Buka konten ini

Fika Miranda Putri Pemenang I Duta Bahasa Kepri 2025
DI layar ponsel anak-anak Gen Alpha, kata-kata tidak lagi sekadar alat untuk menyampaikan makna. Justru, saat ini perkataan cenderung menjadi mainan, bahan lelucon, bahkan ritual digital yang mengikat komunitas daring. Frasa seperti bombardino crocodilo, tralalero tralala, atau cappuccino assassino beredar tanpa konteks jelas. Lucu?
Bagi mereka, sangat. Penting? Mungkin tidak, tetapi pengaruhnya nyata. Fenomena ini disebut bahasa anomali, yaitu bentuk bahasa yang menyimpang dari struktur dan logika biasa serta sengaja dibuat absurd untuk mengundang reaksi. Bahasa anomali lahir dari budaya video pendek, algoritma media sosial, dan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung lewat humor. Namun, di balik tawa yang muncul dari tiap tontonan, terdapat dinamika kognitif dan linguistik yang mulai memengaruhi cara generasi muda berbahasa dan berpikir.
Bahasa anomali memiliki formula sederhana, yaitu singkat dan mudah diingat. Oleh karena itu, di dunia yang dijejali jutaan konten baru setiap hari, absurditas menjadi strategi untuk bertahan hidup. Otak manusia punya kecenderungan alami untuk merespons hal-hal yang tidak terduga, dan algoritma media sosial memanfaatkannya sepenuhnya. Algoritmanya sederhana: begitu satu frasa absurd viral, bahasa tersebut akan dimodifikasi, dipadukan dengan gambar atau musik, lalu dimasukkan kembali ke ruang digital. Siklus ini berulang sehingga bahasa tersebut menjadi semacam “kode rahasia” di antara pengguna, tanda bahwa mereka berada dalam lingkaran humor yang sama. Penyebaran semacam ini membuat bahasa anomali lebih dari sekadar kata-kata lucu, melainkan menjadi fenomena sosial.
Permasalahan yang terjadi ialah hiburan semacam ini tidak berhenti di canda tawa semata. Konsumsi berulang terhadap konten absurd dapat memicu fenomena yang disebut pembusukan otak (brainrot).
Dilansir dari Oxford University Press (2024), pembusukan otak merupakan penurunan fungsi kognitif yang ditimbulkan akibat paparan konten berkualitas rendah di media sosial dan internet. Istilah ini populer secara global, bahkan dinobatkan Oxford sebagai Word of the Year 2024. Secara neurologis, otak kita merespons kejutan visual dan linguistik dengan melepaskan dopamin. Jika hal ini terjadi terus-menerus, otak mulai menginginkan stimulus instan dan enggan berurusan dengan informasi yang kompleks atau membutuhkan konsentrasi lama.
Pada anak-anak, hal ini berarti menurunnya kemampuan fokus, berpikir kritis, dan mengorganisasi ide. Konten absurd juga sering memutus logika narasi. Hal tersebut disebabkan oleh kalimat atau gambar yang muncul tanpa kaitan sebab-akibat dan alur yang jelas. Bagi anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan bahasa, hal ini dapat mengaburkan pemahaman mereka tentang proses pembentukan struktur bahasa. Bahasa bukan lagi alat untuk membangun makna, melainkan hanya membentuk rangkaian bunyi yang memancing reaksi emosional.
Di Indonesia, fenomena bahasa anomali ini beririsan dengan tren lain yang sudah lebih dulu mengikis kaidah bahasa, yakni bahasa campuran atau populer disebut bahasa Jaksel. Di sini, bahasa Indonesia bercampur dengan kosakata bahasa Inggris secara acak, menciptakan gaya bicara yang dianggap keren sehingga kerap meninggalkan tata bahasa baku. Ketika bahasa anomali masuk, tantangannya bertambah. Anak-anak dan remaja kini berinteraksi dalam lingkungan linguistik yang campur aduk: sedikit bahasa Indonesia, sedikit bahasa Inggris, ditambah kata-kata absurd yang tidak bermakna. Dampaknya adalah menurunnya paparan terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar di luar ruang kelas.
Bahasa adalah jati diri suatu bangsa. Saat bahasa Indonesia terpinggirkan dalam percakapan sehari-hari, tidak hanya kosakata yang hilang, tetapi juga cara berpikir yang dibentuk oleh bahasa tersebut. Bahasa memengaruhi cara kita mengelompokkan informasi, memahami waktu, bahkan melihat hubungan sosial. Hal tersebut didukung oleh pendapat bahwa struktur bahasa memengaruhi pola pikir manusia, terutama cara memahami dunia sekitarnya (Sapir, 1929).
Generasi yang lebih sering berbicara dengan campuran bahasa asing dan bahasa anomali berpotensi kehilangan kepekaan terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya, banyak anak muda yang kesulitan menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk istilah yang sering mereka dengar dalam bahasa Inggris. Mereka mungkin memilih kata asing bukan karena lebih tepat, melainkan karena sudah lebih akrab di telinga. Dalam konteks ini, bahasa anomali menambah satu lapisan jarak antara generasi muda dengan bahasa ibunya. Bahasa anomali tidak hanya membuat bahasa menjadi mainan, tetapi juga mengalihkan fokus dari makna ke sensasi.
Namun demikian, keberadaan bahasa anomali tidak serta-merta menggeser posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia tetap menjadi sarana utama komunikasi formal di sekolah, pemerintahan, media, dan berbagai ruang publik resmi. Fenomena bahasa anomali membuat Generasi Alpha menempatkannya sebagai bahasa gaul, sementara bahasa Indonesia digunakan untuk ranah formal dan akademik. Dengan kata lain, bahasa Indonesia masih memegang peranan sentral, meskipun harus berbagi ruang dengan bentuk-bentuk ekspresi linguistik baru yang bersifat temporer.
Lebih jauh, eksistensi bahasa Indonesia di tengah fenomena ini menunjukkan daya tahannya sebagai bahasa pemersatu bangsa. Meskipun anak muda gemar menciptakan bahasa anomali untuk kebutuhan ekspresi komunitas, mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium penjelas ketika bahasa anomali tidak dapat dipahami oleh kelompok di luar komunitas tersebut. Hal ini menandakan bahwa bahasa anomali tidak lahir untuk menggantikan, melainkan melengkapi fungsi komunikasi generasi muda.
Dengan demikian, kehadiran fenomena bahasa anomali pada Generasi Alpha dapat dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. Tantangan karena dapat mengaburkan keterampilan berbahasa formal jika tidak diimbangi dengan literasi yang baik, tetapi juga peluang karena membuktikan bahwa bahasa Indonesia tetap adaptif dan mampu hidup berdampingan dengan ragam bahasa baru. Eksistensi bahasa Indonesia dalam konteks ini bukan hanya sekadar bertahan, melainkan juga bertransformasi mengikuti dinamika komunikasi lintas generasi.
Apa yang perlu dilakukan dalam menghadapi fenomena bahasa anomali ini? Banyak hal dapat diupayakan untuk menangani maraknya penggunaan bahasa anomali pada Generasi Alpha. Sekolah berperan penting dalam menjaga karakter generasi muda, khususnya dalam berbahasa yang baik dan benar. Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan bermutu diperlukan untuk menjaga kedaulatan bahasa Indonesia di tengah badai disrupsi bahasa. Pendidikan bermutu berarti pendidikan yang tidak hanya mengejar aspek akademis, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan berpikir kritis, literasi digital, serta kecintaan terhadap bahasa dan budaya bangsa.
Sekolah perlu mengajarkan siswa cara membedah konten media sosial. Misalnya, guru dapat mengajak siswa menganalisis video viral, mengidentifikasi struktur bahasanya, lalu membandingkannya dengan bahasa Indonesia baku. Dengan cara ini, siswa tidak hanya tertawa saat menonton konten absurd, tetapi juga memahami proses bahasa bekerja.
Guru bahasa Indonesia harus diberdayakan tidak hanya sebagai pengajar tata bahasa, tetapi juga sebagai fasilitator kreativitas linguistik. Mereka dapat menggunakan bahasa anomali sebagai bahan ajar, menjadikannya pintu masuk untuk membahas konsep bahasa, makna, dan narasi.
Meski terdengar mengkhawatirkan, bahasa anomali tidak harus dipandang sebagai ancaman murni. Jika diarahkan dengan tepat, bahasa anomali bisa menjadi sarana melatih kreativitas linguistik dan keterampilan berpikir lateral. Konsep cognitive playground, misalnya, memandang konten absurd sebagai taman bermain bagi otak.
Dengan konsep ini, bahasa anomali bertindak sebagai media untuk melatih kemampuan mengenali pola, membuat asosiasi tidak terduga, dan memecahkan teka-teki linguistik. Dalam kerangka ini, bahasa anomali dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan konsep bahasa, bunyi, dan ritme kepada anak-anak, asalkan disertai penjelasan konteks dan pendampingan.
Salah satu kreasi dari pembelajaran taman bermain tersebut ialah mengorelasikannya dengan kekayaan sastra daerah. Misalnya, Kepulauan Riau memiliki pantun sebagai bagian dari Intangible Cultural Heritage (ICH) dengan ciri khas rima di bagian akhir setiap barisnya. Sama halnya dengan pantun, bahasa anomali juga memiliki kekhasan pengulangan rima, seperti cappuccino assassino dan ballerina cappuccino. Kesamaan rima di akhir baris ini dapat menjadi pendekatan untuk memperkenalkan pola pantun dari struktur yang ada dalam bahasa anomali. Dengan pendekatan ini, absurditas menjadi awal, bukan akhir dari proses belajar.
Pendidikan tidak berhenti di sekolah. Orang tua dapat menjadikan momen menonton konten absurd bersama anak sebagai kesempatan berdialog. Misalnya, ketika anak tertawa karena frasa aneh, orang tua bisa bertanya, “Kalau dalam bahasa Indonesia, kira-kira apa padanan yang cocok?” Dengan begitu, anak belajar membedakan antara bahasa sebagai hiburan dan bahasa sebagai alat berpikir. Media sosial merupakan arena besar bagi bahasa untuk berevolusi. Kreator konten yang sadar akan pentingnya bahasa dapat menciptakan tren hiburan yang tetap lucu, tetapi juga mendidik. Dengan begitu, humor absurd dapat disandingkan dengan pesan moral, pengetahuan bahasa, atau bahkan kampanye literasi.
Kedaulatan bahasa bukan berarti menolak pengaruh asing. Justru, bahasa Indonesia harus mampu berdialog dengan bahasa-bahasa lain tanpa kehilangan jati dirinya. Seperti bahasa Inggris yang mampu menyerap ribuan kata serapan, bahasa Indonesia pun harus adaptif, tetapi tetap menjaga struktur dan rasa bahasanya sendiri.
Fenomena bahasa anomali menjadi pengingat bahwa anak muda haus akan bentuk ekspresi baru. Tantangannya bagaimana menjadikan bahasa Indonesia cukup fleksibel untuk menampung kreativitas, tetapi tetap kokoh sebagai pilar identitas. Pendidikan bermutu adalah jalan untuk mencapai keseimbangan ini.
Bahasa anomali di kalangan Generasi Alpha adalah fenomena yang lahir dari budaya digital cepat, algoritma yang mendorong absurditas, dan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung lewat humor. Bahasa anomali memang menghibur, tetapi juga berpotensi melemahkan kemampuan bahasa dan berpikir, terutama jika dikonsumsi tanpa pendampingan. Dampaknya terhadap bahasa Indonesia tidak bisa diabaikan. Ketika generasi muda makin jarang menggunakan bahasa nasional dalam bentuk bakunya, keterikatan emosional dan kultural terhadap bahasa tersebut ikut memudar. Dalam konteks ini, pembusukan otak (brainrot) bukan sekadar istilah lucu, tetapi tanda peringatan bahwa keseimbangan antara hiburan dan pendidikan bahasa perlu segera dijaga.
Namun, seperti banyak fenomena budaya lainnya, solusi bukanlah menghapus, tetapi mengarahkan. Bahasa anomali dapat menjadi bahan bakar kreativitas jika disandingkan dengan edukasi bahasa yang baik. Di sinilah peran literasi digital untuk selalu berjalan seiring dengan literasi bahasa. Anak-anak perlu diajarkan tidak hanya cara menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, tetapi juga cara membedakan antara hiburan dan informasi, antara bahasa sebagai lelucon dan bahasa sebagai alat berpikir.
Generasi Alpha berhak menikmati humor dan absurditas, sekaligus berhak mendapatkan keterampilan bahasa yang akan menjadi warisan mereka di masa depan. Bahasa anomali tidak harus dilihat sebagai ancaman mutlak. Dengan pendidikan yang bermutu, absurditas bisa diarahkan menjadi sarana kreativitas linguistik dan pemicu berpikir kritis. Kuncinya adalah pendampingan dari guru, orang tua, serta peran aktif kreator konten dalam membangun tren yang lebih sehat. (*)