Buka konten ini

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026, memicu beragam reaksi masyarakat. Tidak hanya mengejutkan konsumen, kebijakan tersebut juga menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Batam.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada BBM jenis Pertamax dengan RON 92. Di Batam, harga Pertamax yang sebelumnya Rp11.750 per liter melonjak menjadi Rp15.500 per liter. Sementara itu, harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap bertahan di level Rp19.700 per liter.
Lonjakan harga tersebut membuat sejumlah warga terkejut. Salah satunya Diana, pengguna Pertamax yang mengaku tidak menyangka harga BBM yang biasa digunakannya naik drastis hanya beberapa hari setelah Pertamina menurunkan harga BBM nonsubsidi pada awal Juni.

”Saya benar-benar kaget melihat angka di dispenser. Beberapa hari lalu masih isi Pertamax dengan harga lama, sekarang sudah naik jauh,” ujar Diana.
Menurut dia, kenaikan harga BBM cukup memberatkan masyarakat yang setiap hari mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja dan beraktivitas. Ia berharap pemerintah maupun Pertamina memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai alasan kenaikan tersebut.
”Baru saja turun, sekarang naik lagi. Masyarakat tentu bingung karena perubahannya sangat cepat,” katanya.
Kondisi itu juga memicu antrean panjang di sejumlah SPBU. Pada hari pertama pemberlakuan harga baru, kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat memadati area pengisian BBM sejak pagi, terutama di kawasan Batuaji dan Tanjunguncang.
Di SPBU Jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang, antrean kendaraan mengular hingga keluar area SPBU. Pengendara terlihat mematikan mesin sembari menunggu giliran mengisi bahan bakar.
Situasi serupa terjadi di SPBU Tembesi Centre, Batuaji. Barisan kendaraan memanjang hingga ke badan jalan dan didominasi mobil pribadi, kendaraan operasional perusahaan, angkutan umum, serta sepeda motor.
Dayat, seorang pengendara sepeda motor, mengaku khawatir kenaikan harga Pertamax akan mendorong banyak pengguna beralih ke Pertalite.
”Sekarang saja antrean Pertalite sudah panjang. Kalau pengguna Pertamax ikut pindah, antreannya bisa semakin panjang. Jangan sampai akhirnya Pertalite menjadi langka,” ujarnya.
Menurut Dayat, dampak kenaikan BBM berpotensi menjalar ke berbagai sektor karena biaya distribusi barang ikut meningkat.
”Kenaikan BBM biasanya berimbas ke banyak hal. Ongkos distribusi naik, harga barang juga bisa ikut naik,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Wahyono, pengemudi mobil yang mengaku telah mengantre sejak pagi di SPBU Tanjunguncang.
”Kalau biaya operasional naik, dampaknya bisa ke mana-mana. Biaya transportasi bertambah dan harga kebutuhan pokok bisa ikut terdorong naik,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian pengguna kendaraan tetap memilih Pertamax karena mempertimbangkan spesifikasi mesin dan performa kendaraan. Namun tidak sedikit yang mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan dan mempertimbangkan beralih ke Pertalite untuk menekan biaya operasional.
Berbeda dengan Batam, di Kota Tanjungpinang, harga Pertamax kini mencapai Rp17.000 per liter, naik signifikan dari sebelumnya Rp12.900 per liter.
Pantauan di SPBU Jalan D.I. Panjaitan, Tanjungpinang, jumlah pengendara yang mengisi Pertamax terlihat tidak seramai biasanya. Hanya beberapa sepeda motor yang tampak mengantre di jalur pengisian BBM nonsubsidi tersebut.
Pengawas SPBU setempat, Yogi, mengatakan harga baru Pertamax mulai diberlakukan sejak pagi hari sesuai ketentuan yang ditetapkan Pertamina.
“Setelah keputusan baru, pagi ini kami langsung menerapkan harga Rp17.000 per liter untuk Pertamax. Kemarin masih di kisaran Rp12 ribuan per liter,” ujarnya.
Meski demikian, Yogi menyebut dampak kenaikan harga tersebut belum terlihat signifikan. Hingga saat ini masih ada konsumen yang tetap memilih menggunakan Pertamax.
Ia menjelaskan, kuota Pertamax di SPBU tersebut mencapai sekitar 8 ton per pekan. Sementara kuota Pertalite mencapai 16 ton per hari.
“Sejauh ini belum ada rencana menambah kuota Pertalite untuk mengantisipasi kemungkinan perpindahan pengguna Pertamax. Karena sampai sekarang dampaknya belum terlalu terlihat,” katanya.
Salah seorang pengguna Pertamax, Lusiana, mengaku terkejut saat mengetahui harga BBM yang biasa digunakannya mengalami kenaikan cukup tinggi.
Menurut dia, sebelumnya uang Rp45 ribu sudah cukup untuk mengisi penuh tangki sepeda motornya. Namun, setelah harga naik, nominal tersebut tidak lagi mampu mengisi tangki hingga penuh.
“Tadi saya isi Rp45 ribu, ternyata sudah tidak penuh lagi. Kalau sebelumnya masih bisa penuh,” ujarnya.
Lusiana mengaku mulai mempertimbangkan beralih ke BBM yang lebih murah untuk menghemat pengeluaran sehari-hari.
“Rencananya nanti mau beralih ke yang lebih murah saja,” katanya.
Pertamina: Demi Jaga Pasokan
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, membenarkan adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
”Per hari ini (kemarin) terdapat penyesuaian harga untuk BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green. Penyesuaian dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala dan mengacu pada regulasi pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penetapan harga mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain perkembangan harga minyak dunia, harga pasar keekonomian, serta formula yang ditetapkan pemerintah.
Fahrougi memastikan pasokan dan pelayanan BBM di seluruh SPBU wilayah Regional Sumbagut tetap berjalan normal.
”Kami memastikan pelayanan dan pasokan BBM di SPBU tetap aman dan normal. Masyarakat dapat memperoleh BBM sesuai kebutuhan di lembaga penyalur resmi Pertamina,” katanya.
Ia menambahkan, harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar Rp6.800 per liter.
Sementara itu, Vice President Commercial and Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan kenaikan harga dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan BBM nasional di tengah melonjaknya biaya impor akibat gejolak geopolitik global.
”Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar tetap ada barangnya,” kata Sigit dalam Sarasehan Energi di Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/6).
Menurut dia, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mendorong kenaikan harga BBM impor. Di sisi lain, Pertamina sempat menahan harga BBM nonsubsidi sejak Maret hingga awal Juni demi menjaga daya beli masyarakat.
Namun kebijakan tersebut membuat kemampuan impor BBM menjadi semakin terbatas karena harga beli jauh lebih tinggi dibanding harga jual di dalam negeri.
”Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, tetapi menjualnya di domestik dengan harga yang lebih rendah,” ujarnya.
Karena itu, setelah melalui pembahasan bersama pemerintah, Pertamina memutuskan melakukan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green guna menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
Pengamat: Langkah Realistis
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kenaikan harga Pertamax merupakan langkah yang realistis mengingat produk tersebut termasuk BBM nonsubsidi yang mengikuti mekanisme pasar.
”RON 92 atau Pertamax merupakan BBM nonsubsidi. Harganya memang ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar sesuai harga keekonomian,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah sebenarnya telah berupaya menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Namun, beban fiskal yang terus meningkat membuat kebijakan tersebut sulit dipertahankan.
Menurut Fahmy, tantangan berikutnya adalah mengantisipasi perpindahan konsumen Pertamax ke Pertalite yang dapat memperbesar beban subsidi energi.
Sementara itu, ekonom dari Universitas Negeri Manado, Robert Winerungan, menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga kesehatan APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global.
”Pemerintah berupaya mengurangi beban APBN karena Pertamax sejatinya bukan BBM yang mendapat intervensi pemerintah. Yang memperoleh subsidi adalah Pertalite,” ujarnya. (***)
Reporter : YASHINTA – AZIS MAULANA – MOHAMAD ISMAIL – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK