Buka konten ini

BATAM (BP) – BP Batam menyiapkan anggaran sekitar Rp3 triliun untuk program revitalisasi jaringan perpipaan air bersih dalam beberapa tahun ke depan. Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan sekaligus menekan tingkat kehilangan air atau non-revenue water (NRW) yang masih menjadi tantangan utama sistem penyediaan air minum di Batam.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Deni Tondano, mengatakan peremajaan jaringan pipa menjadi langkah strategis untuk memperkuat distribusi air bersih seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan industri yang terus meningkat.
”Kebutuhan anggaran untuk peremajaan atau penggantian pipa di Batam diperkirakan mencapai kurang lebih Rp3 triliun,” ujar Deni, Selasa (9/6).
Menurut dia, BP Batam menargetkan tingkat kehilangan air dapat ditekan hingga berada di bawah 10 persen pada 2040. Untuk mencapai target tersebut, berbagai program perbaikan dilakukan secara bertahap, mulai dari rehabilitasi jaringan perpipaan, pemantauan dan penanganan kebocoran, penggantian meter pelanggan, hingga digitalisasi pencatatan meter melalui sistem Automatic Meter Read (AMR).
”Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai target NRW tersebut. Karena itu berbagai program perbaikan jaringan dan modernisasi sistem terus kami jalankan,” katanya.
Selain membenahi jaringan distribusi, BP Batam juga meningkatkan kapasitas pasokan air baku guna mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan di masa depan. Salah satu langkah yang dipersiapkan adalah pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut sebagai sumber air alternatif.
Untuk kebutuhan jangka pendek, BP Batam tengah membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Ladi berkapasitas 50 liter per detik yang ditargetkan memperkuat pasokan ke kawasan Baloi, Tanjunguma, dan Tiban.
Di sektor distribusi, sejumlah proyek penguatan jaringan juga sedang berjalan. Salah satunya pembangunan jalur distribusi Duriangkang–Sukajadi–Ozon–Bukit Senyum yang akan memperkuat suplai air ke Baloi, Nagoya, Bengkong, Batu Merah, hingga Tanjung Sengkuang.
Pekerjaan serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah lain seperti Tanjunguma, Bengkong, Batuaji, Sekupang, Piayu, dan Nongsa. Menurut Deni, kapasitas pipa di beberapa kawasan saat ini sudah mendekati batas maksimal sehingga peningkatan jaringan menjadi kebutuhan mendesak.
”Kami melihat di beberapa wilayah kapasitas pipa yang ada memang sudah berada pada batas maksimal. Karena itu pekerjaan perpipaan menjadi prioritas agar kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi,” jelasnya.
BP Batam juga mulai menerapkan sistem interkoneksi antarjaringan distribusi untuk mengurangi dampak gangguan ketika terjadi kebocoran pada pipa utama. Dengan sistem tersebut, suplai air dapat dialihkan dari wilayah lain sehingga pelayanan kepada pelanggan tetap terjaga.
Meski demikian, cakupan interkoneksi saat ini masih terbatas dan akan terus diperluas dalam pembangunan jaringan berikutnya.
”Ke depan setiap pembangunan jalur pipa utama akan memperhitungkan konektivitas antarwilayah layanan sehingga dampak gangguan dapat diminimalkan,” ujarnya.
Terkait keluhan masyarakat terhadap gangguan distribusi air, Deni menegaskan BP Batam tetap melakukan evaluasi terhadap operator pengelola air bersih sesuai perjanjian kerja sama yang berlaku. Sanksi dapat diberikan apabila ditemukan kinerja yang tidak memenuhi standar pelayanan.
”Sanksi atau evaluasi akan diberikan kepada PT Air Batam Hilir dan PT Air Batam Hulu sebagaimana telah diatur dalam perjanjian kerja sama,” tegasnya.
Sementara untuk wilayah yang masih mengalami gangguan layanan, seperti Batu Merah dan Tanjung Sengkuang, distribusi air menggunakan mobil tangki tetap dilakukan sebagai solusi darurat hingga perbaikan jaringan selesai. ”Pengiriman air bersih ke wilayah Tanjung Sengkuang dan Batu Merah merupakan salah satu bentuk upaya kami sebagai penyelenggara SPAM di Batam untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih,” kata Deni. (*)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK