Buka konten ini

BATAM (BP) – Sebanyak enam calon jemaah haji asal Kepulauan Riau yang tergabung dalam Kloter 2 Embarkasi Batam terpaksa menunda keberangkatan ke Tanah Suci pada musim haji 1447 Hijriah/2026. Penundaan tersebut mayoritas disebabkan faktor kesehatan, mulai dari sakit hingga belum memenuhi syarat istitaah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Kepulauan Riau sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Batam, Muhammad Syafii, menjelaskan bahwa seluruh jemaah pada Kloter 1 berangkat sesuai jadwal tanpa kendala. Namun, pada Kloter 2 terdapat enam jemaah yang belum dapat diberangkatkan.
“Dari enam jemaah itu, dua batal berangkat karena satu sakit dan satu meninggal dunia. Keduanya berasal dari Batam dan Karimun, dan sudah digantikan oleh jemaah cadangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, jemaah pengganti tersebut dijadwalkan berangkat bersama Kloter 25 pada 21 Mei mendatang.
Selain itu, dua calon jemaah haji asal Batam lainnya juga harus menunda keberangkatan. Satu orang mengalami gangguan kesehatan saat berada di embarkasi sehingga harus dirujuk ke rumah sakit, sedangkan satu lainnya dinyatakan belum memenuhi syarat istitaah kesehatan.
“Untuk yang belum memenuhi syarat istitaah, tentu harus menunggu hingga kondisi kesehatannya memungkinkan. Ini demi keselamatan jemaah itu sendiri,” jelas Syafii.
Tak hanya itu, dua calon jemaah lainnya yang berperan sebagai pendamping juga ikut menunda keberangkatan karena berkaitan dengan kondisi jemaah yang didampingi.
Meski demikian, Syafii memastikan jemaah yang tertunda masih memiliki peluang untuk diberangkatkan pada kloter berikutnya, dengan catatan kondisi kesehatannya telah pulih dan dinyatakan layak.
“Kalau sudah dinyatakan sehat, bisa diberangkatkan di kloter selanjutnya. Tidak harus Kloter 25, bisa juga bergabung dengan kloter daerah lain,” katanya.
Embarkasi Batam tahun ini melayani 25 kelompok terbang (kloter). Jemaah asal Kepulauan Riau dijadwalkan tergabung dalam Kloter 1, 2, dan 25.
Untuk Kloter 2, total jemaah yang telah diberangkatkan mencapai 439 orang. Rinciannya, 231 jemaah asal Batam, 120 dari Karimun, 46 dari Anambas, 36 dari Natuna, serta enam petugas haji.
Dengan keberangkatan Kloter 1 dan Kloter 2, total jemaah calon haji asal Kepulauan Riau yang telah bertolak ke Tanah Suci mencapai 884 orang, terdiri dari 445 jemaah pada Kloter 1 dan 439 jemaah pada Kloter 2.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa aspek kesehatan menjadi prioritas utama dalam pemberangkatan jemaah haji, guna memastikan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan lancar di Tanah Suci.
Suhu Makkah–Madinah kian Menyengat
Suhu udara di Tanah Suci terus meningkat seiring dimulainya musim panas di Arab Saudi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji, terutama menjelang fase puncak ibadah.
Berdasarkan data cuaca resmi pemerintah Arab Saudi, suhu tertinggi di Madinah pada Minggu (26/4) mencapai 36 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan sekitar 54 persen. Dalam 10 hari ke depan, suhu diprakirakan berada pada kisaran 33 hingga 41 derajat Celsius.
Suhu tertinggi di Madinah diprediksi terjadi pada Selasa (5/5), dengan angka mencapai 41 derajat Celsius. Sementara itu, kondisi di Makkah juga menunjukkan tren serupa.
Pada hari yang sama, suhu udara di Makkah mencapai 38 derajat Celsius dengan kelembapan lebih tinggi, yakni sekitar 70 persen. Dalam 10 hari ke depan, suhu di kota tersebut diperkirakan berkisar antara 35 hingga 39 derajat Celsius.
Meski demikian, kondisi tersebut belum menjadi puncak panas. Berdasarkan catatan beberapa tahun terakhir, suhu udara di Makkah menjelang akhir Mei—bertepatan dengan puncak haji—dapat menembus lebih dari 45 derajat Celsius.
Bahkan, pada hari tertentu suhu bisa mencapai 47 hingga 48 derajat Celsius. Kondisi ekstrem ini berpotensi memicu gangguan kesehatan, seperti kelelahan akibat panas hingga serangan panas (heatstroke) jika tidak diantisipasi dengan baik.
Secara geografis, Madinah cenderung mengalami suhu lebih tinggi dibandingkan Makkah saat musim panas. Hal ini dipengaruhi posisi kota tersebut yang berada sekitar 400 kilometer di utara Makkah, seiring pergerakan matahari ke belahan bumi utara.
Petugas haji mengingatkan jemaah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem. Penggunaan pelindung seperti payung, konsumsi air yang cukup, serta membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi tubuh.
Selain itu, jemaah juga diimbau mematuhi arahan petugas kesehatan agar dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan aman dan lancar di tengah suhu yang semakin tinggi.
Kondisi cuaca panas ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga puncak pelaksanaan ibadah haji, sehingga kesiapan fisik dan kedisiplinan jemaah dalam menjaga kesehatan menjadi kunci utama. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK