Buka konten ini

BANGKOK (BP) – Thailand punya perdana menteri baru. Parlemen memilih Anutin Charnvirakul, pemimpin Partai Bhumjaithai berusia 58 tahun, sebagai pengganti Paetongtarn Shinawatra yang diberhentikan Mahkamah Konstitusi pekan lalu karena melanggar aturan etika.
Seperti dilansir AFP, Jumat (5/9), kemenangan Anutin tak lepas dari dukungan Partai Rakyat, oposisi progresif sekaligus kekuatan terbesar di parlemen. Adapun Bhumjaithai merupakan partai terbesar kedua dalam koalisi yang sebelumnya dipimpin Pheu Thai. Dua tahun terakhir, Anutin menjabat menteri dalam negeri.
Anutin sendiri mengklaim telah mengantongi dukungan 146 anggota parlemen. Jumlah itu dianggap cukup untuk mengamankan posisinya dalam pemungutan suara pemilihan perdana menteri.
Kisruh politik Thailand bermula dari putusan Mahkamah Konstitusi yang memberhentikan Paetongtarn, putri Thaksin Shinawatra, karena melanggar etika dalam percakapan telepon dengan mantan PM Kamboja, Hun Sen, Jumat (29/8). Setelah itu, Pheu Thai menunjuk Phumtham sebagai pengganti sementara.
Namun, langkah Phumtham justru menuai penolakan. Suratin Pichan, anggota Partai Demokrasi Baru, melaporkannya ke polisi dengan tuduhan menghina raja. Alasannya, Phumtham dianggap tidak berwenang mengajukan dekrit pembubaran parlemen lantaran hanya menjabat sebagai pemimpin sementara.
Sebelumnya, Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, telah mengajukan dekrit pembubaran parlemen kepada Raja Maha Vajiralongkorn. Langkah itu, menurut Pheu Thai, diambil untuk meredam krisis politik sekaligus membuka jalan pembentukan pemerintahan yang lebih stabil.
Dukungan Partai Rakyat untuk Anutin disertai syarat, parlemen harus dibubarkan dalam empat bulan dan digelar pemilu baru.
“Agar kekuasaan bisa segera dikembalikan kepada rakyat,” ujar Ketua Partai Rakyat, Natthaphong Ruengpanyawut, Rabu (3/9). (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO