Buka konten ini

2. Seorang siswa menyiapkan kurma untuk berbuka puasa di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Kota Serang, Banten.
3. Sejumlah siswa antre mengambil menu makan berbuka puasa di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Kota Serang, Banten.
4. Wali asrama Misrudin (tengah) memberikan ceramah kultum atau ceramah singkat kepada siswa sebelum mengikuti tadarus Al Quran di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Kota Serang, Banten. Foto-foto ANTARA/M Bagus Khoirunnas
SEMARAK Ramadan tidak hanya terasa di masjid. Nilai kebaikan dan semangat beribadah juga terasa kuat dalam keseharian siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 37 Serang, Banten.
Sebanyak 94 siswa tingkat SD dan SMP tidak hanya menjalani kegiatan belajar mengajar seperti biasa, tetapi juga ditempa untuk memahami makna puasa secara lebih mendalam.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, namun menjadi momen bagi siswa untuk menumbuhkan kebersamaan, kemandirian, serta perjuangan mengendalikan diri.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan karakter sejak dini. Jam masuk sekolah yang biasanya dimulai pukul 07.00 WIB berubah menjadi pukul 08.00 WIB, sementara durasi belajar di kelas dipersingkat hingga menjelang waktu dzuhur.
Selama satu bulan penuh, kegiatan akademik disesuaikan untuk memberikan ruang lebih luas bagi penguatan spiritual bagi siswa, diantaranya pembiasaan shalat dhuha berjamaah, murajaah atau pengulangan hafalan surat pendek, pembacaan salawat Nabi, hingga penyampaian ceramah agama.
Menjelang maghrib, anak-anak mulai mengambil hidangan berbuka puasa dan duduk di tempat yang telah disediakan sebelum menjalankan shalat fardhu dan tarawih pada malam harinya.
Setiap aktivitas spiritual siswa dipantau melalui buku jurnal ibadah harian Ramadhan, mulai dari pelaksanaan shalat wajib lima waktu, tarawih, hafalan Al Quran, hingga perilaku baik selama bulan suci.
Catatan tersebut nantinya menjadi bagian dari penilaian rapor asrama yang menilai kemandirian serta kebiasaan positif para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya pembentukan karakter ini tidak berhenti pada hari sekolah. Siswa bergotong royong membersihkan lingkungan asrama saat akhir pekan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menanamkan nilai kebersihan sekaligus membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kedisiplinan yang dibangun selama tinggal di asrama itu dijaga 10 orang wali asuh yang berperan sebagai pengganti orang tua. Pada bulan Ramadhan ini kunjungan rutin orang tua ditiadakan dan menggabungkannya dengan waktu penjemputan menjelang libur Idul Fitri.
Pembinaan terhadap para siswa tidak berhenti ketika mereka meninggalkan asrama. Sebelum siswa pulang ke rumah masing-masing, orang tua juga diberikan arahan khusus agar turut memantau dan menjaga kebiasaan baik yang telah dibentuk selama di sekolah.
“Kementerian sosial tidak lepas tanggung jawab. Nanti ada kunjungan ke rumah dari wali asuh untuk mengecek sejauh mana perkembangan siswa di rumah, sekaligus memastikan kebiasaan ibadah dan perilaku sosial yang baik selama di asrama tetap dilakukan,” kata Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Ria Sepriani. (Antara)
Reporter : MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Editor : AGNES DHAMAYANTI