air bagi industri digital tidak lagi hanya bergantung pada besarnya investasi yang masuk, melainkan juga pada teknologi yang digunakan untuk mengelola sumber daya tersebut.
Pada akhirnya, keberhasilan Batam sebagai pusat ekonomi digital bukan ditentukan oleh seberapa banyak listrik yang mampu dipasok atau seberapa besar kapasitas waduk yang dimiliki. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi, inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan pelayanan dasar kepada masyarakat.
Bukan Sekadar Gudang Server
Gelombang investasi pusat data yang kini mengalir ke Batam sesungguhnya bukan sekadar menghadirkan bangunan baru berisi ribuan server. Yang sedang dibangun jauh lebih besar dari itu, yakni fondasi sebuah ekosistem ekonomi digital yang akan menentukan arah pertumbuhan Batam dalam beberapa dekade mendatang.
Selama ini Batam dikenal sebagai salah satu basis industri manufaktur terbesar di Indonesia. Keunggulan tersebut dibangun melalui kawasan industri, pelabuhan internasional, kedekatan dengan Singapura, serta jaringan logistik yang terintegrasi. Kini, seluruh infrastruktur itu menjadi modal awal bagi lahirnya industri generasi baru yang bertumpu pada data, komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keamanan siber, hingga layanan digital bernilai tambah tinggi.
Karena itu, pembangunan pusat data tidak bisa lagi dipandang sebatas investasi properti atau penyedia ruang penyimpanan server. Di era ekonomi digital, pusat data telah menjadi infrastruktur strategis, sebagaimana pelabuhan bagi perdagangan internasional atau jalan tol bagi kawasan industri. Dari infrastruktur inilah berbagai layanan digital, aplikasi, sistem keuangan, hingga teknologi AI memperoleh fondasi untuk berkembang.
Artinya, manfaat ekonomi terbesar justru tidak berhenti di dalam bangunan pusat data itu sendiri. Nilai tambah akan muncul ketika ekosistem pendukung ikut bertumbuh, mulai dari perusahaan perangkat lunak, penyedia layanan digital, integrator sistem, keamanan siber, logistik, konstruksi, hingga berbagai profesi baru yang membutuhkan kompetensi teknologi tinggi.
Ketua APINDO Kota Batam, Rafki Rasyid, menilai gelombang investasi data center menjadi momentum penting bagi transformasi ekonomi Batam. Menurutnya, masuknya perusahaan-perusahaan teknologi global akan meningkatkan kepercayaan investor lain untuk ikut mengembangkan usaha di Batam.
“Kalau perusahaan-perusahaan teknologi besar sudah menanamkan modal di Batam, tentu perusahaan teknologi lainnya juga akan mengikuti. Batam bisa bertransformasi, dari yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri elektronik menjadi salah satu tujuan investasi perusahaan teknologi dunia,” ujarnya.
Rafki mengakui industri pusat data memang tidak menyerap tenaga kerja langsung sebanyak industri manufaktur karena sebagian besar operasionalnya telah didukung otomatisasi dan teknologi tinggi. Namun, dampak ekonomi yang ditimbulkan justru menyebar ke berbagai sektor pendukung yang selama ini belum banyak berkembang.
Efek berganda (multiplier effect) tersebut diperkirakan akan menciptakan peluang baru bagi perusahaan jasa konstruksi, instalasi kelistrikan, telekomunikasi, penyedia jaringan fiber optik, keamanan digital, layanan pemeliharaan fasilitas, konsultan teknologi, hingga pengembangan perangkat lunak. Bersamaan dengan itu, kebutuhan terhadap tenaga kerja berkeahlian di bidang AI, komputasi awan, analisis data, rekayasa jaringan, dan keamanan siber juga akan terus meningkat.
Di sisi lain, transformasi tersebut menghadirkan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, jaringan telekomunikasi, dan konektivitas digital harus terus tumbuh mengikuti laju investasi. Pada saat yang sama, pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri juga dituntut menyiapkan sumber daya manusia lokal agar mampu mengambil peran dalam ekosistem baru tersebut.
Sebab, sebesar apa pun investasi yang masuk, manfaatnya tidak akan optimal apabila talenta lokal belum siap mengisi kebutuhan industri. Begitu pula sebaliknya, ketersediaan tenaga kerja berkualitas tidak akan cukup apabila infrastruktur dasar tidak mampu mengikuti percepatan investasi.
Perdebatan mengenai pusat data di Batam bukan lagi soal menerima atau menolak investasi. Gelombang investasi itu sudah datang dan nilainya terus bertambah. Tantangan sesungguhnya kini bergeser pada memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung terencana, didukung infrastruktur yang memadai, dan manfaat ekonominya dirasakan masyarakat luas. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – AZIS MAULANA – YOFI YUHENDRI – RENGGA YULIANDAR – EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK