Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang bersama Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Kepri menyoroti berbagai ancaman terhadap jurnalis di era digital, mulai dari intimidasi, tekanan di media sosial, hingga upaya pembungkaman informasi.
Hal itu mengemuka dalam diskusi publik peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang digelar di Pulau Penyengat, Sabtu (9/5). Kegiatan tersebut melibatkan unsur kepolisian, Diskominfo Kepri, mahasiswa, hingga pegiat pers.
AJI Tanjungpinang juga menghadirkan Dosen Jurnalistik FKIP UMRAH, Nikolas Panama, sebagai narasumber dalam diskusi tersebut.
Dalam pemaparannya, Sekretaris KKJ Kepri sekaligus Ketua AMSI Kepri, Jailani, mengatakan perlindungan terhadap jurnalis perlu menjadi perhatian bersama agar kebebasan pers tetap terjaga.
“Kebebasan pers bukan berarti tanpa batas, tetapi pers harus dilindungi ketika bekerja sesuai kode etik dan aturan hukum yang berlaku,” kata Jailani.
Sementara itu, Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, menyebut peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi momentum penting untuk mengingatkan semua pihak mengenai pentingnya menjaga kemerdekaan pers.
“Pers yang bebas adalah fondasi demokrasi. Ketika jurnalis mengalami intimidasi, sensor, atau tekanan dalam menjalankan tugasnya, maka yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak masyarakat untuk mendapatkan informasi,” ujarnya.
Menurut Sutana, ancaman terhadap jurnalis saat ini tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga intimidasi digital hingga upaya pembatasan akses informasi di ruang publik.
“Di era digital saat ini, bentuk ancaman terhadap pers semakin beragam. Mulai dari intimidasi di lapangan, serangan di media sosial, hingga upaya membatasi akses informasi. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi jurnalis di wilayah kepulauan yang kerap mengalami keterbatasan akses informasi serta tekanan saat menjalankan tugas jurnalistik.
“Jurnalis di daerah kepulauan memiliki tantangan tersendiri. Selain keterbatasan akses, mereka juga sering berada dalam situasi rentan ketika memberitakan isu-isu publik,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, para narasumber turut membahas pentingnya literasi digital, perlindungan terhadap jurnalis, serta peran masyarakat dalam mendukung kebebasan berekspresi dan kebebasan pers di Indonesia. (*)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY