Buka konten ini

SEATTLE (BP) – Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) melontarkan kritik keras terhadap keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman larangan bermain penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. UEFA menilai keputusan tersebut berpotensi merusak integritas dan kredibilitas kompetisi karena mengabaikan kepastian penerapan aturan.
Dalam pernyataan resminya, Senin (6/7), UEFA menegaskan sepak bola hanya dapat berjalan adil apabila seluruh peserta tunduk pada aturan yang diterapkan secara konsisten.
“Ketika kepastian aturan tidak lagi dijaga, integritas permainan dipertaruhkan dan kredibilitas kompetisi ikut dirusak,” tegas UEFA.
Menurut UEFA, hukuman skorsing otomatis satu pertandingan setelah pemain menerima kartu merah merupakan ketentuan yang berlaku tanpa memerlukan penafsiran maupun keputusan tambahan dari badan disiplin.
Karena itu, keputusan FIFA menangguhkan pelaksanaan sanksi terhadap Balogun dinilai sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
UEFA menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi preseden berbahaya karena pemain lain yang mengalami kasus serupa selama turnamen tetap menjalani hukuman sesuai regulasi.
“Aturan itu berlaku otomatis dan tidak boleh dikesampingkan, apalagi ketika turnamen masih berlangsung,” tulis UEFA.
Lembaga sepak bola Eropa itu juga menegaskan bahwa Piala Dunia memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sepak bola global sehingga setiap keputusan harus menjaga prinsip keadilan dan konsistensi.
“Kami tidak memahami keputusan yang belum pernah terjadi dan sulit dibenarkan ini,” demikian pernyataan UEFA.
Belgia Ikut Melayangkan Protes
Keputusan FIFA juga menuai protes dari Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA). Federasi tersebut menilai Balogun seharusnya tetap menjalani skorsing saat Amerika Serikat menghadapi Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
RBFA menyebut keputusan FIFA bertentangan dengan Pasal 66.4 Kode Disiplin FIFA yang mengatur hukuman otomatis satu pertandingan bagi pemain yang menerima kartu merah.
Federasi Belgia juga menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan Regulasi Kompetisi Piala Dunia 2026 yang selama ini diterapkan secara konsisten kepada seluruh peserta.
“Kami sedang mengkaji seluruh langkah untuk melindungi prinsip fair play dalam kompetisi ini,” tegas RBFA.
Kontroversi bermula ketika Balogun menerima kartu merah langsung pada menit ke-64 saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina 2-0 pada babak 32 besar setelah melakukan pelanggaran terhadap Tarik Muharemovic.
Sesuai regulasi, Balogun seharusnya menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan sehingga absen pada laga 16 besar melawan Belgia.
Namun, FIFA memutuskan menangguhkan pelaksanaan skorsing selama masa percobaan satu tahun berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. Keputusan itu membuat Balogun tetap dapat memperkuat Amerika Serikat pada laga 16 besar.
Keputusan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan ulang hukuman Balogun. Trump bahkan mengucapkan terima kasih kepada FIFA melalui media sosial Truth Social setelah keputusan itu diumumkan.
Menurut laporan The New York Times, keputusan tersebut merupakan kasus pertama sejak 1962 ketika seorang pemain diizinkan tampil di Piala Dunia meski seharusnya menjalani hukuman skorsing akibat kartu merah. (Antara)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK