Buka konten ini
MENTERI Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, musim panen kedua bulan depan akan semakin memperkuat pasokan beras. Jadi, bisa dipastikan masyarakat tidak perlu khawatir terkait pasokan bahan pokok tersebut.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur, stok beras dalam negeri sangat cukup, sehingga tahun ini kita tidak impor beras. Hingga Agustus ini, stok beras aman dan produksi on the track, terus meningkat,” kata Amran dalam keterangan resmi yang diterima Minggu (24/8).
Amran menambahkan, pemerintah juga menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga bagi konsumen. Harga gabah petani kini stabil di Rp6.500 per kg sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), naik dari Rp5.500 per kg sebelumnya.
“Serapan gabah oleh Bulog juga meningkat dari 3.000 ton menjadi 6.000 ton per hari,” urainya.
Menurutnya, berdasarkan data FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian), USDA (Departemen Pertanian Amerika Serikat), dan Badan Pusat Statistik, produksi beras nasional melonjak dari 30,62 juta ton pada 2024 dan diperkirakan mencapai 33,8–35,6 juta ton pada 2025. Cadangan beras pemerintah juga mencapai rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir, yakni 4,2 juta ton. Jauh melampaui stok tahun lalu yang hanya sekitar 1 juta ton.
“Dulu kita defisit stok dan terpaksa impor 7 juta ton pada 2023 dan 3–4 juta ton pada 2024,” ungkapnya.
Perbandingandengan Jepang
Amran memberi contoh yang dialami Jepang saat ini. Negeri Sakura itu mengalami lonjakan harga beras sebesar 90,7 persen pada Juli 2025.
Persentase tersebut naik drastis bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, bahkan menjadi yang tertinggi sejak 1971.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) juga melaporkan, pasar ritel modern mulai terisi kembali. Bahkan, harga beras turun sekitar Rp1.000 per kilogram. Penurunan ini didorong oleh operasi pasar Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digencarkan Perum Bulog bersama TNI/Polri dan instansi terkait.
“Saat ini, Bulog menyalurkan 6.000 ton beras SPHP per hari, dengan rencana peningkatan menjadi 7.000–10.000 ton per hari hingga akhir 2025. Total target penyaluran hingga Desember mencapai 1,3 juta ton,” jelas Amran.
Pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap praktik oplosan beras. Hasil investigasi menemukan, 212 dari 268 merek beras premium tidak sesuai standar.
“Ini sudah kami laporkan ke penegak hukum untuk ditindak tegas. Jangan ada yang memelintir seolah kami tidak peduli konsumen. Justru karena kami ingin keadilan, kami berani melawan mafia pangan,” tegas Menteri Pertanian Amran. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG