Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Impor perhiasan emas atau logam mulia dari Australia melonjak tajam pada Januari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor logam mulia dan perhiasan dari Negeri Kanguru tersebut meledak hingga 634 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, total nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD 21,20 miliar atau tumbuh 18,21 persen secara tahunan. Kenaikan ini ditopang oleh impor migas maupun non-migas, dengan lonjakan signifikan pada komoditas logam mulia asal Australia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa nilai impor migas sebesar 3,17 miliar USD atau meningkat 27,52 persen secara tahunannya.
Sementara itu, impor non-migas tercatat senilai USD 18,04 miliar atau naik 16,71 persen secara tahunan. Ateng menjelaskan, peningkatan ini terutama didorong oleh kinerja impor non-migas.
“Peningkatan nilai impor secara tahunan ini terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil impor non-migas sebesar 14,40 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakata, Senin (2/3).
Dari sisi komoditas, terdapat tiga kelompok utama non-migas yang mendominasi impor Indonesia pada Januari 2026, yakni mesin perlengkapan elektrik, mesin perlengkapan mekanis, serta plastik dan barang dari plastik. Ketiga komoditas ini memberikan kontribusi atau share sebesar 37,54 persen terhadap total impor non-migas.
”Sementara plastik dan barang dari plastik mencapai USD 0,95 miliar dengan volume 0,62 juta ton. Nilai dan volume ketiga komoditas tersebut sama-sama mengalami kenaikan dibandingkan Januari 2025,” bebernya.
Dari sisi negara asal, tiga besar pemasok utama impor Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. Ketiga negara tersebut menyumbang share sebesar 54,92 persen terhadap total impor Indonesia.
Khusus impor non-migas dari Tiongkok tercatat sebesar USD 7,89 miliar, didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan share 23,42 persen dan tumbuh 49,79 persen secara tahunan. Sementara impor non-migas dari Australia sebesar USD 1,07 miliar, terutama logam mulia dan perhiasan (HS 71) dengan share 47,54 persen dan melonjak 634,30 persen secara year on year.
”Ternyata perhiasan atau logam mulia banyak diimpor dari Australia dengan sharenya yaitu 47,54 persen. Impor logam mulia dan perhiasan tersebut tumbuh 634,30 persen secara year on year,” tutur Ateng. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI