Buka konten ini

Anggota Departemen Kajian Transportasi dan Konektivitas Wilayah Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB)
INSIDEN mobil listrik yang mengalami gangguan saat melintasi perlintasan kereta api (KA) kembali memantik perhatian publik. Namun, cara kita membaca peristiwa itu perlu diluruskan. Terlalu cepat menyimpulkan bahwa kendaraan listrik tidak kompatibel dengan rel kereta justru berisiko menyesatkan arah diskusi dan kebijakan.
Persoalan yang kita hadapi sesungguhnya bukan terletak pada teknologinya. Yang terlihat justru kegagalan sistem transportasi dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Secara teknis, kendaraan listrik modern telah dirancang dengan standar keamanan tinggi, termasuk perlindungan terhadap gangguan elektromagnetik. Karena itu, ketika sebuah kendaraan berhenti di atas rel, penjelasan yang lebih masuk akal adalah adanya kombinasi persoalan infrastruktur, desain perlintasan, serta kelemahan sistem keselamatan yang mengitarinya.
Dengan kata lain, yang belum siap bukan mobil listriknya, melainkan ekosistem yang seharusnya mendukungnya.
Titik Rentan
Perlintasan sebidang selama ini menjadi titik paling rentan dalam sistem transportasi nasional. Banyak di antaranya masih mengandalkan mekanisme manual, dengan dukungan teknologi terbatas dan desain yang tidak lagi relevan dengan perkembangan kendaraan modern.
Kita sedang memasuki era kendaraan berbasis digital, tetapi pada saat yang sama masih bertumpu pada infrastruktur dengan standar keselamatan yang tertinggal puluhan tahun. Ketimpangan itu bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menunjukkan adanya kelemahan dalam perencanaan yang bersifat mendasar.
Karakteristik kendaraan listrik yang bergantung pada sistem elektronik, sensor, dan perangkat lunak menuntut dukungan infrastruktur yang lebih presisi dan adaptif. Tanpa itu, titik kritis seperti perlintasan kereta akan terus menjadi sumber risiko yang berulang.
Di sinilah terlihat paradoks kebijakan transportasi kita. Pemerintah mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik sebagai bagian dari transisi energi dan modernisasi transportasi. Namun, kesiapan infrastruktur dasar tidak bergerak dalam kecepatan yang sama. Akibatnya, kebijakan menjadi tidak selaras. Teknologi dipacu ke depan, sementara sistem pendukungnya tertinggal di belakang.
Pendekatan yang masih sektoral membuat persoalan ini makin kompleks. Transportasi darat, perkeretaapian, dan agenda elektrifikasi berjalan dalam kerangka yang terpisah. Padahal, yang dibutuhkan adalah pendekatan yang melihat transportasi sebagai satu kesatuan sistem terintegrasi.
Selama ini, respons kebijakan juga cenderung bersifat reaktif. Perbaikan dilakukan setelah insiden terjadi. Pola seperti itu tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas transportasi modern. Keselamatan publik seharusnya dirancang sejak awal sebagai bagian dari sistem, bukan sebagai respons terhadap kejadian.
Perubahan Struktural
Langkah pembenahan perlu diarahkan pada perubahan yang bersifat struktural. Eliminasi bertahap perlintasan sebidang di wilayah dengan intensitas tinggi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Pembangunan flyover dan underpass harus dipandang sebagai investasi keselamatan, bukan sekadar proyek infrastruktur.
Standar nasional perlintasan juga perlu diperbarui agar mampu mengakomodasi karakteristik kendaraan modern, termasuk kendaraan listrik. Di sisi lain, pengembangan sistem deteksi kendaraan yang tertinggal di rel secara waktu nyata menjadi penting untuk mencegah risiko yang lebih besar.
Integrasi kebijakan lintas sektor harus diperkuat agar tidak lagi terjadi fragmentasi dalam pengambilan keputusan. Regulasi yang secara spesifik mengatur keselamatan kendaraan listrik di titik rawan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya ini.
Insiden mobil listrik di perlintasan kereta seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi lebih menyeluruh. Menyalahkan teknologi hanya akan mengaburkan persoalan utama dan menunda solusi yang seharusnya segera diambil.
Yang perlu dibenahi adalah sistemnya. Tanpa perubahan pendekatan, kita akan terus berada dalam siklus yang sama. Insiden terjadi, perhatian meningkat, tetapi akar masalah tetap tidak tersentuh. Dalam jangka panjang, kondisi itu justru akan melemahkan kepercayaan publik terhadap arah kebijakan transportasi nasional.
Transportasi modern menuntut lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ia membutuhkan keberanian untuk membangun sistem yang terintegrasi, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan.
Pada titik inilah negara dituntut untuk tidak sekadar hadir, tetapi mampu memastikan bahwa setiap kemajuan teknologi berjalan seiring dengan kesiapan sistem yang melindungi masyarakat. (*)