Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan melakukan pemantauan terhadap warga yang pulang dari Kamboja setelah bekerja di jaringan scam online.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya praktik penipuan daring serupa di wilayah Kepri.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BP2D) Kepri, Doli Boniara, mengatakan hingga saat ini tercatat puluhan warga Kepri telah kembali ke tanah air setelah bekerja di Kamboja. Sebagian besar diketahui pulang secara mandiri.
“Data pastinya belum bisa saya sampaikan. Namun sejauh ini sudah ada puluhan warga Kepri yang kembali dari Kamboja,” kata Doli, Selasa (9/6).
Menurutnya, BP2D terus berkoordinasi dengan Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri untuk memperoleh data terbaru terkait jumlah warga Kepri yang masih berada di negara tersebut.
Selain itu, pihaknya juga menerima informasi bahwa masih ada sejumlah warga Kepri yang terjebak di Kamboja, termasuk yang berhadapan dengan proses hukum karena diduga terlibat dalam aktivitas penipuan.
“Kami juga meminta KBRI di Kamboja memastikan warga Kepri yang berada di sana tidak mendapat perlakuan yang tidak manusiawi,” ujarnya.
Doli menegaskan, warga yang pernah bekerja di jaringan scam online memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait modus penipuan digital. Karena itu, pemerintah bersama instansi terkait akan melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan praktik serupa berkembang di daerah.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Jangan sampai mereka melakukan hal yang sama di Kepri karena itu merupakan tindak kejahatan penipuan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di Kamboja dengan iming-iming gaji tinggi. Pasalnya, Kamboja bukan merupakan negara penempatan resmi bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
“Jangan mudah percaya dengan tawaran kerja bergaji besar di luar negeri, terutama ke negara yang bukan tujuan resmi penempatan PMI,” katanya. (*)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY