Buka konten ini

BATAM (BP) – Memanasnya situasi geopolitik dunia, termasuk konflik Amerika Serikat dan Iran yang berdampak terhadap rantai pasok global serta harga energi, mulai memberi tekanan terhadap perdagangan luar negeri Kota Batam.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat nilai ekspor Batam sepanjang Januari–Maret 2026 mencapai USD 4,68 miliar atau turun 0,84 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 4,72 miliar.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan kondisi global yang belum stabil membuat pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dan bersikap hati-hati dalam aktivitas perdagangan internasional.
“Ketegangan global, termasuk konflik yang terjadi saat ini, ikut memberi dampak terhadap aktivitas perdagangan. Banyak pelaku usaha mengambil sikap wait and see karena situasi pasar yang belum stabil,” ujar Eko, Kamis (7/5).
Meski secara kumulatif mengalami penurunan, Eko menyebut kinerja ekspor Batam mulai menunjukkan tanda pemulihan pada Maret 2026.
Nilai ekspor Batam pada Maret 2026 tercatat sebesar USD 1,57 miliar atau tumbuh 5,27 persen dibanding Maret tahun lalu. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai USD 1,51 miliar atau naik 6,15 persen. Sementara ekspor migas turun 13,17 persen menjadi USD 59,59 juta.
Menurut Eko, tekanan terhadap ekspor lebih banyak dipicu melemahnya sektor migas. Secara kumulatif, ekspor migas turun 17,65 persen, dari USD 210,90 juta menjadi USD 173,67 juta. Sedangkan ekspor nonmigas relatif stabil dan hanya turun tipis 0,05 persen.
Sektor mesin dan peralatan listrik masih menjadi tulang punggung ekspor Batam dengan nilai mencapai USD 2,34 miliar atau berkontribusi 52,05 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Selain itu, komoditas unggulan lain yang menopang ekspor Batam antara lain mesin mekanik, besi dan baja, minyak nabati, produk kimia, kapal laut, kakao, perangkat optik, tembakau, hingga bahan kimia organik.
Di tengah perlambatan global, sektor perikanan justru menunjukkan pertumbuhan positif. Ekspor ikan dan udang Batam selama triwulan pertama 2026 mencapai USD 5,38 juta atau naik 25,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar Batam dengan nilai mencapai USD 1,21 miliar atau sekitar 25,97 persen dari total ekspor. Nilai ekspor ke negara tersebut juga meningkat 5,89 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara Singapura berada di posisi kedua dengan nilai ekspor USD 1,06 miliar atau menyumbang 22,78 persen terhadap total ekspor Batam.
“Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama produk manufaktur Batam, khususnya elektronik dan komponen industri,” kata Eko.
Di sisi lain, impor Batam justru mengalami lonjakan cukup signifikan. Sepanjang Januari–Maret 2026, nilai impor tercatat mencapai USD 4,52 miliar atau naik 12,87 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan impor didorong meningkatnya kebutuhan bahan baku industri, terutama sektor nonmigas yang tumbuh 13,04 persen. Pada Maret 2026 saja, nilai impor Batam mencapai USD 1,55 miliar atau naik 18,30 persen dibanding Maret 2025.
Tiongkok masih menjadi negara pemasok terbesar barang impor ke Batam dengan nilai mencapai USD 2,10 miliar atau menyumbang 46,64 persen dari total impor.
Sementara itu, Pelabuhan Batuampar tetap menjadi pintu utama perdagangan internasional Batam. Selama triwulan pertama 2026, nilai ekspor melalui pelabuhan tersebut mencapai USD 3,11 miliar, sedangkan nilai impor tercatat USD 3,16 miliar.
Pengamat menilai lonjakan impor di tengah perlambatan ekspor menunjukkan industri di Batam masih bergantung kuat pada pasokan bahan baku dari luar negeri. Kondisi ini sekaligus menggambarkan sektor manufaktur masih terus bergerak, meski pasar global tengah dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Kondisi ini hampir mendekati analisis pengamat ekonomi yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Suyono Saputra. Ia menyebut bahwa dunia industri juga menghadapi tekanan berat akibat kondisi geopolitik global. Kenaikan biaya energi, ditambah potensi lonjakan tarif listrik dan upah, membuat ruang efisiensi semakin sempit.
“Di sektor riil bisa membuat barang hasil produksi jadi tidak efisien, apalagi jika diikuti dengan kenaikan tarif listrik dan upah,” katanya.
Dalam kondisi seperti ini, Batam dinilai berada di posisi rentan. Ketergantungan pada industri manufaktur dan arus barang lintas negara membuat kota ini sensitif terhadap setiap gejolak global.
“Batam sebagai kota industri rentan mengalami situasi ini,” tegas dia.
Meski begitu, kondisi pasar saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang sebenarnya. Situasi yang terlihat tenang justru meninabobokan jika membuat semua pihak lengah.
Jika gangguan distribusi energi terjadi, sektor manufaktur diperkirakan paling terdampak, disusul logistik, transportasi, hingga pelaku UMKM dengan margin usaha yang terbatas.
Di tengah situasi tersebut, keputusan pemerintah pusat untuk menaikkan harga BBM menjadi faktor tambahan yang sulit dihindari. Kenaikan harga energi hampir pasti akan diikuti lonjakan harga barang dan jasa.
“Ancaman inflasi sudah pasti,” katanya.
Tekanan ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, sekaligus menempatkan pelaku usaha pada dilema antara menaikkan harga atau menanggung biaya produksi yang terus meningkat.
’’Karena itu, langkah antisipasi dinilai harus segera disiapkan. Pemerintah daerah bersama BP Batam diminta tidak menunggu kondisi memburuk, tetapi mulai memetakan risiko sejak sekarang.
“Untuk itu pemerintah dan BP Batam harus menyiapkan langkah mitigasi dengan mengundang para pelaku industri manufaktur untuk memetakan potensi masalah,” ujarnya.
’’Langkah ini dinilai penting agar kebijakan yang diambil tidak bersifat reaktif, melainkan berdasarkan kondisi nyata di lapangan, mulai dari stabilitas harga, kelancaran distribusi, hingga keberlangsungan industri. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK