Buka konten ini

BOSTON (BP) – ByteDance memperkuat ekspansi strategisnya ke sektor riset sains dengan mengerahkan unit pengembangan obat berbasis kecerdasan buatan (AI) ke tiga pusat konferensi internasional, yakni Boston, Rio de Janeiro, dan Barcelona.
Langkah ini menandai ekspansi lintas benua dalam pengembangan terapi berbasis AI yang semakin terintegrasi secara global.
Melalui unit riset Anew Labs atau Anew Therapeutics, perusahaan induk TikTok tersebut mengoperasikan jaringan riset di Shanghai, Singapura, dan San Jose, Amerika Serikat. Unit ini didukung 36 anggota inti serta dewan penasihat ilmiah dari industri bioteknologi global.
Dikutip dari South China Morning Post, Senin (4/5), ByteDance mulai memamerkan terapi yang dirancang AI di konferensi internasional sebagai bagian dari strategi penguatan riset global.
Pada pertengahan April, Chris Li, kepala biologi Anew Labs, mempresentasikan kandidat obat berbasis AI dalam forum Immunology 2026 di Boston yang diselenggarakan American Association of Immunologists. Terapi tersebut dirancang menggunakan AI generatif untuk menangani penyakit autoimun.
Selanjutnya, She Yuli, kepala data Anew Labs, menghadiri International Conference on Learning Representations di Rio de Janeiro, salah satu forum utama dalam pengembangan deep learning.
Ekspansi berlanjut ke Eropa, di mana Yu Haoyu, kepala kimia komputasi Anew Labs, dijadwalkan mempresentasikan teknologi AnewSampling dalam Free Energy Workshop 2026 di Barcelona mulai 4 Mei. Teknologi ini dirancang untuk mereproduksi dinamika molekuler hingga tingkat atom guna meningkatkan simulasi desain obat berbasis AI.
Sebelumnya, pada Maret, Anew Labs meluncurkan AnewOmni, kerangka generatif terpadu yang dilatih menggunakan lebih dari 5 juta kompleks biomolekuler, hasil kolaborasi dengan Tsinghua University.
Di tengah ekspansi tersebut, ByteDance menghadapi tekanan finansial dengan penurunan laba hingga 70 persen sepanjang 2025. Namun, perusahaan justru meningkatkan investasi pada departemen Seed yang berfokus pada model bahasa besar (LLM), AI untuk sains, dan robotika.
Departemen ini dibentuk setelah lonjakan minat global terhadap AI generatif sejak kemunculan ChatGPT, dengan mandat untuk mendorong batas pengembangan kecerdasan buatan.
Di sisi lain, pengembangan AI ByteDance juga mendapat sorotan. Model video AI mereka, Seedance 2.0, sempat dituduh melanggar hak kekayaan intelektual oleh Walt Disney Studios dan Paramount Pictures.
Menanggapi hal itu, ByteDance menyatakan akan memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual dan meningkatkan pengawasan dalam pengembangan model AI, meski produk tersebut belum tersedia di pasar Amerika Serikat.
Dengan kehadiran di tiga kota dunia, ByteDance menegaskan ambisinya untuk melampaui bisnis media sosial dan masuk ke ranah inovasi berbasis sains, menggabungkan kecerdasan buatan dengan pengembangan terapi medis di tingkat global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY