Buka konten ini
MAKKAH (BP) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus mematangkan skema murur dan tanazul menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Langkah itu dilakukan demi menjaga keselamatan dan kenyamanan jemaah haji Indonesia, khususnya yang masuk kategori risiko tinggi (risti), lansia, dan disabilitas.
Melalui skema murur, jemaah haji risiko tinggi, lansia, serta pendampingnya akan langsung diberangkatkan dari Arafah menuju Mina setelah menjalani wukuf tanpa harus turun maupun mabit di Muzdalifah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, mengatakan langkah tersebut diambil untuk mengurangi kepadatan di Muzdalifah sekaligus melindungi kondisi kesehatan jemaah yang rentan.
“Karena keterbatasan ruang di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid, dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” ujar Puji di Makkah, Sabtu (16/5).
Ia menjelaskan, jemaah yang mengikuti skema murur akan langsung menaiki bus dari Arafah menuju Mina seusai wukuf. Dengan demikian, mereka tidak perlu turun di Muzdalifah ataupun menunggu hingga tengah malam untuk melanjutkan perjalanan.
Menurut Puji, secara umum terdapat empat kelompok jemaah yang akan mengikuti skema murur, yakni lansia, jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid, penyandang disabilitas, dan para pendampingnya.
Sementara itu, jemaah dengan kondisi fisik sehat tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah sebelum diberangkatkan menuju Mina setelah lewat tengah malam.
Saat ini, PPIH Arab Saudi bersama Satuan Operasi Armuzna masih memfinalisasi mekanisme teknis, pembagian jemaah, serta prosedur operasional standar (SOP) pelaksanaan murur maupun tanazul.
Selain murur, PPIH juga menyiapkan skema tanazul bagi jemaah yang tinggal di wilayah Syisyah dan Raudhah. Dalam skema ini, jemaah tetap melaksanakan lontar jumrah, tetapi tidak menginap di tenda Mina melainkan di hotel-hotel yang berada lebih dekat dengan area jamarat.
Hotel tersebut dinilai memiliki akses yang lebih dekat dibandingkan tenda jemaah Indonesia di Mina sehingga diharapkan dapat mengurangi beban mobilitas jemaah saat puncak haji.
PPIH tetap menyiapkan layanan safari wukuf khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas dengan peserta sekitar 300 hingga 400 orang.
Periode Armuzna Pakai Makanan Ready to Eat
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan makanan siap saji atau ready to eat (RTE) bagi jemaah haji Indonesia selama masa puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Itu karena distribusi makanan segar dipastikan terhenti selama periode Armuzna akibat kepadatan dan keterbatasan akses logistik.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kementerian Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan makanan RTE akan dibagikan mulai 7 hingga 13 Zulhijah 1447 Hijriah.
Sejak dua hari sebelum wukuf hingga berakhirnya hari tasyrik, konsumsi jemaah haji sepenuhnya menggunakan makanan siap saji.
“Makanan RTE untuk dapur-dapur akan tersedia untuk tanggal 7, 8 pagi, dan 13 Zulhijah sore, saat pra dan pasca Armuzna,” ujar Jaenal.
Sementara untuk konsumsi pada 8 Zulhijah siang hingga 13 Zulhijah pagi, kata dia, makanan telah disiapkan oleh pihak syarikah, yakni Dhuyuful Bait dan Rakeen.
Secara keseluruhan, selama lima hari masa puncak haji, jemaah akan mendapatkan makanan sebanyak 15 kali atau tiga kali sehari. (***)
Laporan : JP GROUP – ANTARA
Editor : RATNA IRTATIK