Buka konten ini

BUKITTINGGI (BP) — Wali Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Ramlan Nurmatias, mengungkapkan bahwa asal-usul bahasa persatuan Indonesia tidak lepas dari peran Kweekschool, yang kini dikenal sebagai SMAN 2 Bukittinggi.
Ia menjelaskan, sebelum diberlakukannya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972, cikal bakal Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang menggunakan ejaan Van Ophuijsen. Penyusunan ejaan tersebut melibatkan Nawawi Soetan Makmoer dan Moh Taib Sultan Ibrahim saat kegiatan pendidikan berlangsung di Kweekschool Bukittinggi.
Ramlan menilai, kontribusi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa, mulai dari momentum Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu yang kemudian dibakukan melalui sistem ejaan yang lahir di Kweekschool.
Ia juga menegaskan, Kweekschool tidak hanya berperan dalam perkembangan bahasa, tetapi turut melahirkan tokoh-tokoh penting di bidang pendidikan dan kebangsaan, termasuk dalam perkembangan perguruan tinggi di Indonesia.
Pandangan tersebut diperkuat oleh sejarawan sekaligus jurnalis senior, Hasril Chaniago, dalam seminar kebangsaan bertema “Jejak Intelektual, Pemikiran, dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sekolah Rajo”.
Hasril menyebutkan, keberadaan Kweekschool memiliki peran krusial dalam lahirnya Bahasa Indonesia. Ia menjelaskan bahwa proses pembakuan Bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi Bahasa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari penyusunan Ejaan Van Ophuijsen pada akhir abad ke-19 di Fort de Kock, nama lama Kota Bukittinggi.
Ejaan tersebut disusun oleh Charles Adriaan van Ophuijsen bersama dua guru pribumi, Engku Nawawi dan Mohammad Taib Sultan Ibrahim, saat mereka mengajar di Kweekschool.
Menurut Hasril, tanpa Kweekschool Fort de Kock, Bahasa Indonesia tidak akan berkembang seperti yang dikenal saat ini.
Ejaan Van Ophuijsen menjadi tonggak awal standardisasi Bahasa Melayu berbasis huruf Latin. Sistem ini kemudian digunakan secara luas dalam dunia pendidikan, administrasi kolonial, hingga penerbitan resmi, terutama setelah diperkenalkan melalui buku Kitab Logat Melayu pada 1901 di Batavia.
Beberapa ciri khas ejaan ini antara lain penggunaan “oe” untuk bunyi “u”, “tj” untuk “c”, dan “dj” untuk “j”.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Hasril Chaniago, Isa Gautama, dan Dedi Yusmen. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan 170 tahun Kweekschool, yang menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua di Sumatera.
Sekretaris Pengurus Pusat IASMA Birugo, Febri Zulhenda, menyebut peringatan tersebut sebagai momentum refleksi sekaligus kebanggaan bagi seluruh pemangku kepentingan Sikola Rajo-Kweekschool, baik pihak sekolah maupun para alumninya. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO