Buka konten ini

KAWASAN Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) kembali menjadi fokus penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Singapura. Selain investasi, kedua negara sepakat memperluas kolaborasi pada sektor ekonomi digital, pusat data (data center), hingga energi hijau yang dinilai menjadi mesin pertumbuhan baru kawasan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan kawasan BBK menunjukkan perkembangan yang semakin strategis. Pada 2025, nilai investasi yang masuk ke kawasan tersebut tercatat mencapai 5,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp92 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
”Kerja sama di BBK pada 2025 mencatat investasi sebesar 5,7 miliar dolar AS dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Airlangga usai Pertemuan Menteri ke-16 Six Bilateral Economic Working Groups Ministerial Meeting (6WG MM) di Jakarta, Selasa (9/6).
Menurut Airlangga, pemerintah juga terus memperkuat status kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ) Batam yang kini telah diperluas dari delapan menjadi 22 pulau. Di saat yang sama, pengembangan Nongsa Digital Park terus didorong untuk mengakomodasi pertumbuhan industri digital dan pusat data yang semakin pesat.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Singapura juga membahas pengembangan kawasan ekonomi digital regional melalui sinergi Singapura-Johor-Riau. Konsep tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pusat data yang terintegrasi dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru di kawasan ASEAN.
”Kita sedang berbicara bagaimana menyinergikan Singapura-Johor-Riau untuk menjadi data center regional. Ini sedang dibahas dan sifatnya sangat strategis,” kata Airlangga.
Ia menilai sektor digital memiliki prospek besar karena relatif tidak terdampak gejolak geopolitik global dibandingkan sektor ekonomi berbasis rantai pasok konvensional.
Selain ekonomi digital, kerja sama kedua negara juga diperkuat melalui pengembangan energi hijau. Salah satunya melalui proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hasil kolaborasi Sembcorp dan PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA) yang saat ini memasuki tahap konstruksi.
Proyek tersebut memiliki kapasitas 200 megawatt (MW) dan dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai sebesar 80 megawatt hour (MWh). Pembangunan ditargetkan rampung pada 2027 dan menjadi salah satu PLTS skala utilitas terbesar di Indonesia.
Dalam pernyataan bersama, Indonesia dan Singapura juga sepakat melakukan studi bersama sektor teknologi di kawasan BBK. Kajian tersebut bertujuan mengidentifikasi peluang investasi baru sekaligus menyusun rekomendasi konkret guna mempercepat transformasi BBK sebagai pusat ekonomi digital regional.
Wakil Perdana Menteri Singapura merangkap Menteri Perdagangan dan Industri, Gan Kim Yong, menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi pelaku usaha Singapura.
Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan dukungan sumber daya alam, tenaga kerja, serta pasar yang besar.
”Para pengusaha Singapura tetap memiliki minat yang kuat terhadap Indonesia. Saya pikir kita akan terus melihat investasi mengalir ke Indonesia,” ujar Yong.
Ia mencatat realisasi investasi Singapura ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 17,4 miliar dolar AS atau setara Rp315 triliun. Angka tersebut menempatkan Singapura sebagai salah satu investor asing terbesar di Indonesia.
Bagi Batam, penguatan kerja sama tersebut menjadi sinyal positif. Selain memperkuat posisi kawasan sebagai tujuan investasi industri dan logistik, Batam juga semakin diproyeksikan sebagai pusat ekonomi digital dan energi hijau yang terhubung langsung dengan jaringan bisnis internasional di Singapura dan kawasan Asia Tenggara. (***)
Laporan : ANTARA
Editor : RATNA IRTATIK