Buka konten ini

TANGERANG (BP) – Isak tangis dan suasana haru menyelimuti kedatangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam relawan Global Sumud Flotilla di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5).
Kedatangan mereka disambut langsung Menteri Luar Negeri, Sugiono serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari. Para relawan tiba sekitar pukul 16.20 WIB sambil membawa bendera Merah Putih kecil dan mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina.
Sembilan WNI tersebut terdiri atas empat jurnalis nasional, yakni Thoudy Badai dan Bambang Noroyono dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari TV Tempo, serta Rahendro Herubowo, mantan jurnalis iNews. Sementara lima lainnya merupakan aktivis kemanusiaan, yakni Andi Angga, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasono, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.
Kepulangan mereka disambut hangat keluarga dan kerabat yang sejak siang menunggu di terminal kedatangan internasional.
Dalam kesempatan itu, Herman Budianto mengungkap pengalaman pahit selama ditangkap dan ditahan tentara Israel. Relawan asal Ponorogo, Jawa Timur, itu mengaku mengalami penyiksaan selama empat hari dengan perlakuan yang disebut sangat brutal.
“Kami menyampaikan bahwa penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan IOF itu nyata, sangat keji, sangat brutal, dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang sekitar empat hari melakukan penyiksaan,” ujar Herman dengan suara bergetar.
Ia mengungkapkan banyak relawan mengalami cedera serius akibat kekerasan selama penahanan. Beberapa di antaranya mengalami patah tulang hingga luka tembak.
“Banyak sekali yang mengalami cedera berat. Rusuk patah ada sekitar 40 orang, patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak dan seterusnya,” katanya.
Tak hanya kekerasan fisik, Herman juga menyoroti dugaan pelecehan seksual yang dialami sejumlah relawan, baik laki-laki maupun perempuan.
“Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima, baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut,” ungkapnya.
Menurut Herman, para relawan diperlakukan tidak manusiawi selama berada dalam tahanan. Mereka dipaksa berjalan merangkak dan terus menunduk tanpa boleh menatap wajah tentara Israel.
“Kami harus berjalan selalu menunduk, tidak boleh menatap mereka. Kami pun tidur di lantai tanpa selimut dalam kondisi baju basah,” tuturnya.
Herman tak kuasa menahan tangis saat menceritakan pengalaman tersebut. Meski demikian, ia menilai penderitaan rakyat Palestina jauh lebih berat dibanding apa yang dialaminya selama ditahan.
“Karena saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan kami. Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan, yang tentu tidak patut untuk berbangga atau merasa penting. Tapi mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina,” ujarnya sambil menahan tangis.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri, Sugiono mengecam tindakan Israel terhadap para relawan kemanusiaan, termasuk WNI yang terlibat dalam misi Global Sumud Flotilla.
Menurut dia, perlakuan yang diterima para relawan merupakan pelanggaran hukum internasional karena mereka merupakan warga sipil yang membawa misi kemanusiaan ke Palestina.
“Indonesia kembali mengecam perlakuan yang diberikan kepada saudara-saudara kita. Jelas merupakan suatu pelanggaran hukum internasional,” ujar Sugiono.
Ia menegaskan, para relawan dari Indonesia datang ke Palestina semata-mata untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza.
“Mereka adalah masyarakat sipil yang mengusahakan bantuan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita yang ada di Palestina,” katanya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK