Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Memasuki musim penghujan dan cuaca yang tidak menentu, kasus sejumlah penyakit di Kota Batam mulai menunjukkan peningkatan, meski masih dalam kategori terkendali.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat penyakit yang paling sering ditemukan dalam beberapa pekan terakhir meliputi demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau influenza, serta diare.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan peningkatan kasus tersebut merupakan hal yang lazim terjadi saat musim hujan dan masa pancaroba.
“Penyakit yang sering muncul di musim penghujan adalah DBD, ISPA atau influenza, dan diare,” ujar Didi, Rabu (20/5).
Ia menjelaskan, hingga akhir April 2026 jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 26 kasus. Sementara hingga 19 Mei 2026 terdapat tambahan 20 kasus. Kendati mengalami kenaikan, angka tersebut dinilai belum menunjukkan lonjakan signifikan.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah kasus DBD di Batam justru mengalami penurunan. Hingga April 2025 tercatat sebanyak 191 kasus, sedangkan pada April 2026 turun menjadi 142 kasus.
“Untuk kasus ISPA dan diare di bulan April juga ada peningkatan, tetapi tidak signifikan,” katanya.
Dinkes Batam mencatat wilayah dengan kasus DBD tertinggi saat ini berada di Kecamatan Sagulung dan Batuaji. Kedua kawasan tersebut dinilai rawan karena masih ditemukan genangan air serta kondisi lingkungan yang kurang bersih, sehingga berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Menurut Didi, peningkatan kasus DBD tidak terlepas dari faktor kebersihan lingkungan dan perubahan cuaca selama masa pancaroba.
“Kasus DBD terjadi akibat kurangnya menjaga kebersihan lingkungan, kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta peralihan musim,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Batam telah menerbitkan dan menyosialisasikan Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 8 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan Dini Peningkatan Kasus DBD.
Selain itu, berbagai upaya pencegahan juga terus digencarkan, seperti Gerakan 3M Plus dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui penyuluhan di puskesmas, posyandu, sekolah, hingga kegiatan gotong royong di lingkungan warga.
Dinkes juga melakukan pengasapan (fogging) di lokasi yang ditemukan kasus DBD dengan radius sekitar 100 meter. Namun, sebelum fogging dilakukan, masyarakat bersama pengurus RT diminta melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan gotong royong.
“Fogging bukan solusi utama. Yang paling penting adalah PSN dan menjaga lingkungan tetap bersih,” tegasnya.
Didi memastikan fasilitas kesehatan di Batam, baik puskesmas maupun rumah sakit, dalam kondisi siap menghadapi potensi peningkatan pasien selama musim hujan, termasuk ketersediaan obat-obatan dan cairan infus.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit.
“Agar selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat, melaksanakan PSN, mengoptimalkan G1R1J, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta segera memeriksakan diri jika demam,” pungkasnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO