Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura dinilai memasuki babak baru seiring transformasi ekonomi yang tengah dijalankan pemerintah Indonesia. Penguatan hilirisasi industri, pendalaman pasar keuangan domestik, serta upaya meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional disebut akan membentuk pola relasi yang lebih seimbang antara kedua negara.
Penilaian tersebut disampaikan Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti. Ia menilai, relasi Indonesia–Singapura tidak lagi semata bertumpu pada perdagangan dan investasi konvensional, tetapi juga pada dinamika baru dalam struktur ekonomi kawasan.
“Indonesia dan Singapura bukan hanya bertetangga karena geografi, tetapi juga karena sejarah dan takdir kawasan. Di antara keduanya hanya terbentang selat sempit, tetapi hubungan itu jauh lebih tua daripada batas-batas negara modern,” kata Azis di Jakarta, Jumat (12/6).
Azis menjelaskan, selama puluhan tahun kedua negara berkembang dengan peran yang saling melengkapi. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, serta posisi geopolitik strategis. Sementara Singapura tumbuh sebagai pusat keuangan, perdagangan, logistik, dan jasa internasional di Asia Tenggara.
Namun, ia menilai transformasi ekonomi Indonesia saat ini memunculkan sejumlah isu strategis yang perlu dicermati bersama. Di antaranya arus investasi yang masuk melalui Singapura, penggunaan perusahaan induk di negara tersebut oleh pelaku usaha Indonesia, hingga potensi praktik pengalihan keuntungan (profit shifting) dan nilai perdagangan lintas negara.
“Ini bukan semata persoalan hukum atau perpajakan, tetapi menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana nilai yang lahir dari Indonesia benar-benar kembali kepada Indonesia,” ujarnya.
Menurut Azis, dugaan manipulasi nilai ekspor atau kebocoran penerimaan negara tentu harus dibuktikan melalui mekanisme hukum yang berlaku. Namun, apabila praktik tersebut benar terjadi, dampaknya bisa signifikan terhadap ruang fiskal negara.
“Penerimaan negara yang bocor berarti berkurangnya kemampuan pemerintah membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial. Itu sebabnya isu ini harus dilihat sebagai kepentingan nasional,” katanya.
Azis menegaskan, berbagai kebijakan strategis pemerintah seperti hilirisasi mineral, pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik, penguatan pengawasan ekspor, serta perbaikan tata kelola fiskal merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional agar tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.
Azis berharap, hubungan Indonesia dan Singapura ke depan tetap dibangun di atas prinsip saling percaya, keterbukaan, dan kerja sama yang mendukung stabilitas serta pertumbuhan kawasan Asia Tenggara. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR