Buka konten ini

Di ujung laut Anambas, ada pulau-pulau kecil yang nyaris tak terdengar kabarnya ketika cuaca buruk memutus akses berhari-hari. Namun pagi itu, sebuah kapal patroli berangkat membawa polisi, tenaga medis, dan harapan menuju batas negeri yang sunyi. Di sana, perjalanan menjaga perbatasan terasa jauh lebih menggetarkan dari sekadar patroli biasa.
PAGI itu, laut di perairan Jemaja masih diselimuti kabut tipis. Suara mesin kapal perlahan memecah sunyi Pelabuhan Pemda Letung, Minggu (10/5), ketika sejumlah personel polisi bersiap memulai perjalanan panjang menuju pulau-pulau terluar di Kepulauan Anambas.
Di dermaga kecil itu, tas medis, pelampung keselamatan, logistik, hingga radio komunikasi tersusun rapi. Wajah-wajah lelah tampak belum benar-benar hilang. Sebagian personel bahkan sudah bersiap sejak dini hari. Namun tak ada yang mengeluh.
Mereka tahu, di tengah laut luas sana, ada masyarakat yang menunggu kehadiran negara.
Kapolsek Jemaja, Iptu Sutomo, memimpin langsung patroli gabungan tersebut. Bersamanya ikut personel Basarnas, BPBD, tenaga kesehatan BLUD Puskesmas Letung, awak media, hingga kru kapal KM Ocean Jaya 8.
“Wilayah perbatasan ini harus tetap dijaga. Masyarakat harus merasa aman,” ujar Sutomo sebelum kapal bertolak. Kapal perlahan meninggalkan dermaga. Ombak kecil menghantam lambung kapal, membuat badan bergoyang pelan di tengah perjalanan menuju Pulau Tokong Malang Biru.
Laut pagi terlihat tenang. Namun semua yang berada di atas kapal memahami, cuaca di perairan Anambas bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Di sepanjang perjalanan, hanya suara mesin kapal dan hembusan angin laut yang terdengar.
Sesekali personel patroli memandang jauh ke hamparan laut kosong yang seperti tak berujung. Di wilayah perbatasan seperti itu, rasa sepi terasa begitu nyata.
Berjam-jam perjalanan ditempuh hingga rombongan akhirnya tiba di salah satu pulau terluar. Beberapa rumah kayu berdiri sederhana menghadap laut. Anak-anak kecil berlari
mendekat ketika melihat kapal patroli bersandar.
Mereka tersenyum malu-malu. Ada yang melambaikan tangan, ada pula yang terus memperhatikan para petugas turun dari kapal. Bagi anak-anak di pulau terluar, kedatangan aparat sering kali menjadi peristiwa langka yang membahagiakan.
Di depan sebuah rumah kayu, seorang ibu paruh baya berdiri memandangi rombongan yang datang menyapa warga satu per satu. Matanya tampak berkaca-kaca. “Senang rasanya kalau ada yang datang melihat kami di sini,” ucapnya lirih.
Kalimat sederhana itu terasa menyesakkan.
Di pulau kecil seperti itu, hidup berjalan jauh dari keramaian kota. Ketika cuaca buruk datang, warga bisa terisolasi berhari-hari tanpa akses transportasi. Hasil tangkapan nelayan kerap tak bisa dijual karena kapal tak berani berlayar. Saat ada warga sakit, mereka hanya bisa menunggu laut kembali tenang agar dapat dibawa berobat.
Namun, di tengah segala keterbatasan itu, mereka tetap bertahan hidup di ujung negeri.
Patroli hari itu bukan sekadar memeriksa keamanan wilayah. Perjalanan tersebut menjadi cara sederhana untuk memastikan masyarakat di pulau-pulau terluar tidak merasa dilupakan.
Personel patroli berjalan menyusuri bibir pulau, memeriksa situasi sambil berbincang hangat dengan warga. Tawa anak-anak beberapa kali memecah sunyi kampung kecil di tepi laut itu. Ada anak yang meminta difoto bersama polisi. Ada pula yang terus mengikuti langkah personel patroli.
Perhatian kecil seperti itu terasa begitu besar bagi warga yang hidup jauh dari pusat pemerintahan.
Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, mengatakan patroli gabungan tersebut menjadi bentuk komitmen Polri menjaga keamanan wilayah kepulauan dan perbatasan. “Kami ingin memastikan masyarakat di pulau-pulau terluar tetap merasa aman dan diperhatikan,” ujarnya.
Menjelang siang, patroli dilanjutkan menuju Pulau Tokong Damar hingga Pulau Mangkai. Matahari perlahan turun, menciptakan cahaya jingga di atas laut perbatasan.
Di atas kapal, sebagian personel terlihat diam memandangi pulau-pulau kecil yang mulai menjauh.
Bagi banyak orang, pulau-pulau itu mungkin hanya titik kecil di peta Indonesia. Namun bagi warga yang tinggal di sana, itulah rumah. Tempat mereka lahir, hidup, dan menjaga merah putih tetap berkibar di batas negeri.
Dan hari itu, di tengah laut yang luas dan sunyi, mereka kembali diyakinkan bahwa negara masih mengingat keberadaan mereka. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : RATNA IRTATIK