Buka konten ini
TOKYO (BP) – Jepang dan Indonesia sepakat menjajaki kerja sama pertahanan yang lebih erat, termasuk kemungkinan berbagi informasi maritim sensitif dan mempercepat pembahasan terkait ekspor kapal perusak Jepang ke Indonesia.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, melakukan pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin saat berkunjung ke Indonesia, Jumat (13/6).
Dalam pertemuan itu, Koizumi menilai peningkatan kemampuan pertahanan maritim Indonesia akan memberikan kontribusi penting bagi stabilitas kawasan. Menurut dia, posisi Indonesia yang berada di jalur pelayaran strategis dunia menjadikan penguatan kemampuan maritim memiliki dampak luas bagi keamanan regional.
“Peningkatan kemampuan penangkalan maritim Indonesia juga akan berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas Jepang serta kawasan yang lebih luas,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Jepang.
Pemerintah Jepang menyebut Presiden Prabowo sependapat bahwa kedua negara perlu memperkuat kerja sama dalam menjaga keamanan maritim. Prabowo juga menyampaikan harapan agar kerja sama di bidang peralatan pertahanan dapat menghasilkan kemajuan yang konkret.
Sebelumnya, pekan lalu, pejabat pertahanan Jepang dan Indonesia telah menyepakati dimulainya pembicaraan tingkat kerja mengenai kemungkinan ekspor kapal perusak kelas Asagiri milik Jepang ke Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Jepang mempererat hubungan strategis dengan negara-negara Asia Tenggara di tengah meningkatnya pengaruh Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam pertemuan terpisah, Koizumi dan Sjafrie juga sepakat mendorong kemitraan pertahanan yang lebih komprehensif melalui pembahasan transfer alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Kerja sama yang dibahas tidak hanya mencakup pengadaan peralatan pertahanan, tetapi juga pelatihan personel, pemeliharaan, serta operasional sistem pertahanan.
Kapal perusak kelas Asagiri yang dioperasikan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang memiliki kemampuan membawa helikopter dan rudal antikapal selam. Kapal pertama dalam kelas tersebut mulai beroperasi pada 1988 dan hingga kini masih menjadi bagian dari armada pertahanan maritim Jepang. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY